Uji Mental di Sekolah Kepribadian
Ini Cerita Para Murid Sekolah Kepribadian, Sukseskah Mereka Mengubah Diri?
Sekolah kepribadian menjadi salah satu lembaga pendidikan non formal untuk mengembangkan diri dan mengasah keahlian para muridnya. Di sana, mereka akan diajarkan bagaimana caranya memunculkan karakter diri dengan mengasah potensi serta keahlian yang dimilikinya. Sekolah kepribadian juga bisa mengubah seseorang yang tadinya pemalu, menjadi sosok yang percaya diri.
Hal ini dialami oleh Devina Hardiyanti, salah seorang murid sekolah kepribadian Duta Bangsa. Saat berbincang-bincang dengan Wolipop, gadis yang akrab disapa Devi ini mengaku adalah orang yang pemalu dan sulit untuk berinteraksi di depan banyak orang. Maka dari itu, ia sengaja mendaftarkan diri di sekolah kepribadian untuk mengatasi rasa tidak percaya diri tersebut.
"Kata teman-temanku, kalau aku berbicara suaranya pasti kecil. Kalau tampil di depan banyak orang atau lagi presentasi nggak percaya diri karena malu. Makanya aku ikut sekolah kepribadian," tuturnya pada Wolipop di Duta Bangsa, Menara Bank Mega Syariah, Kuningan, Jakarta Selatan, (31/10/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama lima kali mengikuti sekolah kepribadian, gadis kelahiran 1996 itu merasa banyak ilmu-ilmu baru yang didapatnya, terutama tentang cara mengekspresikan suara. Di sana, ia diajarkan cara untuk mengolah suara agar agar bisa berkomunikasi dengan orang-orang baru, termasuk intonasi suara dan artikulasi.
Tak hanya itu saja, Devi merasa pelajaran tentang total image atau imej secara keseluruhan tentang diri sendiri sangat menyentuhnya. Total image yang diajarkan meliputi cara berpakaian dan padu-padannya serta cara merawat dan merias wajah. Biasanya, ia termasuk orang yang jarang merias wajahnya, tetapi setelah diajarkan cara menerapkan makeup, Devi tak ragu lagi untuk merias wajah.
Cerita lain datang dari Shinta Ramadhona, seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang mesin. Ia mengaku ikut sekolah kepribadian karena ingin mengembangkan dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik terutama dalam lingkungan kerja. Shinta sadar akan kekurangannya, ia kurang mampu mengutarakan ide atau pendapat yang ada di kepalanya dengan baik.
"Kalau mengeluarkan pendapat lewat tulisan atau menulis ide di proposal saya masih bisa, tapi kalau ngomong langsung agak susah. Kadang juga kalau saya memperkenalkan diri ke orang lain, mereka memandang saya berbeda dan jadi tidak paham dengan apa yang saya katakan," tuturnya saat berbincang dengan Wolipop pada hari yang sama.
Wanita 31 tahun ini sudah tujuh kali mengikuti kelas di sekolah kepribadian. Meski belum ada perubahan yang signifikan, tetapi Shinta mengaku dirinya sudah bisa memposisikan dirinya saat harus berhadapan dengan rekan kerja atau klien dan teman-teman serta keluarganya.
Sempat menempuh pendidikan S-2 jurusan elektro di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), otomatis lingkungan pertemanannya didominasi oleh kaum pria. Inilah yang membuat Shinta mengikuti sekolah kepribadian karena ia ingin memahami hal-hal yang sering dilakukan wanita, salah satunya adalah berdandan.
"Ikut sekolah kepribadian membuat saya tahu bagaimana harus berperan di setiap lingkungan berbeda. Bagaimana cara menyeseuaikan makeup agar tidak harus berlebihan, ekspresi suara, dan menempatkan diri dengan baik juga harus diperhatikan," tutupnya.
(int/eny)
