Liputan Khusus
Andra Alodita: Jadi Fotografer Nggak Harus Kaya, Yang Penting Kerja Keras
Dimulai dari iseng-iseng motret, kemudian menjadikan fotografer sebagai profesi yang digeluti Andra Alodita atau kerap disapa Andra. Wanita yang masih berusia 25 tahun itu dikenal sebagai fashion dan wedding photographer.
Dalam bincang akrab bersama Wolipop, wanita kelulusan Universitas Pelita Harapan itu banyak bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang fotografer. Jika penasaran ingin mengetahui tentang Andra, baca saja petikan wawancaranya berikut ini.
Wolipop (W): Pengalaman paling seru selama menjadi fotografer apa?
Andra Alodita (AA): Bisa ke Singapura untuk liputan Fashion Week 2011 itu seru banget. Karena nggak semua media bisa. Media dari Indonesia waktu itu cuma aku. Jadi seru banget ketemu orang luar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AA: Bisa ke tempat-tempat baru, ketemu banyak orang, dan memotret juga tentunya. Proyek terbesar itu saat foto Titi DJ untuk cover majalah Clara. Itu memorable banget.
W: Kendala jadi fotografer wanita bagaimana?
AA: Mungkin kalau sekarang lebih ke mood. Kalau cewek kan pas lagi datang bulan itu moodnya up and down. Jadi kendalanya lebih ke situ aja sih.
W: Tugasnya bagaimana? Berat atau tidak?
AA: Nggak sih menurut aku. Karena aku setiap hari selalu belajar-belajar dan belajar dari orang-orang yang menurut aku sudah menjadi guru fotografi. Berat itu kadang-kadang ada orang yang bergantung pada aku dan aku tuh yang pegang kendali untuk bagian dokumentasinya jadi nggak boleh ada yang kelewat sekalipun.
W: Dapat dukungan tidak dari keluarga? Dukungan dalam hal apa?
AA: Pasti dan dukungannya dari semua hal. Dukungan spiritual, dan juga emosional. Semua ngedukung aku, keluargaku, keluarga suami aku, teman-teman aku, ngedukung semua. Apalagi orangtuaku kan tadinya mengira ini cuma sekadar hobi saja yang nggak menghasilkan apa-apa. Tapi sekarang mereka lihat aku jadi yang wah hebat yaa.. jadi mereka support aku terus.
W: Objek foto yang paling disukai?
AA: Perempuan
W: Bener atau tidak kalau untuk menjadi fotografer profesional, harus memiliki banyak uang terlebih dahulu?
AA: Jadi mulai dari nol banget sih. Sebenarnya itu juga dulu kendala buat aku waktu pertama kali mau jadi fotografer. Nggak percaya diri karena banyak banget fotografer lainnya terus mereka tuh udah punya alat yang lengkap, dan aku tau yang harganya itu Rp 10 juta, Rp 20 juta, jadi aduh gimana ya. Cuma akhirnya diakal-akalin. Karena banyak yang support, jadi banyak yang meminjamkan kepada aku. Sambil menjalani, sambil nabung, lama-lama aku bisa beli sendiri. Jadi menurut aku nggak harus kaya. Yang penting itu kemauan kita untuk mau bekerja keras. Itu intinya.
W: Andra mendapat insiprasi foto biasanya dari mana?
AA: Banyak. Kalau sehari-hari justru dari teman-teman atau lingkungan di sekitar aku. Tapi kalau sekarang banyak lebih dari instagram ya. Aku follow banyak orang dan suka liat fotonya lucu-lucu.
W: Harus selalu update tren fashion ngga?
AA: Harus sih. Karena aku suka juga sama fashion, jadi Kalau bisa sih sesering mungkin update terus. Paling nggak, tau sekarang lagi tren apa. Aku biasanya baca Elle UK, Vogue, dan kebanyakan juga dari internet sih. Lebih ke blog walking. Nggak ada satu website dan satu referensi yang selalu aku lihat terus. Jadi selalu berubah-ubah.
W: Sebenarnya perlu atau tidak sekolah untuk menjadi fotografer fashion atau hanya mengandalkan skill?
AA: Menurut aku, skill itu nggak menjamin 100 persen untuk menjadi sukses. Tapi belajar dari experience juga, dari masukan orang-orang, dari kritik, dan belajar dari hal-hal yang baru. Kadang-kadang orang kalau lihat, 'oh gw kalau mau jadi fotografer fashion, harus belajar fashion dulu'. Sebenarnya nggak begitu. Harus belajar tentang fashion, tapi harus belajar juga yang lainnya, misalnya tentang make up, tentang lokasi, mungkin tentang sejarah fashion, atau misalnya belajar tentang tekstil. Aku bilang kalau mau sekolah fotografi di sini sih nggak banyak yang menurut aku bener-bener dari basic. Tapi kalau bisa sekolah, mendingan sekolah kalau bener-bener mau jadi fotografer ya. Soalnya aku nggak punya kesempatan untuk itu. Kalau bisa ngulang lagi, aku pingin banget sekolah fotografi.
W: Kalau lagi motret, biasanya ada barang atau pakaian yang wajib dipakai atau dibawa? (selain peralatan motret)
AA: Kalau aku, aku harus bawa hand sanitizer, tissue kering, tissue basah, semprotan muka, haha ribet karena panas kan soalnya. Terus aku harus bawa camilan karena aku suka ngemil. Terus aku juga bawa sunblock. Jadi kalau selesai foto biar enggak kusam. Perlu bawa baju ganti juga karena aku gampang keringatan banget.
W: Fotografer dunia yang pernah jadi inspirasi?
AA: Nicoline Patricia, Davy Linggar, sama Stanley Allan itu yang di Indonesia. Di dunia aku suka Camilla Akran.
(rma/eya)










































