Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Kontroversi Pasangan Poliamori Menikah 20 Tahun, Dicap Serakah

Tim Wolipop - wolipop
Selasa, 27 Jan 2026 14:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Love triangle concept. One man with two woman.
Ilustrasi Foto: Getty Images/SrdjanPav
Jakarta -

Pada umumnya, masyarakat masih memegang kuat nilai kesucian dan kesetiaan dalam pernikahan. Namun, seiring perkembangan zaman, muncul pola relasi yang menantang norma tersebut, salah satunya poliamori, hubungan terbuka yang dijalani dengan persetujuan semua pihak, di mana masing-masing pasangan dapat memiliki relasi romantis lain.

Salah satu pasangan poliamori yang menuai kontroversi adalah Robyn dan Christopher, pasangan asal Florida, Amerika Serikat, yang telah menjalani pernikahan selama 20 tahun. Pilihan hidup mereka tak jarang dicap menyimpang, bahkan dianggap sebagai bentuk keserakahan dalam berelasi.

"Banyak orang melihat poliamori sebagai keserakahan atau keinginan untuk berhubungan dengan banyak orang. Padahal, bagi sebagian pasangan, ini adalah cara menjalani hubungan dengan persetujuan semua pihak. Meski begitu, ini jelas bukan pilihan yang mudah atau sederhana," ujar sang istri, Robyn, dikutip dari NYPost.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Robyn dan Christopher menghabiskan sembilan tahun pertama pernikahan mereka dalam hubungan monogami. Dinamika rumah tangga mulai berubah ketika seorang teman wanita tinggal bersama mereka, situasi yang kemudian memicu diskusi panjang mengenai batasan, komitmen, dan makna kesetiaan.

Setelah melalui proses tersebut, pasangan ini akhirnya memutuskan menjalani hubungan poliamori pada 2011. Sejak saat itu, mereka mengaku telah menjalin tiga hubungan jangka panjang yang melibatkan wanita lain. Meski demikian, mereka menegaskan bahwa poliamori bukan semata-mata soal kebebasan seksual.

ADVERTISEMENT

"Ini bukan hanya tentang seks. Kami sebenarnya tidak membutuhkan pasangan tambahan, tetapi menginginkan seseorang untuk berbagi hidup bersama," ungkap Robyn, yang kini berusia 47 tahun.

Meski merasa menemukan bentuk relasi yang sesuai, Robyn dan Christopher mengakui bahwa menjalani hubungan seperti ini tidaklah mudah. Menurut mereka, komunikasi yang intens menjadi kunci utama, bahkan lebih menantang dibanding pernikahan konvensional.

"Untuk menghadapi persoalan apa pun, dibutuhkan komunikasi ya
ng jujur dan terbuka. Tanpa diskusi yang terus-menerus, hubungan seperti ini berisiko memicu konflik," ujar Robyn.

Kecemburuan pun menjadi tantangan utama dalam hubungan poliamori. Robyn menekankan pentingnya menetapkan batasan sejak awal, meskipun hal tersebut tidak selalu mudah dilakukan.

"Penetapan batasan membantu mengantisipasi rasa cemburu. Mengabaikannya bisa memicu masalah serius di kemudian hari," katanya.

Christopher menambahkan bahwa kecemburuan sejatinya juga hadir dalam hubungan monogami.
"Rasa cemburu ada di semua jenis hubungan. Namun dalam poliamori, pengelolaannya menjadi lebih kompleks karena melibatkan lebih banyak perasaan dan pihak," tuturnya.

Ia juga menyinggung konsep compersion, yakni perasaan bahagia saat melihat pasangan merasa bahagia dengan orang lain. Ini menjadi sebuah gagasan yang, menurutnya, tidak mudah diterima oleh banyak orang.

"Bagi sebagian orang, perasaan ini tidak muncul secara alami dan membutuhkan proses batin yang panjang," ujarnya.

Oleh sebab itu, Robyn dan Christopher menegaskan bahwa mereka tidak mempromosikan poliamori sebagai solusi ideal bagi semua pasangan. Mereka menyadari bahwa pilihan hidup ini masih menuai kontroversi dan belum dapat dipahami sepenuhnya oleh masyarakat yang umumnya menganut pernikahan monogami.

(kik/kik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads