Liputan Khusus
Pengalaman Punya Bos Galak: Stres, Trauma Sampai Berhenti Kerja
Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Jumat, 13 Jul 2012 07:33 WIB
Jakarta
-
Dalam setiap perusahaan, tentu ada satu atau dua sosok pemimpin yang paling disegani atau bahkan ditakuti bawahannya. Sebutan killer boss pun kerap mampir karena sikap atasan yang tegas, galak, tidak bisa mentolerir kesalahan atau mengungkapkan kekesalan dengan marah-marah bahkan memukul benda dengan keras.
Bagaimana dengan bos di kantor Anda? Apakah termasuk yang penyabar atau galak? Seperti apa sosok bos galak dalam dunia kerja yang nyata? Ini dia pengakuan beberapa karyawan yang memiliki bos berkarakter tegas.
Bos Marketing Galak & Suka 'Kepo'
Egga yang berprofesi sebagai marketing menceritakan kalau setiap pagi pukul 07.30, para staf harus briefing untuk membahas berbagai prosedur serta memo tentang strategi pemasaran. Selesai briefing, para staf marketing kembali meeting untuk membicarakan sejauh mana pencapaian yang telah mereka raih.
"Kalau tidak mencapai target pasti 'singa' akan mengeluarkan amarah yang meledak-ledak, melempar-lempar pulpen sampai tenggorokan seperti mau keluar," tuturnya.
Tepat pukul 09.00, Egga menceritakan biasanya tim akan diperintahkan untuk berkeliling dan setiap jam sang bos akan mengirim SMS satu per satu. Pesan teks biasanya menanyakan bawahannya sedang presentasi di mana atau meeting dengan siapa saja. Jika tidak membalas SMS, atasan tersebut pun tak sungkan memberi ancaman pengeluaran surat peringatan (SP) mulai dari SP1, SP2, hingga SP3.
Bos Galak yang Bikin Stres
Pernah punya bos galak sampai membuat trauma? Hal tersebut dialami salah seorang karyawan, sebut saja bernama Riska. Ia mengaku, atasan di perusahaannya yang dulu sangat galak dan semua yang diperintahkannya wajib dipenuhi.
"Kalau tidak (dipenuhi) jangan harap selamat bisa dimarahi habis-habisan dan kalau manggil sampai muka kita kelihatan dia tidak akan berhenti memanggil," cerita Riska.
Karena terlalu sering dipanggil, Riska pun sempat mengalami stres. Suatu waktu, ia tiba-tiba mendengar atasannya memanggil-manggilnya dan segera saja Riska lari ke ruangan. Ternyata, sang killer boss tidak memanggilnya dan Riska pun harus kembali ke meja kerjanya dengan wajah tertunduk malu.
"Ketika buka pintu langsung saya bilang, 'Bapak manggil saya?' dan dengan wajah bingung dia jawab, 'enggak'. Malunya bukan main, belum ditertawakan teman-teman seruangan. Saking takutnya sampai berasa dipanggil terus," urainya.
Tatapan Sinis Sampai Memukul Meja
Hapsari sudah merasakan kerasnya dunia kerja sejak ia lulus kuliah. Pertama kali bekerja, ia langsung dihadapkan pada pekerjaan yang secara teknis tidak bisa dikerjakannya sendiri. Begitu bertanya ke supervisor, dia pun tak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sementara sang manajer kerap memandang dengan tatapan sinis yang membuatnya tidak nyaman dan akhirnya resign.
"Manajer kalau menatap sinis dan berbicara sambil memukul-mukul meja. Semakin tidak nyaman, saya pun resign," ungkap Hapsari.
Namun pengalaman pernah punya bos galak membawa dampak positif terhadap perjalanan karier Hapsari selanjutnya. Ia mengaku menjadi pribadi yang lebih kuat dan mampu mengatasi stres karena pekerjaan dengan menilik kembali pelajaran di masa lalu.
"Tiap kali stres di kantor, saya selalu bilang ke diri saya: 'Yang lebih buruk dari ini pun pernah saya alami'."
(hst/eya)
Bagaimana dengan bos di kantor Anda? Apakah termasuk yang penyabar atau galak? Seperti apa sosok bos galak dalam dunia kerja yang nyata? Ini dia pengakuan beberapa karyawan yang memiliki bos berkarakter tegas.
Bos Marketing Galak & Suka 'Kepo'
Egga yang berprofesi sebagai marketing menceritakan kalau setiap pagi pukul 07.30, para staf harus briefing untuk membahas berbagai prosedur serta memo tentang strategi pemasaran. Selesai briefing, para staf marketing kembali meeting untuk membicarakan sejauh mana pencapaian yang telah mereka raih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tepat pukul 09.00, Egga menceritakan biasanya tim akan diperintahkan untuk berkeliling dan setiap jam sang bos akan mengirim SMS satu per satu. Pesan teks biasanya menanyakan bawahannya sedang presentasi di mana atau meeting dengan siapa saja. Jika tidak membalas SMS, atasan tersebut pun tak sungkan memberi ancaman pengeluaran surat peringatan (SP) mulai dari SP1, SP2, hingga SP3.
Bos Galak yang Bikin Stres
Pernah punya bos galak sampai membuat trauma? Hal tersebut dialami salah seorang karyawan, sebut saja bernama Riska. Ia mengaku, atasan di perusahaannya yang dulu sangat galak dan semua yang diperintahkannya wajib dipenuhi.
"Kalau tidak (dipenuhi) jangan harap selamat bisa dimarahi habis-habisan dan kalau manggil sampai muka kita kelihatan dia tidak akan berhenti memanggil," cerita Riska.
Karena terlalu sering dipanggil, Riska pun sempat mengalami stres. Suatu waktu, ia tiba-tiba mendengar atasannya memanggil-manggilnya dan segera saja Riska lari ke ruangan. Ternyata, sang killer boss tidak memanggilnya dan Riska pun harus kembali ke meja kerjanya dengan wajah tertunduk malu.
"Ketika buka pintu langsung saya bilang, 'Bapak manggil saya?' dan dengan wajah bingung dia jawab, 'enggak'. Malunya bukan main, belum ditertawakan teman-teman seruangan. Saking takutnya sampai berasa dipanggil terus," urainya.
Tatapan Sinis Sampai Memukul Meja
Hapsari sudah merasakan kerasnya dunia kerja sejak ia lulus kuliah. Pertama kali bekerja, ia langsung dihadapkan pada pekerjaan yang secara teknis tidak bisa dikerjakannya sendiri. Begitu bertanya ke supervisor, dia pun tak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sementara sang manajer kerap memandang dengan tatapan sinis yang membuatnya tidak nyaman dan akhirnya resign.
"Manajer kalau menatap sinis dan berbicara sambil memukul-mukul meja. Semakin tidak nyaman, saya pun resign," ungkap Hapsari.
Namun pengalaman pernah punya bos galak membawa dampak positif terhadap perjalanan karier Hapsari selanjutnya. Ia mengaku menjadi pribadi yang lebih kuat dan mampu mengatasi stres karena pekerjaan dengan menilik kembali pelajaran di masa lalu.
"Tiap kali stres di kantor, saya selalu bilang ke diri saya: 'Yang lebih buruk dari ini pun pernah saya alami'."
(hst/eya)











































