Intimate Interview

Rina Ciputra Sastrawinata dan Pesan Kesederhanaan dari Sang Ayah

- wolipop Jumat, 13 Mar 2015 17:25 WIB
Foto: Eny/Wolipop Foto: Eny/Wolipop

Jakarta - Rina Ciputra Sastrawinata dengan antusias berbicara di depan media mengenai pertunjukkan teater musikal Beauty and The Beast yang akan tampil di Ciputra Artpreneur Center. Masih dengan bersemangat Direktur Ciputra Artprenuer Center itu kemudian mengajak media tur keliling lokasi yang luasnya mencapai 10.000 m2 tersebut. Tidak terlihat gurat kelelahan di wajah wanita 58 tahun itu

Ciputra Artpreneur Center ini memang menjadi bayi baru untuk Rina yang sudah 35 tahun berkarir di perusahaan yang dibangun ayahnya, Ir. Ciputra. Sebelumnya istri Budiarsa Sastrawinata ini lebih dikenal sebagai Managing Director Century21.

Sebelumnya Wolipop sempat berbincang dengan Rina mengenai teater Disney yang akan tampil di Ciputra Artpreneur Center Mei 2015 dan rencananya dalam mengembangkan tempat tersebut sebagai destinasi wisata seni. Kali ini, kami mengajak Anda mengenal sosok Rina yang berbeda yaitu sebagai seorang pemimpin wanita dan ibu empat anak yang sukses. Berikut perbincangan Wolipop dengan Rina di kantornya Ciputra Artprener Center, Kuningan, Jakarta, Jumat (6/3/2015).

Wolipop (W): Selama 35 tahun berkarir, bagaimana ibu bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan anak-anak?

Rina (R): Setiap ibu yang menjadi wanita karier akan mengalami problematika yang sama di mana kita mau berhasil di kedua-duanya. Kalau melihat ke belakang saya juga tidak tahu bisa berhasil melakukannya. Saya rasa semakin saya berumur ada hal-hal yang banyak saya pelajari. Tapi memang bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan.

W: Anak-anak ibu sekarang sudah dewasa dan menjadi orang-orang yang sukses. Saat mereka masih kecil, nilai-nilai apa yang ibu tanamkan kepada mereka sehingga anak-anak bisa seperti sekarang?

R: Waktu mereka masih kecil saya selalu tekankan mereka harus punya pendidikan karena itu bekal bagi mereka jika tiba-tiba pada satu titik suami mereka tidak bisa bekerja lagi, mereka punya bekal. Hal itu saya tekankan karena saya pernah membaca autobiografi pemilik Washington Post. Dia sebelumnya ibu rumah tangga. Tapi kemudian suaminya meninggal. Sejak itu dia mengambil alih kepemimpinan dan Washington Post berkembang menjadi sangat baik. Selama menjadi ibu rumah tangga dia pun tetap aktif dan paling penting dia memiliki pendidikan. Pasti kalau dia tidak bekerja menggantikan suaminya, Washington Post hilang. Saya katakan itu pada anak-anak saya. Sehingga semakin mereka menjadi dewasa mereka juga ingin menjadi wanita karier.

W: Dalam hal mendidik anak-anak, apakah ada nilai-nilai dari ayah (Ir. Ciputra) yang ibu terapkan juga?
R: Saya melihat ayah saya orangnya sederhana. Ayah saya dilahirkan dari yang tidak punya sama sekali jadi hidupnya hemat. Tapi dia royal untuk membeli artwork, membantu orang-orang yang tidak mampu.

Saya rasa setiap orang itu mempunyai pilihan dalam hal bagaimana mengatur kehidupan mereka. Untuk saya dan anak-anak, mereka melihat bagaimana saya mengatur keuangan, kehidupan saya sehari-sehari seperti apa.

W: Menurut ibu, hal apa yang bisa membuat seseorang menjadi sukses dalam bekerja?
R: Saya bekerja kurang lebih hampir 35 tahun. Jadi akhirnya pekerjaan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari saya. Pastinya ada hari-hari yang lebih relaks ada juga yang lebih sibuk. Hal itu menjadi rutinitas yang sudah terbentuk dalam tubuh saya.

Saya melihat ada satu batas kalau kita mau sukses ya memang harus kita yang jalani. Terlepas dari fasilitas, in the right place at the right time dan lain-lainnya, saya melihat memang harus kita yang dapatkan. Kalau boleh pakai kata level kesuksesan. Level itu di mana kita merasa waktu yang sudah kita buang setiap hari ada imbalannya. Kalau nggak ada imbalannya jangan dikerjakan. Makanya kita harus bijak-bijak memakai waktu kita.

Ujung-ujungnya sebenarnya berhubungan dengan disiplin. Disiplin in any any any anything. Makanya kita bisa lihat kalau di luar negeri ada penyanyi sukses, kita nggak tahu seorang penyanyi berbakat masih latihan dua tahun vokal, latihan sebelum konser empat tahun dan itu dia lakukan selama berpuluh-puluh tahun.


(eny/fer)