Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Cerita Firly Savitri Mengenai Diskriminasi Terhadap Ilmuwan Wanita

Rahmi Anjani - wolipop
Jumat, 13 Nov 2015 16:21 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Rahmi Anjani/Wolipop
Jakarta -

Firly Savitri sering memberikan program edukasi sains kepada anak-anak melalui lembaganya, Ilmuwan Muda Indonesia (IMI). Hal tersebut dilakukannya dengan misi memperbanyak jumlah ilmuwan di Tanah Air. Profesi dalam bidang sains memang kurang diminati karena dianggap kurang menghasilkan dan sulit dipahami. Terlebih untuk wanita yang paling jarang menggemari sains sehingga masih perlu banyak dukungan.

Menurut Firly, kebanyakan wanita memang kurang menyukai sains. Hal tersebut dikarenakan kebiasaan masa kecil. Wanita 34 tahun itu mengatakan jika anak lelaki biasanya lebih banyak dan senang bermain dengan eksplorasi, misalnya camping. Sementara aktivitas seperti itu jarang ditemukan dalam permainan khas wanita, seperti main boneka atau masak-masakan. Itulah yang membuat ilmuwan wanita tidak terlalu banyak.

Lalu mengapa Firly menyukai sains sampai pernah berprofesi sebagai ilmuwan? "Karena waktu saya kecil saya kerjaannya ngumpulin kliping tentang astronomi. Bagi saya aneh ada benda menggantung di angkasa luar yang besarnya bisa melebihi bumi. Ketika saya sekolah di luar negeri dan tidak bisa bahasa inggris, cuma matematika yang nilainya bagus sekali karena matematika adalah bahasa universal," ungkap Firly ketika ditemui sesuai konferensi pers Lunar Dream Project Pocari Sweat beberapa waktu lalu di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai seorang ilmuwan di bidang psikologi IPA, Firly pun menyadari bahwa masih ada kesenjangan jumlah antara ilmuwan wanita dan pria. Hal tersebut bahkan menjadi sebuah isu internasional yang tengah gencar dikampanyekan. Selain belum banyak, ilmuwan wanita juga kerap mendapatkan diskriminasi dalam hal pendapatan dan kemampuan.

"Kalau di internasional, gaji ilmuwan wanita lebih rendah dari pada pria. Lalu masih ada anggapan dari pria yang merasa bahwa wanita kurang pintar, bahwa laki-laki lebih unggul dari pada perempuan," kata Firly.

Meski begitu, fakta menarik terjadi di Indonesia. Walau profesi ilmuwan di Tanah Air tetap lebih banyak diminati pria namun jumlah wanitanya tidak terlalu sedikit. Menurut Firly, hal tersebut dikarenakan peran wanita yang jarang dianggap sebagai pemberi nafkah utama dalam keluarga. Jadi walau pekerjaan ini tidak terlalu menghasilkan, mereka masih mau masuk ke dalam industri sains.

Selama bertahun-tahun bergerak di bidang ini, Firly tidak menemukan kesulitan berarti sebagai wanita. Namun ia menghadapi banyak tantangan dalam mencari sponsor untuk program edukasi sains-nya. Menurutnya, banyak orang Indonesia yang memandang sebelah mata terhadap sains, terlebih astronomi.

"Tantangan terberat adalah mereka tidak menganggap sains itu penting. Kalau saya cari sponsorship dengan perusahaan atau instansi, pertanyaannya adalah, 'kenapa astronomi? Itu bukan orang indonesia banget'. Makanya di 2016, IMI akan masuk ke cabang biologi kelautan yang Indonesia banget." ungkap wanita yang akan memberi program edukasi sains pada anak SD di Malaysia Desember mendatang itu.

(ami/ami)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads