Pasar Pustaka, Potret Anak-anak Kurang Beruntung yang Semangat Belajar
Daniel Ngantung - wolipop
Sabtu, 14 Okt 2017 10:05 WIB
Jakarta
-
Di tengah hiruk pikuk Pasar Karombasan, Manado, Sulawesi Utara, terdapat Pasar Pustaka yang menjadi tempat bagi anak-anak pedagang setempat untuk belajar gratis.
Pasar Pustaka merupakan inisiasi Tria Divinity Malengsang, mahasiswi semester 7 Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi Manado.
Setiap Selasa dan Kamis, selama tiga jam dari pukul 14.00, perempuan 21 tahun asal Talaud itu meluangkan waktunya untuk mengajarkan anak-anak di sana Bahasa Inggris secara sukarela.
Pasar Pustaka juga menjadi taman baca bagi anak-anak. Tersedia sekitar 600 buku bacaan yang merupakan hasil donasi.
Sejak berdiri April lalu, Pasar Pustaka telah memiliki sekitar 30 murid, usia lima hingga belasan tahun. Ada yang sekolah, namun tak sedikit pula yang putus sekolah.
Bagi Tria, misi sosialnya yang didukung oleh program Putri Sulamit itu bagai pedang bermata dua. Bukan hanya anak-anak yang mendapatkan pengetahuan baru, Tria sendiri pun belajar dari para muridnya tentang semangat untuk terus belajar terlepas dari keterbatasan hidup.
Wowo adalah salah satunya. Tria menuturkan, Wowo sebetulnya bukan nama asli bocah 7 tahun itu. Dalam Bahasa Minahasa, Wowo adalah sebutan untuk orang yang bisu atau tunawicara.
"Dia memang nggak bisa ngomong, tapi punya semangat belajar. Terlihat dari kesukaannya untuk membaca. Kalau mau baca buku, Wowo minta tolong saya mengambilkannya dengan menunjuk-nunjuk buku yang dimaksud," ungkap Tria saat ditemui Wolipop di Pasar Pustaka, Kamis (12/10/2017).
Wowo, lanjut Tria, juga tetap semangat belajar meski sering diejek anak-anak di Pasar Pustaka. Selain menegur dan memberi pengertian kepada para bully, bungsu dari dua bersaudara itu juga selalu menempatkan Wowo di barisan depan supaya lebih mudah berkonsentrasi.
"Sayang, sampai saat ini aku belum sempat bertemu orangtuanya. Aku mau bilang, Wowo sangat menginspirasiku. Anak mereka punya kemauan untuk belajar jadi harus terus dimotivasi," ujar Juara Harapan 1 ajang Noni Sulawesi Utara 2015 ini.
Lain lagi dengan Isra, murid perempuan yang disebut Tria nakalnya melebihi dua bocah lelaki. Berasal dari keluarga broken-home dan putus sekolah, Isra mengisi hari-harinya memungut botol bekas dengan imbalan Rp 10.000 untuk 100 botol. Uang tersebut lalu Isra gunakan untuk bermain di rental Play Station yang didominasi oleh anak laki-laki.
Tria khawatir, Isra akan terpengaruh pergaulan yang buruk apalagi tanpa pengawasan orangtua.
"Aku bilang ke dia, daripada buat rental PS, mending uangnya ditabung buat membeli barang yang lebih penting seperti baju atau buku. Akhirnya, Isra lebih memilih menyisikan penghasilannya untuk ditabung," cerita Tria.
Murid-murid Pasar Pustaka memang datang dari latar belakang yang berbeda sehingga Tria harus ekstra sabar saat mengajar mereka.
Selain itu, Tria juga menerapkan teknik belajar sambil bermain dan bernyanyi agar mereka tidak cepat bosan. "Dibawa fun aja," kata putri dari Maria Pangemanan dan Hendrik Malengsang ini.
Beruntung, mereka sangat menyukai pelajaran yang dibawakan Tria. Bahkan banyak murid meminta Tria untuk mengajar setiap hari.
Di Pasar Pustaka, Tria juga dibantu oleh Bunda Dede, seorang guru sukarelawan, yang mengajar materi di luar Bahasa Inggris.
Melihat para muridnya semangat belajar, Tria pun termotivasi untuk terus memberikan yang terbaik demi pendidikan mereka.
Bau pasar yang tak sedap serta tindakan kriminal yang kerap terjadi di lingkungan pasar, tak menghalangi Tria untuk mengajar di Pasar Pustaka. "Yang penting mereka bisa belajar seperti anak-anak lainnya serta tumbuh jadi generasi penerus bangsa yang pintar," kata Tria yang terinspirasi oleh ibunya yang adalah seorang guru.
(dng/ami)
Pasar Pustaka merupakan inisiasi Tria Divinity Malengsang, mahasiswi semester 7 Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi Manado.
Setiap Selasa dan Kamis, selama tiga jam dari pukul 14.00, perempuan 21 tahun asal Talaud itu meluangkan waktunya untuk mengajarkan anak-anak di sana Bahasa Inggris secara sukarela.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak berdiri April lalu, Pasar Pustaka telah memiliki sekitar 30 murid, usia lima hingga belasan tahun. Ada yang sekolah, namun tak sedikit pula yang putus sekolah.
