Menguak Bisnis Influencer

Influencer Jadi Profesi Menjanjikan, Tak Lagi Dianggap Kerja 'Iseng-iseng'

Hestianingsih - wolipop Jumat, 26 Apr 2019 14:41 WIB
Tasya Farasya, beauty influencer populer Indonesia. Foto: Instagram Tasya Farasya, beauty influencer populer Indonesia. Foto: Instagram

Jakarta - Influencer kini tidak bisa lagi dianggap sebagai profesi 'iseng-iseng' atau sekadar untuk menyalurkan hobi saja. Seiring semakin bertambahnya pengguna internet dan popularitas media sosial seperti YouTube dan Instagram yang makin meningkat, prospek influencer sebagai pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan pun lebih menjanjikan.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan ada ratusan ribu influencer yang tersebar di berbagai kota besar. Bertambahnya jumlah influencer baru setiap tahunnya dibarengi dengan permintaan beriklan di dunia digital yang juga semakin tinggi.

Kehadiran influencer kemudian memunculkan lahan pekerjaan baru. Mereka yang jeli melihat kesempatan untuk mengembangkan bisnis di dunia digital membentuk sebuah agensi atau manajemen yang khusus menyalurkan para influencer untuk keperluan marketing atau periklanan. Dua di antaranya adalah Gushcloud dan MADE Entertainment.


Influencer Jadi Profesi Menjanjikan, Tak Lagi Dianggap Kerja 'Iseng-iseng'Jennifer Bachdim, lifestyle dan parenting influencer. Foto: Dok. Instagram
Dua perusahaan ini menaungi sejumlah influencer dan artis muda, juga beberapa selebriti yang terjun di dunia digital dan influencer marketing. Berdiri sejak 2011, Gushcloud melihat tren influencer marketing tidak akan mereda sampai tiga tahun ke depan, bahkan hingga tahun-tahun berikutnya.

"Sampai saat ini dari 100 persen marketing spending oleh brand, mereka sudah banyak spending sekitar 60 persen di digital. Bisa saya bilang dari 60 persen itu 20-30 persennya mereka sudah spending ke influencer marketing," kata Director of Marketing Gushcloud Indonesia Edo Oktorano Erhan, saat berbincang dengan Wolipop di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Edo juga menambahkan bahwa influencer marketing masih akan banyak peminatnya dalam jangka panjang. Sebab beberapa brand sudah mulai melihat influencer sebagai media beriklan yang cukup efektif.
Salah satu kekuatan influencer di media sosial adalah kedekatan mereka dengan para follower-nya. Bagaimana seorang influencer memberi pengaruh terhadap audiens lewat konten-konten Instagram atau YouTube, itulah yang menjadikan mereka memiliki daya tarik tersendiri di dunia marketing.

"Mereka sadar bahwa kita harus meraih audiens melalui cara yang lebih organik, lebih genuine. Saya bisa bilang sampai tiga tahun ke depan akan sangat-sangat bagus (influencer marketing)," jelas Edo.

Pasar influencer marketing saat ini juga cukup menjanjikan dengan perolehan yang cukup fantastis. Edo mengungkapkan, market yang didapat dari influencer marketing bisa mencapai nilai miliaran rupiah dalam setahun.

Influencer Jadi Profesi Menjanjikan, Tak Lagi Dianggap Kerja 'Iseng-iseng'Michelle Phan, beauty influencer. Foto: Dok. Instagram
"Saya baru hitung hanya dari tiga pemain influencer marketing besar, sudah bisa mendapatkan market lebih dari Rp 300 miliar. Belum dihitung dari agensi dan pemain influencer marketing lainnya (yang lebih kecil) yang hanya mendapatkan market Rp 1-2 miliar dalam setahun," terangnya.

Namun Edo tak memungkiri tren influencer marketing suatu saat juga bisa mengalami penurunan. Di sinilah menurutnya, agensi dan manajemen talent memegang peranan penting untuk menjadikan profesi influencer bertahan lebih lama.

"Influencer marketing nggak melulu soal nunggu bujet dari brand untuk ketemu mereka dan membuat konten. Tapi kami juga bisa bantu mereka bikin uang sendiri. Beberapa influencer yang sudah punya market, bisa jadi brand, kemudian kita bantu untuk create something. Supaya ketika pasarnya tidak lagi sustain, mereka punya sesuatu yang sudah bisa dikerjakan dan bertahan di industrinya," pungkas Edo. (hst/hst)