Asyiknya Jadi Pengibar Bendera Menurut Para Wanita Alumni Paskibraka

- wolipop Minggu, 26 Apr 2015 18:40 WIB
Foto: Intan/Wolipop Foto: Intan/Wolipop
Jakarta -

Kartini dikenal sebagai sosok wanita yang memiliki mental yang kuat dan sikap berani dalam membela kebebasan kaum wanita Indonesia. Hal ini juga ditiru oleh para paskibraka yang tergabung ke dalam Purna Paskibraka Indonesia (PPI), dengan menjadi pasukan pengibar bendera, ada banyak manfaat yang bisa dirasakan.

Di kehidupan nyata, mental yang kuat akibat gemblengan saat latihan bisa berguna dalam menghadapi situasi sulit. Diungkapkan oleh Cut Sarah Arifin, alumni PPI 1998, kuatnya mental membuat dirinya lebih tahan banting, tidak gampang stres dan mengeluh, serta menegakkan kedisiplinan yang luar biasa.

"Mental yang kuat itu berpengaruh terhadap pembentukan diri. Hidup jadi lebih rapi dan tertata, apalagi di dunia kerja dan profesional," tutur Sarah saat menjadi pembicara di acara Kartini Movement, fX Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (26/4/2015).

Salah satu alumni paskibraka tahun 1989 Vivid Argarini mengatakan, menjadi seorang paskibra secara langsung membangkitkan rasa cinta pada Indonesia. "Saya suka gemas kalau ada yang nyanyi lagu kebangsaan tapi malas-malasan nyanyinya. Soalnya kan kita benar-benar meresapi dan mengingat perjuangan para pahlawan, itu yang buat saya cinta Indonesia," ujar wanita yang berprofesi sebagai motivator saat ditemui di acara yang sama.

Kecintaan terhadap negara juga dirasakan oleh Rosa Rai Djalal, pendiri Komunitas Gerakan Peduli Anak Indonesia. Ia mengatakan semenjak tergabung dalam paskibraka, dirinya mendapat pelatihan mental untuk meningkatkan persatuan dan kebersamaan antar sesama anggota paskibra.

Tak hanya itu saja, Rosa juga merasakan berbagai pengalaman yang tidak akan dilupakan seumur hidupnya. "Saya bisa bertemu dengan banyak tokoh-tokoh terkemuka seperti Nelson Mandela dan Pangeran Charles. Semakin banyak bertemu orang penting, wawasan saya semakin bertambah," kata alumni PPI tahun 1990 itu.

Banyak yang bertanya mengapa seorang paskibra rela berjemur dan panas-panasan di bawah terik matahari. Alumni PPI 1992 asal Bali, Ayu Rosam mengatakan ada perasaan bangga bisa menjadi perwakilan pasukan pengibar bendera, terlebih lagi dirinya datang dari luar Jakarta.

"Mereka nanya-nanya sama aku, 'kok mau sih? Apa untungnya?' Tapi mereka nggak tahu ternyata ikut paskibra itu banyak untungnya, salah satunya lebih disiplin. Jadi imej paskibraka bukan baris-berbaris saja, harus di sosialisasikan juga," tutup Ayu.

(int/eny)