Martha Kewuan Setia Memotivasi Warga Demi Flores yang Lebih Baik
wolipop
Jumat, 20 Mar 2015 13:18 WIB
Jakarta
-
Tinggal di daerah terpencil dengan fasilitas minim mungkin sudah menjadi takdir bagi sebagian orang. Jangankan untuk membantu masyarakat sekitar, menghidupi diri sendiri atau keluarga saja rasanya sudah sulit untuk dijalani.
Namun hal seperti itu tidak menghalangi seorang wanita di Flores, Nusa Tenggara Timur untuk menolong warga kampungnya. Wanita bernama Martha Kewuan itu setia memotivasi mereka untuk penghidupan yang lebih baik.
Martha merupakan anak sulung dari lima bersaudara yang sering mendapat ujian hidup sejak muda. Saat berusia 19 tahun, ia harus mengurus adik-adiknya karena sang ibunda meninggal dunia. Wilayah tempat tinggal Martha kala itu juga ditetapkan sebagai daerah rawan bencana alam yang sulit akses jalan serta sumber air. Ia pun harus pindah ke tempat baru di mana pendidikan merupakan hal yang sulit dijangkau. Di saat itulah, jiwa motivator Martha mulai tumbuh.
Martha memutuskan untuk memimpin aksi penyampaian aspirasi terhadap pemerintah setempat. Usahanya membuahkan hasil karena pada 1984 sarana pendidikan mulai dibangun di sana. Berkat Martha, sekolah yang dahulu hanya terdiri dari dua kelas saat ini sudah menjadi sekolah dasar negeri.
Motivasi Martha kepada warga-warga di sekitarnya tidak berhenti sampai situ saja. Ia kembali menginisiasi sebuah gerakan demi memajukan kampung tercinta. Pada tahun 1994, wanita yang mengagumi sosok Bunda Theresa itu memutuskan untuk berhenti bekerja dari pabrik untuk mendirikan kelompok tenun wanita. Ia memang senang bekerja secara kolektif karena pergerakannya berjalan lebih cepat dan bisa saling belajar. Mengumpulkan warga untuk bekerja bersama ternyata juga bukan pekerjaan mudah.
"Awalnya cukup sulit tapi saya cuek saja. Kalau menurut saya itu sesuatu yang baik saya lakukan dengan baik. Jadi saya harap mereka melihat apa yang saya lakukan," ujar Martha.
Selain kelompok tenun, Martha juga membentuk grup tani wanita di dusun Kiuteta, desa Noelbaki pada 2003. Dari dua kelompok, grup itu terus berkembang mencapai 20. Produk yang dihasilkan antara lain tenun, sayur, peternakan, sampai makanan ringan khas lokal. Meski senang bekerja secara kelompok, usahanya ini bukan tanpa tantangan.
Modal usaha memang menjadi hambatannya ketika memotivasi kemandirian ekonomi para wanita. Maka dari itu, Martha membentuk kelompok simpan pinjam yang kemudian berkembang menjadi koperasi. Dalam koperasi Bougenville, ia bahkan didaulat menjadi ketua pengawas di unit keuangan.
Menjadi motivator kelompok memang tak mudah. Martha harus terus mengingatkan mereka akan pentingnya mempertahankan kerja bersama meski tidak ada bantuan atau kompensasi. Ia pun mengadakan pertemuan rutin setiap tanggal 13 untuk memperkuat nilai dalam kelompok, seperti masalah keberadaan pengurus atau kemampuan administrasi.
"Saya aktif mencari informasi dari luar desa, karena bagaimana pun desa ini butuh akses informasi untuk berkembang. Saya harap mereka mampu termotivasi tak hanya dengan omongan tapi dengan apa yang saya lakukan," tutup Martha.
(ami/hst)
Namun hal seperti itu tidak menghalangi seorang wanita di Flores, Nusa Tenggara Timur untuk menolong warga kampungnya. Wanita bernama Martha Kewuan itu setia memotivasi mereka untuk penghidupan yang lebih baik.
Martha merupakan anak sulung dari lima bersaudara yang sering mendapat ujian hidup sejak muda. Saat berusia 19 tahun, ia harus mengurus adik-adiknya karena sang ibunda meninggal dunia. Wilayah tempat tinggal Martha kala itu juga ditetapkan sebagai daerah rawan bencana alam yang sulit akses jalan serta sumber air. Ia pun harus pindah ke tempat baru di mana pendidikan merupakan hal yang sulit dijangkau. Di saat itulah, jiwa motivator Martha mulai tumbuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Motivasi Martha kepada warga-warga di sekitarnya tidak berhenti sampai situ saja. Ia kembali menginisiasi sebuah gerakan demi memajukan kampung tercinta. Pada tahun 1994, wanita yang mengagumi sosok Bunda Theresa itu memutuskan untuk berhenti bekerja dari pabrik untuk mendirikan kelompok tenun wanita. Ia memang senang bekerja secara kolektif karena pergerakannya berjalan lebih cepat dan bisa saling belajar. Mengumpulkan warga untuk bekerja bersama ternyata juga bukan pekerjaan mudah.
"Awalnya cukup sulit tapi saya cuek saja. Kalau menurut saya itu sesuatu yang baik saya lakukan dengan baik. Jadi saya harap mereka melihat apa yang saya lakukan," ujar Martha.
Selain kelompok tenun, Martha juga membentuk grup tani wanita di dusun Kiuteta, desa Noelbaki pada 2003. Dari dua kelompok, grup itu terus berkembang mencapai 20. Produk yang dihasilkan antara lain tenun, sayur, peternakan, sampai makanan ringan khas lokal. Meski senang bekerja secara kelompok, usahanya ini bukan tanpa tantangan.
Modal usaha memang menjadi hambatannya ketika memotivasi kemandirian ekonomi para wanita. Maka dari itu, Martha membentuk kelompok simpan pinjam yang kemudian berkembang menjadi koperasi. Dalam koperasi Bougenville, ia bahkan didaulat menjadi ketua pengawas di unit keuangan.
Menjadi motivator kelompok memang tak mudah. Martha harus terus mengingatkan mereka akan pentingnya mempertahankan kerja bersama meski tidak ada bantuan atau kompensasi. Ia pun mengadakan pertemuan rutin setiap tanggal 13 untuk memperkuat nilai dalam kelompok, seperti masalah keberadaan pengurus atau kemampuan administrasi.
"Saya aktif mencari informasi dari luar desa, karena bagaimana pun desa ini butuh akses informasi untuk berkembang. Saya harap mereka mampu termotivasi tak hanya dengan omongan tapi dengan apa yang saya lakukan," tutup Martha.
(ami/hst)










































