Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Kisah Tri Mumpuni Penuhi Kerinduan Rakyat Desa Terpencil Pada Suara Adzan

Rahmi Anjani - wolipop
Jumat, 26 Jun 2015 13:50 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Rahmi Anjani/Wolipop
Jakarta -

Kiprah Tri Mumpuni dalam pemberdayaan listrik di daerah terpecil sudah tidak diragukan lagi. Sejauh ini, wanita 51 tahun tersebut telah menerangi 82 desa terpencil di Indonesia. Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) itu pun banyak mengandalkan sumber daya air sebagai pembangkit. 'Wanita Listrik' ini juga sering melakukan pengumpulan dana hingga luar negeri.

Di bulan Ramadan ini, Tri menghadirkan program amal spesial, yakni Rindu Adzan. Rindu Adzan merupakan program penggalangan dana untuk memasok listrik di daerah-daerah terpencil yang mesjidnya tidak bisa mengumandangkan suara adzan. Program itu terinspirasi dari seorang ibu di sebuah desa di Muara Enim, Sumatera Selatan.

Ia bercerita ketika sedang melintas di daerah itu, tiba-tiba terdengar suara tangisan wanita. Wanita tersebut pun mencegat Tri karena ada yang ingin disampaikan. Ternyata ibu itu ingin meminta tolong untuk memasok listrik di daerahnya agar dia bisa mendengarkan suara adzan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apalagi di bulan puasa, suara adzan sangat dirindukan oleh dia. Ternyata dia adalah transmigran asal Yogjakarta. Kalau di sini, orang-orang taking (listrik) for granted," ungkap Tri ketika menjadi narasumber talkshow Wardah Day, The Hall Senayan City, Jakarta Selatan, Kamis (25/6/2015).

Terharu mendengar kisah ibu tersebut, akhirnya Tri menghubungi sejumlah teman-teman untuk mengumpulkan dana demi terpasoknya listrik di desa itu. Hal itu dilakukan dengan meyakinkan mereka bahwa berbuat baik adalah hal yang adiktif. Saat ini program Rindu Adzan baru bekerja di daerah Sumatera Selatan. Untuk itu, wanita yang hobi berkebun tersebut menghimbau agar di bulan suci ini orang-orang mau berbagi. Bagi Anda yang tertarik untuk menyumbang, bisa menghubunginya via Twitter, @trimumpuni.

Tri memang sering menggalang dana demi mengumpulkan uang untuk memasok listrik di daerah terpencil. Namun saat ini, ia lebih memanfaatkan potensi di negeri sendiri. Misalnya dengan mengadakan program fasilitator. Dengan menyediakan mesin listrik dan anak-anak muda dengan latar belakang insinyur, program tersebut bermaksud untuk membantu memanfaatkan sumber daya setempat agar bisa menjadi listrik.

Istri dari Iskandar Budisaroso Kuntoadji itu pun mengaku jika pekerjaannya ini memang tidak mudah. Wanita yang pernah diculik di Aceh karena bersitegang dengan pihak setempat tersebut juga harus mendidik tentang cara perawatan sehingga pasokan listrik tersebut bisa bertahan lama. Tri pun bercerita jika ia merasa paling bahagia ketika melihat wajah masyarakat yang senang bisa mendapatkan penerangan di malam hari.

"Ada satu kisah di Kalimantan tentang seorang bapak yang ingin sekali dapat listrik. Kenapa? Ternyata karena dia ingin sekali melihat wajah istrinya saat makan malam. Dia ingin menunjukkan eskpresi wajah bahagia karena sudah dimasakkan." kenang Tri.

(ami/fer)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads