Liputan Khusus Persaingan Kerja
Persaingan Kerja Ada yang 'Sehat' dan Tidak, Ini Penjelasannya
Persaingan adalah hal lumrah yang seringkali terjadi di dalam sebuah perusahaan. Banyak para karyawan yang berusaha untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi atau berjuang lebih keras untuk mencapai target yang ditentukan oleh pimpinannya.
Di dalam dunia kerja, ada pula persaingan sehat dan tidak sehat. Seperti yang dituturkan oleh pembicara dan pakar sumber daya manusia Ir. Timotius Oyong, persaingan sehat hanya mungkin terjadi bila seluruh karyawannya memiliki mental yang sehat. Singkirkan rasa keraguan yang ada di ada di dalam diri, tumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi sehingga Anda tetap bersikap tenang saat menghadapi masalah.
Sedangkan persaingan yang tidak sehat adalah sengaja mengatur situasi tertentu, agar rekan lain merasa tidak siap untuk menghadapi persaingan. "Misalnya, Anda sengaja mengatur sedemikian rupa agar rekan lain terlambat memberikan laporan, atau tidak mendapatkan informasi yang cukup. Persaingan tidak sehat juga termasuk menjatuhkan citra rekan lain dengan menebarkan gosip," tutur Oyong saat dihubungi Wolipop via e-mail, Senin (16/3/2015).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal Anda dan rekan kerja itu satu tubuh, satu perusahaan. Kalau ada apa-apa harusnya kasih kabar kepada yang lain. Ini persaingan yang sangat tidak sehat," ujarnya saat diwawancara Wolipop di kantornya, Jl. KH Hasyim Ashari No. 125, Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2015).
Persaingan yang tidak sehat ini pula secara langsung akan menimbulkan kerusakan dalam hubungan yang telah dijalin. Baik hubungan antar sesama karyawan, dengan perusahaan, sekaligus antara individu dengan orang lain di luar perusahaan.
Pria yang telah menjadi pembicara sejak tahun 1989 tersebut menyarankan untuk melakukan persaingan secara sehat, yaitu persaingan yang saling menjaga. "Misalnya Anda dan rekan sama-sama membuat suatu proyek. Cobalah untuk sering bertemu, membahas masalah dan kendala-kendala yang dihadapi tanpa mengganggu pekerjaan satu sama lain. Jadi Anda dan rekan tetap kompak," kata bapak tiga anak itu.
Namun biasanya, persaingan sehat seperti ini sangatlah sulit untuk ditemui di Indonesia. Menurut Andrie, ini merupakan sebuah kultur dan kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan. "Mau diubah juga tidak segampang itu. Jadi sementara kembali kepada diri kita masing-masing dan sosok pimpinan yang sangat berperan. Kalau dia senang membanding-bandingkan anak buah, yang ada nanti kekompakan karyawan akan pecah," tutupnya.
(int/aln)











































