Curhatan Sedih Pria Lewatkan Momen Terakhir Ayahnya karena Ditahan Manajer

Rahmi Anjani - wolipop Sabtu, 31 Okt 2020 14:12 WIB
Color portrait of a young man in a shirt and black tie, upset, hands on his face, against plain studio background. Foto: Dok. iStock
Jakarta -

Seorang pria asal Singapura menceritakan kisah sedihnya terkait kepergian sang ayah. Pria bernama Syed Ahmad Sabar Aljoofri tersebut menulis di Facebook bahwa ia melewatkan momen terakhir ayahnya sebelum meninggal. Yang membuatnya menyesal adalah itu terjadi karena ditahan manajer untuk tidak meninggalkan kantor.

Dalam postingannya, Syed Ahmad mengaku sedang menggantikan pekerjaan rekannya saat sang ayah sedang dirawat. Pukul 9:40, ia mendapat telepon dari dokter yang mengabarkan kondisi ayahnya diprediksi sudah tidak bertahan lama. Tapi sayangnya, manajer Syed Ahmad menolak bawahannya itu pulang sebelum pukul 16:00 tapi kemudian berkompromi bahwa ia bisa ke rumah sakit satu jam kemudian.

Pada 10:30, Syed Ahmad dikabari lagi oleh dokter bahwa ayahnya sudah dipasang alat bantu pernapasan dan diminta segera ke rumah sakit. Saat itu lah ia memohon untuk dibolehkan ke rumah sakit tapi manajer tersebut kembali menahannya.

"Aku menginformasikan pada OM (Operation Manager) bahwa aku harus buru-buru ke rumah sakit dan ibuku sedang menuju ke sana dan menantikan kehadiranku tapi lagi-lagi dia bersikeras aku harus tinggal untuk sejam lagi untuk alasan yang sama yang dikatakan sebelumnya,"

"Sejam setelahnya pada 11:30 untuk ketiga dan terakhir kalinya, aku mengatakan pada OM bahkan memohon padanya aku harus pulang dan ibuku sudah sampai rumah sakit dan menungguku tapi aku mendapat respon yang tidak diinginkan yaitu, 'Tapi aku pikir ibumu tidak peduli dengan keadaan ayahmu'" cerita pria tersebut.

Singkat cerita, akhirnya Syed Ahmad dibolehkan pulang tapi selagi ia menuju rumah sakit, ia dikabarkan bahwa sang ayah sudah meninggal. "Mendengar itu aku jatuh dan menangis sampai perutku sakit dan bukan karena ayahku sudah tidak ada karena dia sudah sering bilang dia tahu dia tidak akan bertahan lama, dia sudah bersiap menghadapi kematian,"

"Tapi karena dia meninggal tanpa siapa pun di sisinya dan yang lebih parah aku tidak bisa membisikkan kata-kata terakhir dan doa di telinganya dan berada di sampingnya di saat-saat terakhirnya. Aku sudah berjanji melakukannya,"

"Bahkan membisikkan kata-kata dan doa terakhirku padanya adalah keinginan terakhirnya yang mana ia ingin sekali terwujudkan dan dia terus saja mengingatkan hal itu dan mendorongku melakukannya bahkan sebelum kondisi kesehatannya jadi kritis," tulis Syed Ahmad.

Tak lama setelah itu, Syed Ahmad dikeluarkan dari pekerjaannya. "Tapi apa yang membuatku kesal adalah OM tidak membiarkanku cepat-cepat ke rumah sakit setelah diminta dokter untuk menyaksikan ayahku meninggal dan mengucapkan kata dan doa terakhir. Sampai hari ini, aku tidak bisa dan tidak akan memaafkan OM-ku dengan apa yang tidak secara langsung terjadi pada ayahku," tutupnya pada postingan yang disukai 938 kali dan dikomentari 265 kali itu.

(ami/ami)