Kisah Miris Siswi Bunuh Diri karena Khawatir Tidak Bisa Ikut Sekolah Online

Vina Oktiani - wolipop Jumat, 12 Jun 2020 15:49 WIB
Group of multi-ethnic five little kids children African American, asian and Caucasian happiness together with friend to draw colour pencil to full colour of picture in living room or class room Foto: iStock
Jakarta -

Sejak kegiatan isolasi diri banyak diberlakukan oleh negara-negara dunia untuk memutus rantai penularan COVID-19, masyarakat pun tidak lagi dapat melakukan aktivitas sebebas sedia kala, tak terkecuali para pelajar. Para pelajar yang masih menuntut ilmu terpaksa harus mengikuti kelas secara online. Namun hal itu bisa menyulitkan bagi beberapa orang, terutama orang-orang yang kurang mampu.

Seperti dikutip dari Al-Jazeera, seorang siswi dari Kerala, India memutuskan melakukan tindakan kontroversial yaitu mengakhiri hidupnya setelah dia merasa depresi karena khawatir tidak bisa mengikuti kelas online. Siswi berusia 14 tahun itu tidak memiliki TV ataupun ponsel yang bisa ia gunakan untuk menghadiri kelas onlinenya.

Siswi yang tidak disebutkan namanya itu dikabarkan menghilang dari rumahnya pada tanggal 1 Juni, lalu sekitar pukul 15.30 ditemukan meninggal di tempat sepi dekat rumahnya. Saat ditemukan, tubuhnya sudah hangus terbakar. Polisi juga menemukan sebotol minyak tanah kosong yang diduga digunakan oleh siswi malang itu untuk membakar dirinya sendiri.

Ayah dari siswi itu mengatakan bahwa mereka memang memiliki TV di rumah yang tidak berfungsi. Semenjak isolasi diri pandemi Corona, sang ayah hampir tidak memiliki penghasilan sehingga tidak dapat membelikan anaknya ponsel ataupun TV baru untuk mengikuti kelas onlinenya.

"Dia mengatakan kepada saya bahwa itu perlu diperbaiki tetapi saya tidak bisa menyelesaikannya. Saya juga tidak mampu membeli ponsel. Saya tidak tahu mengapa dia melakukan ini. Saya bilang kita bisa melihat pilihan lain, seperti pergi ke rumah teman," kata ayah dari siswi itu seperti dikutip NDTV.

Kabarnya sang ibu dari anak malang itu beberapa minggu sebelumnya juga baru saja melahirkan, sehingga beban keuangan keluarga ini semakin meningkat.

Stres dan depresi yang dialami siswi di India tersebut memang dapat menyebabkan kegelisahan dan pikiran menjadi tidak tenang. Tentu saja itu sangat berdampak bagi kesehatan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghilangkan stres yang dialami, seperti dengan menghindari hal-hal yang mengundang kepanikan, berkonsultasi dengan orang-orang yang kamu percaya, mengisi waktu dengan hal positif, atau menulis jurnal sebelum tidur.

Menurut Michael J. Breus, Ph.D., seorang psikolog, ritual menulis jurnal dapat dilakukan setiap sebelum tidur atau saat pikiran terasa jenuh. Saat melampiaskan semua kegelisahan yang dirasakan, pastikan juga menulis saran atau solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi itu.

Alex Lickerman, M.D. juga menyarankan seseorang yang merasa depresi apalagi sampai memiliki perasaan ingin bunuh diri sebaiknya tidak memendam perasaannya sendiri. Menurutnya, depresi bisa disembuhkan dengan adanya perhatian dari keluarga dan sahabat terdekat. Jadi ketika ada seseorang yang terlihat tertekan, janganlah mengabaikannya. Cobalah untuk mengajaknya berbicara atau curhat, karena sebenarnya orang yang depresi memerlukan seseorang untuk diajak bicara dari hati ke hati.

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila kamu, pembaca, merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan kamu ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.



Simak Video "5 Tips Aman ala dr Reisa agar Terhindar COVID-19 Saat Terima Paket"
[Gambas:Video 20detik]
(vio/eny)