Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Kehadiran Anak Buat Pernikahan Retak atau Harmonis?

wolipop
Senin, 12 Sep 2011 07:59 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Tidak sedikit pasangan menikah yang jadi lebih sering bertengkar setelah punya anak. Tapi ada juga yang semakin mesra. Apakah kehadiran anak memperkuat atau membuat retak pernikahan?

Menurut penelitian Brian Doss, PhD dari Texas A&M University dan Galena Rhoades, PhD, Scott Stanley, PhD, serta Howard Markman, PhD, dari University of Denver, anak bisa membuat sebuah pernikahan bahagia atau retak. Penelitian mereka dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology.

Dalam penelitian itu, ada 218 pasangan muda (berusia 26 tahun) menjadi responden. 132 dari pasangan itu memiliki anak di delapan tahun pertama pernikahan. Sementara 86 pasangan tidak punya anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari hasil penelitian terungkap, di kedua kelompok itu, kepuasaan terhadap pernikahan sama-sama menurun seiring berjalannya waktu. Namun kepuasaan yang menurun itu lebih cepat terjadi pada pasangan yang memiliki anak.

Setelah punya anak, seorang wanita jadi tidak bisa membicarakan konflik dengan pasangannya secara baik-baik. Sementara pada pria, dedikasi mereka pada pernikahan berkurang.

Benarkah semua pasangan menikah setelah punya anak jadi tidak harmonis lagi? Seperti dikutip dari WebMD, pasangan Maureen Kenny dan Charles Winick merasakan sebaliknya. Pasangan ini memiliki bayi kembar tiga.

"Mereka malah membuat kami semakin dekat," kata Kenny. "Kami jadi sering membicarakan mereka dan bagaimana mereka tumbuh. Kami merencanakan masa depan mereka dan selalu tidak sabar menghabiskan waktu bersama," tambahnya.

Charles menambahkan, setelah punya anak, ia dan Kenny menjadi seperti partner kerja yang baik. "Kami saling membantu dan mencoba konsisten dengan keputusan soal bagaimana membesarkan anak," ujarnya.

Menurut Psikolog Jerrold Lee Sapiro dari Santa Clara University, California, kehadiran anak memang berpengaruh besar pada sebuah hubungan pernikahan. Apakah kehadiran anak itu bisa membuat hubungan menjadi lebih baik atau lebik buruk tergantung bagaimana kondisi hubungan tersebut sebelum anak lahir.

"Anak membuat semua hal dalam hubungan itu menjadi lebih kuat," ucapnya. "Kelahiran anak pertama membuat segala sesuatu yang sudah baik dalam sebuah pernikahan, menjadi semakin baik. Sedangkan jika memang sebelumnya sudah banyak hal buruk, setelah anak lahir segala sesuatunya akan semakin buruk," urai Jerrold.

Ia menambahkan, pasangan menikah yang sebelumnya sudah punya keintiman yang baik, setelah punya anak jadi bisa semakin intim. Mereka pun akan lebih senang untuk menghabiskan waktu bersama. Sedangkan pasangan menikah yang sebelumnya sudah saling berjarak, kehadiran anak akan membuat mereka semakin jauh.

Jerrold menyarankan untuk Anda yang saat ini tengah menantikan kehadiran anak, berusahalah lebih banyak menghabiskan waktu yang berkualitas bersama pasangan. Dengan cara itu, Anda dan pasangan berarti sudah berada di jalur yang benar.

"Hal terbaik yang bisa Anda berikan pada anak adalah memiliki hubungan yang kuat dan baik dengan pasangan. Hal itu membuat mereka merasa aman," jelas Kepala Departemen Psikologi Konseling di Universitas Santa Clara, California itu.

Setelah punya anak, Anda dan pasangan pun harus terus memperkuat hubungan pernikahan itu. Memang rasanya tidak ada waktu lagi untuk menghabiskan waktu berdua. Namun Psikolog Arthur Kovacs menyarankan cobalah untuk meluangkan waktu sedikit setidaknya seminggu sekali. Kalau perlu Anda dan pasangan membuat jadwal untuk berduaan.

"Dengan membuat rencana, Anda dan pasangan jadi punya kewajiban untuk menaatinya," jelas Kovacs.

Kovacs menambahkan pasangan menikah juga tidak boleh melupakan pentingnya komunikasi. Komunikasi tersebut juga harus dilakukan secara jujur. Katakan perubahan apa yang Anda rasakan setelah menjadi orangtua.

"Wanita biasanya harus berhadapan dengan perubahan psikologis. Sementara pria harus beradaptasi dengan perasaan kehilangan orang yang selalu ada bersamanya. Dia jadi harus berbagi wanita yang selama ini ada di sisinya. Pria bisa menjadi emosional," urai Kovacs.

(eny/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads