Bersahabat Baik Dengan Ibu Mertua
wolipop
Selasa, 04 Mei 2010 13:33 WIB
Jakarta
-
Beragam versi cerita sinetron hingga film komedi romantis tentang para ibu mertua mengisahkan betapa dirinya seringkali menjadi momok menakutkan, minimal menyebalkan, dan merupakan sumber terjadinya percekcokan di dalam perkawinan putra tersayang dengan sang istri alias menantu perempuan. Sebenarnya, yang terjadi tak seburuk itu. Ibu mertua juga merupakan orang tua Anda yang bisa diajak bersahabat.
Ingat pepatah kondang “Tak kenal maka tak sayang”? Percayakah Anda bahwa semakin lama Anda dan keluarga suami bergaul erat, semakin besar pula kemungkinan terwujudnya perdamaian di dalam rumah tangga sendiri?
Meski kebanyakan hubungan tampak rapuh di awal, namun jika semua dimulai atas dasar persamaan, hubungan itu akan bertumbuh dan menguat, seiring matangnya pernikahan Anda. Ketika hubungan yang terjalin di antara suami dan istri berjalan baik, maka relasi dengan mertua dan saudara ipar dengan sendirinya bakal semakin positif. In-Laws are a Package Deal!
Ketika seseorang berkata, “Ya, saya bersedia” kepada pasangannya, maka kalimat atau janji yang sama berlaku juga terhadap seluruh keluarga suami atau istri tercinta. Anda akan memiliki ikatan kuat dengan keluarganya seperti ikatan kuat yang Anda miliki dengannya. Idealnya, pola yang sehat sebaiknya dijalin sebelum memasuki sebuah hubungan penuh komitmen dan memiliki jangka panjang, seperti perkawinan. menyatukan dua kepala saja cukup sulit, apalagi dua keluarga dengan latar belakang yang berbeda.pasangan semata.
Seringkali, hal yang mempersulit seseorang untuk menjalin hubungan yang ideal adalah masalah kepatuhan seorang anak terhadap orang tuanya. Pria atau wanita yang menikah tentu sudah dianggap dewasa dan sudah sewajarnya jika mereka paham bahwa mereka haruslah lebih loyal kepada pasangan daripada kepada orang tua. Kegagalan menentukan loyalitas akan menyebabkan seseorang menjadi korban tarik-menarik antar anggota keluarga yang lain, yang mengharapkan dukungan. Kadang, perubahan loyalitas tadi akan menghancurkan hati orang tua, tapi belajar untuk melepaskan adalah bagian dari proses pendewasaan diri (baik bagi si anak, terutama bagi orang tua).
Salah satu sikap bijaksana untuk menghindari terjadinya krisis dalam sebuah keluarga adalah dengan belajar menghormati impian orang lain. Misalnya, impian atau harapan pasangan A tentang minat mereka terhadap hal-hal tertentu, kegiatan, dan pemilihan teman mungkin saja berbeda dari pasangan B. Impian keluarga yang tipikal biasanya adalah pencapaian, kesuksesan, status sosial, anak, agama, dan keterlibatan lingkungan sosial. Penolakan satu pasangan untuk menghormati rencana dan harapan pasangan yang lain (misalnya keputusan untuk menunda memiliki anak atau sama sekali tak mau memiliki anak) akan menimbulkan problem-problem lain.
Terkadang harapan berlebihan dari orang tua terhadap pasangan anaknya juga menjadi kendala. Sebisa mungkin beri pengertian oleh masing-masing orang tua untuk menerima menantunya dengan terbuka. Beritahu pada mereka bahwa kendali pernikahan ada di tangan Anda dan pasangan.
Jangan juga membawa opini tak berdasar terhadap keluarga pasangan. Sebisa mungkin buka hati dan pikiran Anda untuk mengenali mereka lebih dalam.
Setelah kedua pihak berusaha membuka jalur komunikasi, dengan tulus punya kesadaran untuk menjalin hubungan baik, dan menetapkan harapan yang realistis terhadap satu sama lain, kadangkala satu-satunya solusi untuk memelihara hubungan penuh damai antara menantu dan mertua yang bermasalah adalah dengan menjaga jarak (secara fisik) sementara waktu.
Di masa kini, pasangan muda yang sedang membentuk keluarga baru tak lagi menetap terlalu dekat dengan keluarga besar mereka seperti generasi-generasi di masa lalu. Sibuk dengan sekolah, pekerjaan (karier), dan teman-teman menjadi alasan yang cukup sopan dipakai oleh orang-orang muda untuk melarikan diri dari keharusan bersosialisasi dengan keluarga yang bermasalah atau pindah ke lokasi baru yang berjauhan.
Jarak seringkali dapat membantu menjaga perdamaian dan menumbuhkan kerinduan. Bertemu atau bicara lewat telepon satu kali seminggu untuk saling menanyakan kabar cukup ideal untuk memelihara hubungan baik dan sehat dengan ipar dan mertua. dengan begini Anda dan mertua mulai belajar menerapkan sikap murah hati, saling toleransi, dan kurangi “hobi” saling menghakimi.
Bersikaplah bijak. Alih-alih Anda melulu menunjuk sang ibu mertua sebagai biang malapetaka dan keonaran, cobalah melakukan introspeksi. Anda dan ibu mertua sama-sama bukan malaikat. Artinya besar kemungkinan Anda juga melakukan kesalahan. Sulitkah menjadi menantu kesayangan? Tentu saja tidak. Weddingku tak hanya bisa menunjukkan kesalahan tapi kami pun menyediakan jalan keluar. Anda bakal bisa bilang, “I Love You” kepadanya. Sooner than you think!
(kee/fer)
Ingat pepatah kondang “Tak kenal maka tak sayang”? Percayakah Anda bahwa semakin lama Anda dan keluarga suami bergaul erat, semakin besar pula kemungkinan terwujudnya perdamaian di dalam rumah tangga sendiri?
Meski kebanyakan hubungan tampak rapuh di awal, namun jika semua dimulai atas dasar persamaan, hubungan itu akan bertumbuh dan menguat, seiring matangnya pernikahan Anda. Ketika hubungan yang terjalin di antara suami dan istri berjalan baik, maka relasi dengan mertua dan saudara ipar dengan sendirinya bakal semakin positif. In-Laws are a Package Deal!
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seringkali, hal yang mempersulit seseorang untuk menjalin hubungan yang ideal adalah masalah kepatuhan seorang anak terhadap orang tuanya. Pria atau wanita yang menikah tentu sudah dianggap dewasa dan sudah sewajarnya jika mereka paham bahwa mereka haruslah lebih loyal kepada pasangan daripada kepada orang tua. Kegagalan menentukan loyalitas akan menyebabkan seseorang menjadi korban tarik-menarik antar anggota keluarga yang lain, yang mengharapkan dukungan. Kadang, perubahan loyalitas tadi akan menghancurkan hati orang tua, tapi belajar untuk melepaskan adalah bagian dari proses pendewasaan diri (baik bagi si anak, terutama bagi orang tua).
Salah satu sikap bijaksana untuk menghindari terjadinya krisis dalam sebuah keluarga adalah dengan belajar menghormati impian orang lain. Misalnya, impian atau harapan pasangan A tentang minat mereka terhadap hal-hal tertentu, kegiatan, dan pemilihan teman mungkin saja berbeda dari pasangan B. Impian keluarga yang tipikal biasanya adalah pencapaian, kesuksesan, status sosial, anak, agama, dan keterlibatan lingkungan sosial. Penolakan satu pasangan untuk menghormati rencana dan harapan pasangan yang lain (misalnya keputusan untuk menunda memiliki anak atau sama sekali tak mau memiliki anak) akan menimbulkan problem-problem lain.
Terkadang harapan berlebihan dari orang tua terhadap pasangan anaknya juga menjadi kendala. Sebisa mungkin beri pengertian oleh masing-masing orang tua untuk menerima menantunya dengan terbuka. Beritahu pada mereka bahwa kendali pernikahan ada di tangan Anda dan pasangan.
Jangan juga membawa opini tak berdasar terhadap keluarga pasangan. Sebisa mungkin buka hati dan pikiran Anda untuk mengenali mereka lebih dalam.
Setelah kedua pihak berusaha membuka jalur komunikasi, dengan tulus punya kesadaran untuk menjalin hubungan baik, dan menetapkan harapan yang realistis terhadap satu sama lain, kadangkala satu-satunya solusi untuk memelihara hubungan penuh damai antara menantu dan mertua yang bermasalah adalah dengan menjaga jarak (secara fisik) sementara waktu.
Di masa kini, pasangan muda yang sedang membentuk keluarga baru tak lagi menetap terlalu dekat dengan keluarga besar mereka seperti generasi-generasi di masa lalu. Sibuk dengan sekolah, pekerjaan (karier), dan teman-teman menjadi alasan yang cukup sopan dipakai oleh orang-orang muda untuk melarikan diri dari keharusan bersosialisasi dengan keluarga yang bermasalah atau pindah ke lokasi baru yang berjauhan.
Jarak seringkali dapat membantu menjaga perdamaian dan menumbuhkan kerinduan. Bertemu atau bicara lewat telepon satu kali seminggu untuk saling menanyakan kabar cukup ideal untuk memelihara hubungan baik dan sehat dengan ipar dan mertua. dengan begini Anda dan mertua mulai belajar menerapkan sikap murah hati, saling toleransi, dan kurangi “hobi” saling menghakimi.
Bersikaplah bijak. Alih-alih Anda melulu menunjuk sang ibu mertua sebagai biang malapetaka dan keonaran, cobalah melakukan introspeksi. Anda dan ibu mertua sama-sama bukan malaikat. Artinya besar kemungkinan Anda juga melakukan kesalahan. Sulitkah menjadi menantu kesayangan? Tentu saja tidak. Weddingku tak hanya bisa menunjukkan kesalahan tapi kami pun menyediakan jalan keluar. Anda bakal bisa bilang, “I Love You” kepadanya. Sooner than you think!
(kee/fer)
Pakaian Wanita
3 Rekomendasi Cardigan Wanita Versatile! Simpel, Timeless, dan Nyaman Dipakai ke Bepergian
Home & Living
Lagi Cari Standing Mirror? Ini 3 Rekomendasi Berbagai Ukuran Cermin yang Bisa Dipilih
Elektronik & Gadget
iPhone 16 Plus Masih Menarik Dibeli, Layar Besar dan Baterai Jadi Andalan
Elektronik & Gadget
Polytron Partymax PPS 4PH12, Speaker Bluetooth yang Tahan 15 Jam Nonstop
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Tahu Diselingkuhi, Istri Malah Tawarkan Untuk 'Sewa Suami' ke Selingkuhan
Kisah Viral Pria Nikahi Wanita 23 Tahun Lebih Tua, Istri Sering Dikira Ibunya
Wanita Ini Kaget, Ibunya yang Sudah Wafat Tercatat Menikah dengan Pamannya
TikTok Viral Verificator
Viral Souvenir Pernikahan Unik Berisi Sayur Segar, Tamu Pulang Bawa Labu Siam
TikTok Viral Verificator
Tidak Gengsi! Viral Pasangan Gen Z yang Pilih Nikah Sederhana di KUA Malang
Most Popular
1
8 Momen Artis Mudik Lebaran 2026, Bella Shofie Pakai Sheet Mask di Mobil
2
Pakai Gaun Ketat & High Heels 20 Cm, Kim Kardashian Tersandung di Party Oscar
3
Dikenal dari Keluarga Agamis, Bintang Reality Show Ini Didakwa Pelecehan Anak
4
Lee Young Ae Tapak Tilas ke Jeju, Visualnya Tetap Sama Setelah 22 Tahun
5
9 Parfum Tahan Lama Terbaik untuk Lebaran, Wanginya Awet Tanpa Semprot Ulang
MOST COMMENTED











































