Riset: Bos Lebih Sering Bohong Dibanding Karyawan
Eny Kartikawati - wolipop
Kamis, 26 Sep 2013 12:35 WIB
Jakarta
-
Siapa orang yang lebih sering bohong di tempat kerja? Survei terbaru membuktikan atasan atau bos justru lebih sering berbohong ketimbang para karyawan.
Survei tersebut dibuat oleh Chartered Management Institute dengan melibatkan 2.000 orang yang memiliki jabatan senagai manajer. Dari riset itu pun terungkap, manajer lebih mudah bohong ketimbang staff di level junior.
Satu dari tiga manajer mengaku soal aksi bohong mereka di dunia kerja. Sementara karyawan di level staf, hanya satu dari empat yang suka bicara tidak jujur.
Tak hanya itu saja, survei juga mengungkapkan 30% bos atau atasan sering mengabaikan peraturan kerja. Sedangkan orang-orang yang berada di posisi bawahan, hanya 13% yang kerap melakukan ketidakpatuhan tersebut.
Menyedihkannya, menurut survei CMI ini, meski lebih sering tidak jujur dibandingkan para karyawan, mereka yang berada di level manajer lebih berpotensi mendapatkan promosi. Hasil survei ini pun membuat prihatin dan jika apa yang diungkapkan di survei terus terjadi, bukan tidak mungkin di masa depan berdampak buruk pada perusahaan
Profesor Cary Cooper dari Lancaster University Management School mengungkapkan kebiasaan bohong yang dilakukan para atasan di level manajer ini terjadi karena perasaan insecure. "Mereka putus asa untuk mempertahankan jabatannya dan tidak mau kehilangan jabatan itu," ujar Prof. Cooper.
Kebohongan yang dilakukan para manajer untuk tetap mempertahankan jabatannya atau malah mendapat promosi ini cukup bervariasi. Menurut Prof. Cooper, kebohongan itu bisa dimulai dari tidak jujur soal kontrak yang didapat atau memberikan penjelasan menyesatkan tentang kemajuan tugas yang diberikan atasan lebih tinggi.
Chief Executive CMI Ann Francke menyuarakan pendapatnya saat mengetahui hasil survei dari lembaga yang dipimpinnya. Dia berharap perusahaan memberikan penghargaan pada karyawan yang memiliki prinsip dan tidak memberikan kesejahteraan pada manajer pembohong.
"Ketika berbicara mengenai integritas, kepemimpinan adalah kuncinya. Para manajer harus mengingat lagi pada prinsip kerja, bukan masalah pribadi," katanya.
(eny/eny)
Survei tersebut dibuat oleh Chartered Management Institute dengan melibatkan 2.000 orang yang memiliki jabatan senagai manajer. Dari riset itu pun terungkap, manajer lebih mudah bohong ketimbang staff di level junior.
Satu dari tiga manajer mengaku soal aksi bohong mereka di dunia kerja. Sementara karyawan di level staf, hanya satu dari empat yang suka bicara tidak jujur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyedihkannya, menurut survei CMI ini, meski lebih sering tidak jujur dibandingkan para karyawan, mereka yang berada di level manajer lebih berpotensi mendapatkan promosi. Hasil survei ini pun membuat prihatin dan jika apa yang diungkapkan di survei terus terjadi, bukan tidak mungkin di masa depan berdampak buruk pada perusahaan
Profesor Cary Cooper dari Lancaster University Management School mengungkapkan kebiasaan bohong yang dilakukan para atasan di level manajer ini terjadi karena perasaan insecure. "Mereka putus asa untuk mempertahankan jabatannya dan tidak mau kehilangan jabatan itu," ujar Prof. Cooper.
Kebohongan yang dilakukan para manajer untuk tetap mempertahankan jabatannya atau malah mendapat promosi ini cukup bervariasi. Menurut Prof. Cooper, kebohongan itu bisa dimulai dari tidak jujur soal kontrak yang didapat atau memberikan penjelasan menyesatkan tentang kemajuan tugas yang diberikan atasan lebih tinggi.
Chief Executive CMI Ann Francke menyuarakan pendapatnya saat mengetahui hasil survei dari lembaga yang dipimpinnya. Dia berharap perusahaan memberikan penghargaan pada karyawan yang memiliki prinsip dan tidak memberikan kesejahteraan pada manajer pembohong.
"Ketika berbicara mengenai integritas, kepemimpinan adalah kuncinya. Para manajer harus mengingat lagi pada prinsip kerja, bukan masalah pribadi," katanya.
(eny/eny)











































