Deteksi Kebohongan Tak Cukup dengan Bahasa Tubuh, Ini yang Perlu Dilakukan

Rahmi Anjani - wolipop Rabu, 28 Okt 2015 18:54 WIB
Dok. Thinkstock
Jakarta - ‎Kemampuan untuk mendeteksi kebohongan diketahui sangat berguna dalam penyelesaian kasus kriminal, mulai dari pencurian hingga pembunuhan. Keahlian tersebut biasanya dimiliki oleh para investigator atau detektif dalam Kepolisian.

Namun kejelian untuk melihat ketidakjujuran tidak hanya dibutuhkan dalam memecahkan kasus-kasus kejahatan saja. Ilmu tersebut juga memiliki banyak manfaat di keseharian. Misalnya saat mencari pekerja rumah tangga bisa dipercaya, ‎mengetahui kesetiaan pasangan, hingga merekrut pegawai.

Menurut Handoko Gani, MBA, BAII sebagai pakar deteksi kebohongan setiap‎ orang umumnya berbohong setiap dua sampai tiga kali sehari. Artinya perbuatan tersebut tergolong 'manusiawi' dan sudah menjadi bagian dari keseharian yang tentunya tidak disukai. Dengan mengetahui cara-cara menganalisa kebohongan, Anda busa lebih terhindar dari penipuan atau kejadian kurang menyenangkan. Hubungan dengan pasangan, rekan kerja, bahkan anak pun bisa jadi lebih harmonis ke depannya.

Lalu bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang tengah membohongi kita? Menurut Handoko, bohong tidak memiliki tanda-tanda yang pasti. Ia mengatakan bila bahasa tubuh saja tidak bisa dijadikan indikasi bahwa seseorang sedang melakukan 'penipuan'. Meski dapar memberikan sedikit petunjuk, Anda perlu bukti-bukti pendukung misalnya dari bentuk tulisan tangan atau yang dikenal sebagai grafologi.

‎Jika ingin mengetahui cara mendekteksi kebohongan, Anda tak perlu menjadi polisi atau ahli grafologi. Festival Bohong Indonesia (FBI) 2015 bisa dijadikan wadah belajar untuk menganalisa ketidakjujuran yang bisa terjadi di keseharian. Acara tersebut seperti sebuah kelas di mana Anda bisa mempelajari ilmu lie detector dan grafologi untuk menghindari kebohongan yang dilakukan pelamar kerja, rekan kerja, anak, asisten rumah tangga, hingga pasangan.

"‎Kelas ini untuk mereka yang punya insting tapi tidak punya cara untuk membuktikan. Jadi bingung, kan? Banyak kebingungan karena takut dibohingi atau pernah dibohongi tapi tidak tau apa yang harus dilakukan. Kita yang tahu makanya mau disebarkan agar kepo-nya terpuaskan," kata Deborah Dewi selaku analisis tulisan tangan.

Kelas-kelas dalam FBI 2015 akan ‎dilakukan setiap hari Sabtu pada bulan November, mulai 7 November mendatang dengan tema yang berbeda. Teman-tema yang diberikan antara lain Ngantor Vs Usaha Sendiri, Anak & Asisiten Rumah Tangga, Rekruitmen untuk Start Up, Teamwork, dan Kesetiaan. Di kelas tersebut akan dipaparkan berbagai metode mendeteksi kebohongan dan latihan analisa melalui film dan sketsa.

Meski bisa menghindari penipuan, kelas ini tidak menjamin bahwa Anda‎ tak akan bisa dibohongi atau malah pandai berbohong. "Justru di sini orang akan sadar bahwa sepintar apapun kita, kebohongan akan terungkap. Yang perlu saya tegaskan adalah tidak ada tanda-tanda kebohongan, seperti mata menengok ke kiri, dll. Itu stereotype yang ingin saya patahkan." ungkap Handoko.

Festival yang diklaim baru dilakukan pertama kali di dunia itu akan menghadirkan Handoko dan Deborah sebagai narasumber. Untuk mengikuti kelas tersebut Anda bisa memesan tiketnya secara online yang ditawarkan dengan harga Rp 350 ribu. Untuk keterangan lebih lanjut, Anda dapat mencari informasi dari Facebook atau Twitter ‎resmi Festival Bohong Indonesia 2015.

(ami/int)