Foto: Daniel Ngantung/Wolipop |
Wowo adalah salah satunya. Tria menuturkan, Wowo sebetulnya bukan nama asli bocah 7 tahun itu. Dalam Bahasa Minahasa, Wowo adalah sebutan untuk orang yang bisu atau tunawicara.
"Dia memang nggak bisa ngomong, tapi punya semangat belajar. Terlihat dari kesukaannya untuk membaca. Kalau mau baca buku, Wowo minta tolong saya mengambilkannya dengan menunjuk-nunjuk buku yang dimaksud," ungkap Tria saat ditemui Wolipop di Pasar Pustaka, Kamis (12/10/2017).
Wowo, lanjut Tria, juga tetap semangat belajar meski sering diejek anak-anak di Pasar Pustaka. Selain menegur dan memberi pengertian kepada para bully, bungsu dari dua bersaudara itu juga selalu menempatkan Wowo di barisan depan supaya lebih mudah berkonsentrasi.
"Sayang, sampai saat ini aku belum sempat bertemu orangtuanya. Aku mau bilang, Wowo sangat menginspirasiku. Anak mereka punya kemauan untuk belajar jadi harus terus dimotivasi," ujar Juara Harapan 1 ajang Noni Sulawesi Utara 2015 ini.
Lain lagi dengan Isra, murid perempuan yang disebut Tria nakalnya melebihi dua bocah lelaki. Berasal dari keluarga broken-home dan putus sekolah, Isra mengisi hari-harinya memungut botol bekas dengan imbalan Rp 10.000 untuk 100 botol. Uang tersebut lalu Isra gunakan untuk bermain di rental Play Station yang didominasi oleh anak laki-laki.
Foto: Daniel Ngantung/Wolipop |
"Aku bilang ke dia, daripada buat rental PS, mending uangnya ditabung buat membeli barang yang lebih penting seperti baju atau buku. Akhirnya, Isra lebih memilih menyisikan penghasilannya untuk ditabung," cerita Tria.
Murid-murid Pasar Pustaka memang datang dari latar belakang yang berbeda sehingga Tria harus ekstra sabar saat mengajar mereka.
Selain itu, Tria juga menerapkan teknik belajar sambil bermain dan bernyanyi agar mereka tidak cepat bosan. "Dibawa fun aja," kata putri dari Maria Pangemanan dan Hendrik Malengsang ini.
Beruntung, mereka sangat menyukai pelajaran yang dibawakan Tria. Bahkan banyak murid meminta Tria untuk mengajar setiap hari.
Foto: Daniel Ngantung/Wolipop |
Melihat para muridnya semangat belajar, Tria pun termotivasi untuk terus memberikan yang terbaik demi pendidikan mereka.
Bau pasar yang tak sedap serta tindakan kriminal yang kerap terjadi di lingkungan pasar, tak menghalangi Tria untuk mengajar di Pasar Pustaka. "Yang penting mereka bisa belajar seperti anak-anak lainnya serta tumbuh jadi generasi penerus bangsa yang pintar," kata Tria yang terinspirasi oleh ibunya yang adalah seorang guru.
(dng/ami)
Fashion
Ingin Tampil Feminin dan Lebih Stylish dengan Bawahan Rok? Cek Koleksi Menariknya di Sini!
Fashion
Pilihan Aksesori Simpel yang Bikin Gaya Kamu Terlihat Lebih Keren
Fashion
Cari Dompet Kulit Awet Biar Bisa Dipakai Lama? Produk dari ROUNN Ini Bisa Jadi Jawabannya
Health & Beauty
Dua Serum PDRN Favorit Banyak Orang, Fokus Regenerasi dan Hidrasi Kulit!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
7 Keuntungan Menjadi Perawat Home Care Dibanding Perawat Rumah Sakit
Mengenal Manfaat Lanyard Id Card dan Rekomendasi Tempat Memesannya
Motivasi Kerja Mulai Pudar? Bangkitkan Lagi dengan 5 Langkah Ini
Mooryati Soedibyo, Pionir Jamu dan Kosmetik Tradisional di Indonesia
Petinju Wanita Nangis Setelah Dipukul 278 Kali, Netizen Salut Semangatnya
Most Popular
1
7 Potret Ratu Kecantikan yang Kerja Paruh Waktu Jadi SPG Dior
2
TikTok Viral Verificator
Nyesek! Viral Curhat Wanita Setia 7 Tahun, Temani dari Nol Gagal ke Pelaminan
3
Ramalan Zodiak 6 Januari: Libra Tetap Sabar, Sagitarius Kontrol Pengeluaran
4
Ramalan Zodiak 6 Januari: Cancer Jangan Terburu-buru, Virgo Lebih Tegas
5
5 Tren Sepatu 2026 yang Bakal Booming, Terinspirasi Runway Dunia
MOST COMMENTED












































Foto: Daniel Ngantung/Wolipop
Foto: Daniel Ngantung/Wolipop
Foto: Daniel Ngantung/Wolipop