ADVERTISEMENT

Liputan Khusus

Lawyer: Gaji Besar Tapi Tak Punya Me-Time?

- wolipop Selasa, 07 Agu 2012 08:18 WIB
dok. Thinkstock
Jakarta - Tidak bisa dipungkiri, profesi pengacara merupakan salah satu profesi prestisius yang disertai dengan penghasilan wah dengan segala fasilitasnya. Namun di balik semua kenyamanan itu terdapat sisi negatif lainnya yang tidak bisa diacuhkan. Wolipop pun berbincang intim dengan 3 pengacara muda yang cantik dan juga berprestasi.

Nurmalita Malik yang biasa dipanggil Lita, saat ini bekerja di firma hukum Lubis Ganie Surowidjojo. Ia mengakui dengan menjadi lawyer, suka tidak suka harus menempatkan kepentingan klien di atas segalanya. Ia mendeskripsikan profesinya mirip dengan dokter, dimana saatnya kliennya membutuhkan dirinya kapan saja, ia harus segera mengerjakan tugas dengan cepat dan menyelesaikannya sesuai tenggat waktu yang ada.

"Gaji yang besar itu relatif, tergantung menghabiskannya seperti apa. Kalau saya bukan tipe yang suka belanja. Malah karena kesibukan jadi tidak punya waktu lihat-lihat jadinya pengeluaran mengecil dengan sendirinya," ujarnya. Iapun memilih untuk belanja seperlunya saja sesuai kebutuhan dan sisanya berinvestasi untuk masa depan.

Dengan banyaknya kasus yang harus diselesaikan, jam pulang malam pun kerap menjadi makanan sehari-hari oleh ketiga pengacara muda nan cantik ini. Sebut saja Ria Lusiana yang saat ini bekerja untuk Adnan Buyung Nasution & Partners. Profesinya menuntut dirinya untuk membuat banyak riset, pembelajaran kasus secara mendetail, pulang larut malam hingga pagi sudah menjadi hal biasa. Namun ia merasa beruntung karena di tempatnya bekerja, semua staf pengacara mendapatkan kemudahan transportasi sehingga tetap bisa pulang ke rumah jam berapapun tanpa rasa khawatir.

Hal seperti ini secara tidak langsung mengubah ritme kehidupan pribadi maupun sosial, seperti yang diungkapkan oleh Shinta Nurfauzia yang bekerja di Lubis Santosa & Maramis. Ia sering membatalkan janji yang sudah dibuat dengan sahabat hingga pasangan perihal pekerjaan. Oleh sebab itu, ia kini terbiasa untuk membuat janji temu secara spontan untuk menghindari membatalkan di menit terakhir.

Lita pun menambahkan mengapa profesi pengacara menawarkan penghasilan yang relatif jauh lebih tinggi dari profesi kebanyakan. Selain hal-hal seperti yang disebutkan di atas, seorang pengacara muda perlu melewati berbagai proses evaluasi berkali-kali hingga menjadi pengacara seutuhnya. "Membangun karir sebagai pengacara terasa banget pressure-nya, harus punya ketahanan mental tinggi dan batasan waktu yang sangat ketat. Makanya enggak banyak pengacara wanita yang betah menekuni profesi ini," ujar Lita.

Shinta pun juga menekankan bahwa dengan segudang tekanan, wajar saja gaji besar menjadi salah satu kesejahteraan yang ingin dicapai. "Uang melimpah mungkin ada benarnya, tapi kalau kita kerjanya sampai kayak begini, kalau enggak ada insentif buat apa?" ujarnya. Kebijakan setiap kantor hukum yang berbeda-beda membuat tiap pengacara mencari yang terbaik dari tiap firma hukum di luar aspek pengalaman. "Gaji, bonus, THR, asuransi itu pasti. Honor per kasus ada tapi hanya ada di beberapa kantor hukum. Selebihnya yang paling berharga adalah cari pengalaman dan koneksi," tutupnya.

(fer/eya)
Adu Perspektif
×
Janji Politik Lama, Bersemi Kembali
Janji Politik Lama, Bersemi Kembali Selengkapnya