Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

100 Kekuatan Cinta Wanita

Tantangan Jadi Relawan, Dianggap Ngemis Saat Menggalang Dana

Arina Yulistara - wolipop
Kamis, 18 Okt 2012 10:07 WIB
...
Dok. Pribadi Yulia Baso
Jakarta -

Melepaskan pekerjaan komersil demi sebuah aksi sosial, mungkin tak banyak orang yang bisa atau mau melakukannya. Yulia Baso, adalah satu dari sedikit wanita yang mampu berkomitmen pada sesuatu yang menjadi prinsip hidupnya, yaitu menjadi seorang relawan tanpa terlalu mengagungkan materi.

Wanita yang akrab dipanggil Ijul ini rela keluar dari pekerjaannya di sebuah perusahaan swasta karena ingin fokus menjalani aksi sosial. Dia memilih bekerja sebagai penerjemah lepas di rumah agar bisa mengatur waktunya dengan baik.

"Saya bekerja sebagai translator sama MC seminar. Sekarang sih translator di rumah, jadi saya bisa mengatur waktu. Biasanya translator dokumen di luar dokumen hukum seperti dokumen standar prosedur karyawan yang saya lagi kerjakan," ujar Ijul saat berbincang dengan wolipop di Plaza Semanggi, Jakarta, belum lama ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun telah mengabdikan diri untuk membantu orang susah, perjalanan menjadi relawan tidaklah mudah. Dia harus bisa mengontrol diri ketika mendapat komentar-komentar negatif saat melakukan penggalangan dana. Misalnya, dia dianggap mengemis-ngemis dan melakukan pekerjaan yang membuang waktu.

Demikian pula saat ingin mengumpulkan buku-buku bekas yang masih layak pakai karena kebanyakan orang mengirimkan buku yang seharusnya sudah dibuang. "Kadang orang malah kayak ngebuang, kita harus sortir lagi, ini sama aja buang buku. Mereka kadang mikir donasi sama aja lu buang barang. Mind set-nya mereka tuh buang barang dari gudang," tutur Ijul kepada wolipop.

Ijul memang senang melakukan kegiatan sosial sejak ia belum terjun di dunia kerja. Setelah lulus kuliah, hatinya tergerak untuk mencari komunitas relawan. Pada 2008, dia mengikuti sebuah forum di internet atau milis untuk menjadi relawan yang mau membawa anak ke sejumlah museum lokal seperti Fatahillah, Mandiri dan Bank Indonesia. Kemudian, dia bergabung dalam Komunitas Kerja Sosial (KKS) Melati --wadah untuk anak muda menjadi relawan-- agar bisa mewujudkan keinginannya di tahun 2009. Ini adalah awal perjalanan Ijul menjadi salah satu relawan wanita yang menginspirasi.

Setelah dari KKS Melati, Ijul memutuskan untuk hijrah ke sebuah grup sosial yang bernama Komunitas Lebah pada 2010. Tidak hanya itu, dia pun aktif dalam gerakan 1N3B (1 Nusa 1 Bangsa 1 Bahasa 1 Bumi) sejak 2010 yang kegiatannya mendirikan rumah baca di daerah terpencil setiap satu tahun sekali. 1N3B adalah suatu gerakan pendidikan sains dan melek-buku untuk kawasan terpencil di Indonesia.

Selain dua komunitas tersebut, dia juga menjalani kegiatan sosial bersama teman-temannya yang bernama Kelinci, juga sebuah komunitas sosial dalam skala kecil. Bergabung dalam tiga komunitas saja tidak cukup bagi wanita yang hobi traveling ini. Dia memiliki keinginan untuk membantu anak kurang mampu lebih banyak lagi.

Akhirnya, dia memutuskan untuk membuat komunitas sendiri yang dilabeli dengan nama Hadiah Sahabat pada 2011. Kegiatan komunitas baru itu fokus untuk mengunjungi anak tak mampu serta mengajak mereka nonton bareng film-film bertema anak Indonesia. Walaupun semua anggotanya wanita dan hanya ada satu pria, Ijul tetap serius dan konsisten dalam menjalankan tugasnya sebagai relawan.

Wanita yang senang bergaya casual dalam kesehariannya ini sangat antusias menceritakan pengalamannya. Ijul merasa begitu senang sekaligus bersyukur bisa bermain dengan anak-anak kurang mampu, anak jalanan, hingga yatim piatu.

"Saya merasa puas dan senang walaupun nggak dibayar, nggak semua orang dapat kesempatan dan ini membuat saya lebih banyak bersyukur," papar wanita kelahiran 31 Juli 1976 itu.

Di sela-sela kesibukan tersebut, wanita rumahan ini selalu pintar membagi waktu antara satu kegiatan dengan yang lainnya. Dia bahkan pernah menyelesaikan pekerjaannya di jalan karena deadline serta kegiatan sosial. Namun, itu tak membuatnya mengeluh apalagi berhenti menjadi relawan.

Berkat kegigihannya memperjuangkan pendidikan anak-anak tak mampu dan berkegiatan sosial, Ijul pun dipilih sebagai salah satu inspiring woman oleh Sunlight. Ijul terpilih menjadi sosok yang dinilai bisa memotivasi wanita lain dalam kampanye '100 Kekuatan Cinta Wanita' yang diusung brand deterjen pencuci piring ternama itu.

Ayo nominasikan wanita inspiratif pilihan Anda, di Sunlight 100 Kekuatan Cinta Wanita

(hst/hst)
...
Hide Ads