Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Jokowi Mantu

Arti Mendalam di Balik Kebaya Pengantin Bersulam 'Emas' Gibran dan Selvi

Hestianingsih - wolipop
Kamis, 11 Jun 2015 20:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Foto: Endro Priherdityo/CNN Indonesia
Jakarta - Pada malam resepsi pernikahan mereka, Gibran dan Selvi tampak serasi memakai kebaya beludru dengan sulaman warna emas. Ternyata ada makna tersendiri di balik sulaman yang dalam bahasa Jawa disebut motif Untu Walang dan Lung itu. Ini dia arti mendalam di balik kebaya pengantin yang dikenakan kedua mempelai saat menjalani pesta pernikahan di Graha Saba Buana, Jalan Letjen Suprapto, Solo, Kamis (11/6/2015):

1. Motif Untu Walang
Motif untu walang ini diaplikasikan dengan sulaman payet dan mote berwarna keemasan yang menghiasi garis leher kebaya kutu baru. Dijelaskan pakar batik H. Sugiyatno, secara harfiah untu walang berarti 'gigi belalang'. Bentuk motif ini menyerupai bekas gigitan belalang dan umumnya disulam atau dibuat bordir di tepian kerah kebaya.

"Maknanya kesederhanaan, mampu tapi sederhana. Tidak menunjukkan atau menonjolkan diri. Kalau di baju pengantin menunjukkan dia bisa (menyatu) ke masyarakat biasa. Ke atas mampu, ke bawah juga sanggup," tutur Sugiyatno saat berbincang dengan Wolipop di tokonya, Busana Jawi Suratman, Jl. Teuku Umar 14, Solo, belum lama ini.

2. Motif Lung
Motif ini biasa disebut juga dengan lung-lungan, yang diaplikasikan sang desainer kebaya Selvi yaitu Hanif, dengan sulaman payet, manik-manik serta mote di tepian kebaya yang memanjang dari leher, mata kaki hingga ekor busana sepanjang satu meter. Motif lung memang biasa diterapkan pada busana pengantin khas Solo, terutama yang berbahan beludru seperti yang dikenakan Putri Solo 2009 itu.

Lung biasa digunakan untuk ornamen pelengkap busana, seperti sabuk. Tapi juga bisa diterapkan pada busana. Untuk kebaya Selvi, motif yang digunakan adalah Lung Solo.

Motif berbentuk tumbuh-tumbuhan ini memiliki makna kesinambungan. "Filosofinya dekat dengan bumi. Tidak merusak bumi, selalu bergandengan tidak ada putus. Bahagia di diri saya harus bahagia di bumi yang saya pijak. Damai di saya, damai juga bumi yang saya pijak dan sekitar kita," terang pria yang juga menyediakan kain batik untuk dikenakan para among tamu dan keluarga yang terlibat dalam pernikahan Gibran dan Selvi.

3. Motif Sidomulyo
Baik Gibran dan Selvi mengenakan bawahan berupa kain nyamping dengan motif Sidomulyo. Pemakaian motif ini pun memiliki filosofi yang cukup dalam dan memang biasa digunakan untuk resepsi pernikahan. "Motif Sidomulyo, Sidoasih, Sidomukti bisa untuk resepsi," kata Sugiyatno.

Dijelaskan pria yang telah mengelola toko batiknya sejak 1980-an ini, motif Sidomulyo berarti dalam kedudukannya, dia orang yang mulia. Tidak hanya mulia untuk pribadi namun bumi yang dipijak pun harus dimuliakan. "Orang di sekitar saya harus saya muliakan," tuturnya.

(hst/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads