Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus

Ipda Tika, Polwan yang Sibuk Usut Kasus KDRT Hingga Penyerbuan Berdarah

Eny Kartikawati - wolipop
Jumat, 19 Okt 2012 08:23 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Wolipop
Jakarta -

Ipda Tika Pusvitasari, itulah namanya. Wanita kelahiran Medan, 12 April 1990 itu bercita-cita jadi polisi sejak duduk di bangku sekolah. Setelah lulus SMA pada 2007, Tika pun mendaftar masuk Akademi Kepolisian di Semarang dan diterima.

Menempuh pendidikan selama 3,5 tahun di Akpol, Tika lulus pada Desember 2010 lalu dan langsung mendapatkan pangkat Ipda singkatan dari Inspektur Polisi Dua. Setelah lulus, wanita berambut pendek ini ditempatkan di Polda Metro Jaya. Dari Polda Metro Jaya, Tika kemudian ditempatkan lagi ke Polres Metro Jakarta Pusat pada Februari 2011.

Saat pertama bertugas, Tika bertugas di bagian Kabsutnit Perlindungan Perempuan dan Anak. Di bagian itu dia mengurusi berbagai hal soal perempuan dan anak mulai dari kasus KDRT, pencabulan hingga pemerkosaan. Pada Oktober 2011, wanita yang hobi menonton film ini dipindahkan ke bagian Kriminal Umum. Ia langsung menjabat sebagai Kepala Sub Unit Kriminal Umum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tempat barunya, Tika harus menangani berbahai masalah kriminal umum mulai dari tindak pidana penipuan, pencurian, penggelapan, pencemaran nama baik dan kejahatan di jalan seperti kecopetan. Sehari-harinya dia bisa bertugas di kantor atau terjun langsung ke lapangan.

"Kalau street crime (misalnya aksi penodongan-red), langsung ke TKP meninjau kejadian perkara. Kalau tidak berhubungan dengan street crime, kita akan proses, pemeriksaan BAP, BAP saksi sampai menemukan siapa tersangkanya," urai Tika menjelaskan tugasnya sehari-hari.

Sebagai polisi wanita yang bertugas di bagian kriminal, salah satu pengalaman paling berkesan yang pernah didapatnya adalah ketika ikut mengusut kasus penyerbuan berdarah di RSPAD Gatot Subroto. Ketika kasus tersebut ramai dibicarakan, Tika berada dalam tim yang ikut mencari keberadaan tersangka penyerbuan tersebut yaitu Irene yang sering dijuluki sebagai Kill Bill.

"Kebetulan karena tahanannya perempuan dibutuhkan peran seorang polisi wanita. Saya ikut terjun ke lapangan untuk mencari perempuan itu. Kita mencari di mana keberadaannya," tutur Tika.

Keberadaan polisi wanita dalam sejumlah kasus, dijelaskan Tika, memang dibutuhkan. Polisi wanita diperlukan untuk mendampingi tersangka atau korban perempuan yang memang bisa lebih menunjukkan sisi kewanitaan.

"Peran kita dimunculkan seperti bertanya ke anaknya, adiknya atau keluarganya, menenangkan keluarga dan lain-lain," jelas Tika yang dalam tugas sehari-hari tidak mengenakan seragam layaknya polisi lalu-lintas.

Selain ikut mencari Irene 'Kill Bill', pengalaman tak terlupakan lain yang pernah dialami Tika adalah ketika dia menyelidiki sebuah kasus KDRT. Dalam kasus tersebut, seorang istri melaporkan suaminya yang kerap melakukan kekerasan fisik dalam keseharian dan masalah seksual.

"Sebagai wanita kita besikap empati sama korban. Dia bukan hanya korban kekerasan fisik, tapi juga diperlakukan tidak wajar. Di situ membuat saya semangat harus menyelesaikan, membuktikan bahwa suaminya bersalah," ceritanya. Tika memang kemudian berhasil mengungkap kasus tersebut. Si pria yang kerap menyiksa itu kini sudah divonis bersalah.

(eny/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads