Benarkah Wanita yang Jadi Ilmuwan Akan Sulit Menikah?

Arina Yulistara - wolipop Jumat, 04 Des 2015 13:42 WIB
Dok. Thinkstock
Jakarta - Berdasarkan data pemerintah, angka ketertarikan wanita yang ingin menjadi peneliti turun dari 6% menjadi 3% sejak 2010. Banyak wanita yang tidak tertarik menjadi peneliti karena menganggap bahwa mereka tak akan bisa memiliki kehidupan percintaan yang bahagia.

Menurut survei yang dilakukan oleh tim brand kecantikan L'Oreal, banyak wanita Indonesia yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tapi sangat sedikit dari mereka yang memilih karier di bidang penelitian. Hal itu disebabkan oleh stereotipe yang menganggap kalau seorang peneliti wanita tidak akan bisa mengurus rumah tangganya dengan baik karena aktivitas penelitian yang tak bisa ditinggalkan. Benarkah anggapan tersebut?

Sastia Prama Putri, Ph.D, salah satu peneliti Indonesia yang baru saja mendapatkan penghargaan dari L'Oreal melalui program tahunannya L'Oreal-UNESCO For Women in Science (FWIS), dengan tegas mengatakan bahwa hal itu hanya mitos belaka. Menurut wanita yang suka meneliti bahan-bahan pangan seperti tempe hingga kopi luwak itu, bekerja sebagai peneliti juga bisa memiliki kehidupan percintaan yang bahagia.

Seperti dirinya yang telah menikah dan mempunyai seorang anak perempuan. Bahkan wanita 33 tahun ini tetap bisa mengatur waktu di akhir pekan untuk berkumpul bersama suami dan anak tercinta.

"Saya tetaplah seorang ibu, jadi untuk perempuan Indonesia jangan berpikir membatasi potensi diri sebagai perempuan peneliti karena kita tetap bisa memperhatikan keluarga dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Aku biasanya Sabtu dan Minggu libur aku habiskan waktu untuk anakku. Walaupun terkadang kalau dia tidur aku kembali kerja," ujar Sastia saat diwawancarai Wolipop di Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2015).

Baca juga: 50 Foto Before-After Selebriti yang Operasi Plastik

Sastia yang tak hanya bekerja sebagai peneliti di Indonesia tapi juga Jepang itu menuturkan kalau ia tetap bisa mengatur waktu sebaik mungkin. Ia mengatakan sering mengajak si kecil dan ibundanya ketika menghadiri conference atau seminar tertentu agar selalu dekat dengan keluarga.

Hal tersebut juga diakui oleh peneliti wanita lainnya, Kiky Corneliasari Sembiring, M.Eng. Wanita yang kini sedang melakukan pengujian terhadap hidrogen untuk bahan bakar alat transportasi agar tidak lagi menggunakan karbondioksida itu mengatakan ia memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia.

Kiky mengatakan suami sangat mendukung aktivitasnya sebagai peneliti. Meski disibukkan dengan segala macam proyek penelitian tapi Kiky tetap bisa menyeimbangkan waktu antara pekerjaan dan keluarga. Bahkan ia tidak memiliki asisten rumah tangga sehingga mulai dari masak, membersihkan rumah, hingga mengurus anak dilakukannya sendiri.

"Kita nggak punya pembantu tapi aku masih bisa mengurus tiga anak. Di rumah juga masak tapi tetap masih bisa berprestasi sebagai peneliti. Kalau kerja lagi capek atau stres pilih main sama anak untuk mengurangkan beban pikiran. Sebenarnya antara pekerjaan sebagai peneliti dan keluarga tetap bisa berjalan selaras asal bisa mengatur waktu yang baik," ungkap Kiky.

Di akhir perbincangan, Sastia menyarankan kepada para wanita Indonesia agar jangan takut menjadi seorang peneliti. Menurutnya, bekerja sebagai peneliti itu sangat menyenangkan karena bisa memecah rasa penasaran yang terkait lingkungan sekitar.

"Ilmu life science itu sangat dekat dengan kita dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan banyak orang mengenai sesuatu yang terkait kehidupan kita. Dengan jadi peneliti kita juga bisa meningkatkan kehidupan sehari-hari kita saat bisa mengeluarkan inovasi baru. Kalau dibandingkan profesi lain, wanita yang menyukai sains memang minoritas tapi jangan anggap kita seperti dikucilkan justru kita itu eksklusif," tutupnya.

(aln/aln)