Liputan Khusus
Indahnya Punya Anak Saat Masih Muda, Pertimbangkan Lagi
Banyak anggapan yang menyebutkan, salah satu keuntungan dari menikah muda adalah sudah bisa memiliki anak di usia yang masih belia, sehingga orang tua punya cukup energi untuk mengurus anak.
Jika dilihat secara sepintas, menikah muda memang memiliki beberapa keuntungan. Salah satunya, tubuh masih sehat dan fit untuk mengurus anak, ketimbang jika seseorang baru memiliki anak di usia 30-an. Orang tua pun bisa lebih aktif mengajak anak bermain karena stamina yang masih kuat. Beda usia antara anak dan orang tua pun tak terlalu jauh sehingga ibu bisa lebih dekat dengan anak dan berperan seperti teman.
Namun di sisi lain, menikah muda juga memiliki sejumlah kendala. Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi.M.Si menjelaskan, lebih dekat jarak usia antara orang tua dan anak, tidak menjamin pola pengasuhan yang lebih baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendala lainnya, risiko konflik antara orang tua dan anak bisa lebih besar jika perbedaan usianya dekat. Ketika emosi orang tua masih meledak-ledak, dan harus menghadapi anak yang emosinya juga masih labil, yang terjadi adalah 'perang mulut' dan cekcok setiap hari.
"Anda mau berantem terus dengan anak? Anak mau dibentuk seperti apa kalau orang tuanya selalu marah-marah?" tegas psikolog yang sehari-harinya praktek di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI dan Medicare Clinic, Menara Kadin, Kuningan ini.
Meskipun setuju dengan pendapat mengurus anak di usia 45 tahun ke atas cenderung mudah lelah, namun bukan berarti kualitas kedekatan dengan anak lebih sedikit ketimbang orang tua yang usianya jauh lebih muda. Lagi-lagi Nina menyinggung soal kematangan mental si orang tua dalam mengurus anak.
"Orang tua yang muda lebih bisa mengajak anaknya main? Belum tentu," tutur Nina.
(hst/hst)










































