Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Dear Suami, Lakukan 4 Hal Ini Saat Mendengarkan Curhat Istri

wolipop
Rabu, 11 Mar 2015 07:50 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta -

Pernahkah Anda merasa kesal saat sedang mengajak pasangan mengobrol namun dia seperti tidak benar-benar mendengarkan? Hal ini biasa dialami pasangan karena mereka belum memahami resep mengobrol yang efektif sehingga satu sama lain terpuaskan kebutuhannya untuk curhat dan merasa diperhatikan.

Aktivitas mengobrol atau berkomunikasi ini memang jadi bagian penting dalam sebuah hubungan jika ingin langgeng. Jika pasangan tidak pernah atau jarang saling bicara, menurut psikolog Anna Surti Ariani, S. Psi., M.Si. kedekatan di antara mereka bisa berkurang.

"Dengan saling bercerita, bisa lebih mengenal, kedekatan antara keluarga juga semakin bagus," ujar psikolog yang akrab disapa Nina itu saat ditemui di Restoran Blue Jasmine, Jl. Kyai Maya, Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam berbagi cerita atau curhatan ini agar tidak berakhir dengan kekesalan atau kemarahan salah satu pihak, Nina mengatakan ada empat hal yang harus diperhatikan pasangan. Berikut ini empat hal tersebut:

1. Jangan Ada Interupsi
Pada masa sekarang ini ketika teknologi semakin canggih, gadget tidak bisa lepas dari tangan Anda. Begitupun ketika sedang bersama pasangan. Kehadiran gadget ini disebut Nina sebagai salah satu hal yang bisa menginterupsi obrolan sehingga merusak suasana yang sudah terbangun.

"Kalau sedang mengobrol terus ada bunyi-bunyian, bisa mengganggu kualitas obrolan. Tiba-tiba mendapat interupsi seperti itu, orang yang sedang bicara bisa langsung blank," ujarnya.

2. Perhatikan Bahasa Tubuh
Bahasa tubuh saat menjadi pendengar ikut mempengaruhi suasana hati orang yang sudah curhat. Ketika si pendengar menunjukkan bahasa tubuh tidak antusias, seperti duduk dengan posisi malas-malasan, mood orang yang sedang bicara bisa berubah ikut menjadi tidak semangat.

"Akan berbeda kalau lawan bicara menunjukkan sikap mau mendengarkan," kata Nina. Bahasa tubuh yang tak boleh dilupakan, menurut psikolog lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu adalah kontak mata. Pastikan ada kontak mata dengan lawan bicara agar dia merasa didengarkan.

3. Hear Vs Listen
Dalam bahasa Inggris dan dunia psikologi, dua bahasa ini bisa berarti berbeda. Hear, menurut Nina, hanya berarti mendengar namun tidak benar-benar menyimak. Sedangkan listen, baru benar-benar menyimak. Kemudian ada juga active listener yaitu menyimak dan memberikan bahasa tubuh yang mengesankan antusias untuk menjadi pendengar. Idealnya, pasangan menjadi active listener sehingga lawan bicara merasa pembicaraannya benar-benar didengarkan.

4. Mindset
Satu hal lagi yang juga bisa mempengaruhi kualitas obrolan pasangan adalah mindset atau pikiran. Meskipun posisi tubuh sudah menunjukkan Anda ingin menjadi pendengar yang baik, kondisi otak belum tentu sejalan. "Terkadang kita sudah memikirkan yang nggak-nggak. Kalau mindset tertutup, cerita baru yang mau disampaikan pun nggak akan keluar," ucap Nina. Agar pasangan merasa benar-benar didengarkan, satu lagi saran Nina adalah dengan mengajukan pertanyaan yang relevan.

(eny/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads