Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Perlukah Datang ke Terapis Pernikahan Saat Rumah Tangga Retak?

wolipop
Jumat, 16 Mar 2012 08:10 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Terapis atau konselor pernikahan memang bukan profesi yang dikenal di Indonesia ini. Sebenarnya apakah memang pasangan perlu pergi ke terapis pernikahan ketika ada masalah? Terapis pernikahan ternama Ratih Ibrahim memberikan jawabannya.


Terapis atau konselor pernikahan memang bukan profesi yang dikenal di Indonesia ini. Namun di negara maju, profesi ini cukup menjanjikan. Cukup banyak pasangan atau orang yang ketika memiliki masalah asmara datang ke terapis.

Terapis pernikahan Ratih Ibrahim menjelaskan hal itu karena di negara maju, orang-orangnya sangat independen. "Selain itu, di sana banyak disarankan ke konselor pernikahan karena banyak yang menyadari kapasitasnya nggak di situ. Orangtua mereka punya kesibukan. Makanya mereka menyarankan, lebih baik konsultasi ke konselor," tuturnya saat berbincang dengan wolipop belum lama ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagaimana dengan di Indonesia? Menurut Ratih, kebanyakan orang di Tanah Air lebih memilih ke pemuka agama, teman atau keluarga terdekat ketika mereka memiliki masalah dengan pasangan. Ia pun merasa hal itu bukan sesuatu yang salah. "Di sini ngobrol sama bude bisa kelar," ucapnya.

Kalau memang Anda memiliki masalah pernikahan, Ratih menyarankan berbicaralah pada orang yang memang cocok dengan Anda. Pastikan orang tersebut memang tepat untuk diajak bicara dan bisa membantu menylesaikan masalah.

Sekarang ini, Ratih melihat semakin banyak orang yang sadar untuk berkonsultasi pada konselor. Orang-orang yang datang padanya juga bukan hanya pasangan menikah saja, tapi juga yang belum.

Konsultasi sebelum pernikahan ini biasanya dilakukan pasangan yang merasa ada sedikit keraguan ketika akan naik pelaminan. "Ketika kita jatuh cinta kan akal sehat ketutup. Pada saat hubungan sudah berjalan, cinta memang masih menggebu-gebu, tapi ada keragu-raguan. Inilah yang dibawa ke konseling. Karena kan mengidentifikasi sendirian susah," urai psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.

Dengan dibantu konselor, pasangan bisa membantu problemanya, lebih mengenali dirinya dan pasangannya. "Kita melihat semuanya istilahnya, SWOT-nya. Kalau sudah, terserah mereka," jelas Ratih.

Sementara untuk pasangan menikah, konselor pernikahan biasanya akan memberikan saran-saran yang membuat klien mereka 'take action'. "Showing the affcetion," tandasnya.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads