Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Dianggap Jadul, 11 Kebiasaan Boomer Ini Bikin Gen Z Risih

Adinda Salma - wolipop
Senin, 24 Agu 2026 05:30 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Boomer dan Generasi Z
Foto: Getty Images/Visivasnc
Jakarta -

Perkembangan zaman yang sangat pesat sering kali menciptakan jurang pemisah antara cara pandang generasi terdahulu dan generasi muda. Hal ini dapat memicu berbagai gesekan sosial, terutama terkait perilaku generasi Baby Boomer yang dianggap sudah ketinggalan zaman dan tidak lagi ditoleransi oleh generasi muda seperti Gen Z.

Meskipun generasi Baby Boomer menganggap sejumlah tindakan tersebut sebagai sesuatu yang wajar, dinamika sosial modern menuntut pemahaman yang lebih dalam mengenai batasan dan rasa hormat antargenerasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa kesenjangan antargenerasi ini bisa terjadi? Gen Z tumbuh di era digital yang sangat menghargai inklusivitas, kesehatan mental, serta komunikasi yang cepat dan efisien. Sementara itu, generasi Baby Boomer dibentuk oleh pola asuh masa lalu yang menuntut ketangguhan dan kepatuhan terhadap norma-norma tradisional.

Berikut beberapa perilaku generasi Boomer yang dinilai ketinggalan zaman oleh Gen Z:

1. Berdebat dan Memarahi Pekerja Layanan

Lebih dari 70% generasi Baby Boomer menganggap diri mereka lebih unggul dalam hal keandalan dan loyalitas dibandingkan Generasi Z. Berpegang teguh pada nilai kerja keras tersebut, mereka kerap menilai generasi di bawahnya kurang dapat diandalkan berdasarkan standar yang mereka anut.

ADVERTISEMENT

Generasi Boomer juga masih sering memegang prinsip lama bahwa "pembeli adalah raja" tanpa batas. Pendekatan yang kasar terhadap pekerja layanan kini dianggap tidak pantas oleh Gen Z yang lebih memprioritaskan empati dan perlakuan yang manusiawi terhadap pekerja jasa.

2. Melanggar Batasan dalam Pekerjaan

Generasi Baby Boomer tumbuh dengan berbagai prinsip budaya kerja keras yang mereka terapkan sejak awal kehidupan dan karier. Namun, prinsip tersebut belum tentu memberikan hasil yang sama bagi generasi yang lebih muda.

Gen Z lebih menghargai makna pekerjaan serta keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dibandingkan menjadikan karier sebagai pusat kehidupan. Bekerja tanpa mengenal waktu yang dulu dianggap sebagai bentuk loyalitas kini tidak selalu dipandang demikian oleh para profesional muda.

Menurut pakar karier, Gen Z tidak lagi melihat pekerjaan sebagai keseluruhan identitas diri dan lebih memilih menjaga keseimbangan hidup.

3. Membuat Lelucon Kasar dengan Dalih Bercanda

Perbedaan gaya bahasa antara Gen Z dan Baby Boomer merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari. Meski begitu, perbedaan tersebut terkadang dapat memicu ketidaknyamanan hingga ketegangan dalam situasi sosial tertentu.

Lelucon yang menggunakan stereotip gender, kondisi fisik, atau kelompok tertentu semakin sulit diterima oleh anak muda masa kini. Gen Z cenderung menganggap humor semacam itu sebagai bentuk ketidaksopanan yang tidak sensitif terhadap isu sosial.

4. Mampir ke Rumah Tanpa Pemberitahuan

Generasi Baby Boomer sangat mengutamakan nilai kekeluargaan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, mereka memiliki sejumlah kebiasaan yang dianggap sebagai cara untuk menjaga hubungan erat dengan keluarga maupun teman.

Kebiasaan berkunjung secara mendadak mungkin dianggap sebagai simbol keakraban bagi sebagian generasi Baby Boomer. Namun, bagi Gen Z, tindakan tersebut dapat dianggap mengganggu privasi dan membuat mereka merasa tidak nyaman.

5. Memberikan Nasihat Tanpa Diminta

Generasi Baby Boomer sering memberikan nasihat tanpa diminta yang justru dapat membuat Gen Z merasa canggung meskipun niatnya baik. Hal ini terjadi karena saran tersebut umumnya didasarkan pada pengalaman masa lalu yang belum tentu relevan dengan kondisi saat ini.

Niat baik orang tua dalam memberikan saran terkadang justru berujung pada rasa risih. Menurut terapis pernikahan dan keluarga berlisensi Sarah Epstein, nasihat yang tidak diminta dapat menjadi salah satu pemicu ketegangan dalam hubungan antargenerasi.

Kebiasaan Boomer yang Bikin Gen Z Risih

Suspicious asian woman checking phone content in the kitchen at home

Foto: Getty Images/AntonioGuillem

6. Menelepon Secara Mendadak

Bagi sebagian Boomer, menelepon merupakan cara berkomunikasi yang paling langsung dan cepat sehingga kerap menjadi pilihan utama.

Sementara itu, banyak Gen Z lebih menyukai pesan teks karena dapat memberikan waktu untuk mempersiapkan respons. Panggilan telepon yang datang secara tiba-tiba bahkan dapat membuat sebagian anak muda merasa cemas atau tidak nyaman.

7. Menyalahkan Orang Lain atas Kondisi Finansial Mereka

Sebagian generasi Baby Boomer menganggap masyarakat berpenghasilan rendah mengalami kesulitan karena pilihan mereka sendiri. Pandangan tersebut muncul dari keyakinan bahwa kerja keras merupakan salah satu kunci utama kesuksesan.

Namun, Gen Z melihat bahwa kerja keras saja tidak selalu menjamin keberhasilan seseorang. Kondisi ekonomi, harga properti, biaya hidup, serta berbagai faktor sosial juga turut memengaruhi kemampuan seseorang dalam mencapai kestabilan finansial.

Sikap mengkritik generasi muda yang belum memiliki rumah atau tabungan pun dapat menimbulkan kekecewaan. Salah satu perilaku yang dianggap ketinggalan zaman adalah menyamakan kondisi ekonomi masa lalu dengan situasi yang dihadapi generasi muda saat ini.

8. Bersikap Acuh terhadap Kesehatan Mental

Generasi Baby Boomer tumbuh pada masa ketika gangguan emosional dan masalah kesehatan mental masih kerap dianggap tabu. Kini, Generasi Z justru aktif mendobrak stigma tersebut dan lebih terbuka membicarakan kesehatan mental.

Kalimat seperti "kurang bersyukur" terkadang diucapkan ketika merespons keluhan anak muda mengenai stres atau tekanan hidup. Pandangan tersebut berbenturan dengan kesadaran Gen Z yang semakin peduli terhadap isu kesehatan mental.

Kebiasaan Boomer yang Bikin Gen Z Risih

Emoji jempol

Foto: Emojipedia

9. Menggunakan Kalimat "Waktu Saya Dulu Seusiamu..."

Generasi Baby Boomer sering memberikan nasihat kepada Generasi Z dengan membandingkan pengalaman mereka di masa lalu. Meskipun bermaksud baik, pendekatan tersebut justru dapat membuat kaum muda merasa tidak didengarkan.

Membandingkan perjuangan masa lalu dengan tantangan yang dihadapi generasi sekarang dianggap tidak selalu relevan. Kalimat seperti "waktu saya dulu seusiamu..." dapat membuat Gen Z merasa masalah yang mereka hadapi sedang diremehkan.

10. Memakai Emoji Jempol

Bagi generasi Baby Boomer, etika dalam pesan singkat mungkin terdengar sepele. Namun, bagi Generasi Z, kebiasaan sederhana seperti mengirim emoji jempol justru dapat terasa canggung atau bahkan menyinggung dalam konteks tertentu.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One menemukan bahwa cara seseorang berkomunikasi secara digital dapat memengaruhi persepsi emosional penerimanya.

11. Menerapkan Aturan Berpakaian Kantor yang Terlalu Kaku

Aturan berpakaian formal yang ketat kini mulai ditinggalkan di sejumlah lingkungan kerja modern. Gen Z cenderung menyukai kebebasan berekspresi dan kenyamanan dalam berpakaian selama tetap terlihat profesional.

Menjembatani perbedaan pandangan ini membutuhkan kompromi serta komunikasi terbuka dari kedua belah pihak. Memahami batasan dan kebiasaan masing-masing generasi dapat membantu menciptakan lingkungan sosial maupun kerja yang lebih harmonis.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads