Liputan Khusus

Wanita Perlu Tahu, Apa Saja Manfaat Perjanjian Pranikah

- wolipop Jumat, 08 Mar 2013 08:35 WIB
dok. Thinkstock
Jakarta - Prenuptial agreement (pre-nup) atau perjanjian pranikah penting untuk mengatur secara jelas mengenai harta hingga hak dan kewajiban yang akan diperoleh setelah berumahtangga. Tapi tak hanya itu saja, manfaat prenup bisa lebih luas tergantung isi perjanjian yang dibuat.

Pengacara Ade Novita, S.H., menuturkan, wanita umumnya menjadi pihak yang banyak diuntungkan dengan adanya perjanjian ini. Salah satunya keuntungannya meskipun sudah membuat pre-nup hak-hak wanita sebagai istri yang telah diatur dalam undang-undang tetap berlaku.

"Jadi dalam perjanjian pranikah tidak boleh tuh menghilangkan hak-hak yang memang diperoleh berdasarkan hukum, kayak istri memang berhak mendapat nafkah walaupun mereka memiliki perjanjian pranikah. Memang berlipat banget buat perempuan kalau ada perjanjian pranikah," papar Ade kepada wolipop di Universitas Atma Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan, Senin (4/3/2013).

Sebelum berumahtangga, Anda bisa menentukan harta apa saja yang ingin dipisah sesuai kesepakatan berdua. Ini akan berguna bila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan dalam pernikahan.

"Untuk wanita ketika mereka mau buka usaha tetap bisa melindungi karya mereka sendiri, kemudian buat wanita bekerja apa yang dihasilkan bisa dikelola sendiri dan diatur lebih jelas," tutur Ade.

Sebagai contoh, suami yang seorang pengusaha kemudian pailit hingga harus menguras semua hartanya. Apabila masih kurang, jika sejak awal harta sudah dipisahkan, pendapatan atau aset yang dimiliki istri tetap aman dan suami tidak bisa memaksa istri untuk membayarkan utangnya.

"Pengadilan juga akan tanya ada perjanjian pranikah nggak, kalau ada, yang dilelang hanya harta suami. Begitu pun kalau direksinya sang istri, jadi ini yang sangat jelas sekali, nanti pasangan yang masih survive bisa memulai usaha baru," ujar wanita berusia 37 tahun itu.

Selain itu, perjanjian pranikah juga bisa memudahkan suami istri untuk mendirikan perusahaan besar. Banyak pasangan menikah yang telah merencanakan membuat perusahaan bersama demi masa depan keluarganya. Namun jika mereka tidak memiliki perjanjian pranikah akan sulit membuat usaha bersama dalam bentuk perseroan terbatas (PT). Kenapa?

Ade menjelaskan, "UU PT kita bilang pemegang saham minimal dua, kalau suami dan istri itu hanya dianggap satu pemegang saham. Jadi harus ada pihak lain padahal kita kalau baru mau buka usaha inginnya sama orang-orang yang kita percaya, istri kan bisa dipercaya."

Nah, untuk menyiasatinya, bisa dibuat perjanjian pranikah yang menyebutkan bahwa harta suami dan istri dipisahkan. Ada dua harta terpisah, berarti ada dua badan atau pemegang saham yang berbeda pula sehingga syarat untuk mendirikan PT bisa terpenuhi. Hal ini sangat berguna apabila usaha yang awalnya hanya kecil-kecilan berkembang menjadi besar.

"Kalau usahanya kayak kantin tapi bisa buat perusahaan gede kan lebih bagus. Aturan yang kayak gitu yang bisa diatasi di pre-nup," tutup wanita lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu.

(aln/hst)