Mengunjungi Batik'e Lok Iwon, Tempat Pembuatan Batik Pesanan Raja Belanda

Pradito Rida Pertana - wolipop Minggu, 23 Feb 2020 16:31 WIB
kemeja batik raja belanda Foto: Pradito Rida Pertana. Batik'e Lok Iwon
Yogyakarta -

Raja Belanda, Willem-Alexander memesan kemeja batik di Batik'e Lok Iwon, KT I/421, RT.36 RW.09, Kelurahan Patehan, Kecamatan Keraton, Kota Yogyakarta. Kemeja batik karya Iwan Setiawan (47) ini mengusung motif kontemporer klasik yang dipadukan motif batik tradisional.

Mengunjungi kediamannya, Iwan tampak sedang sibuk menyelesaikan salah satu pesanan batik Raja Belanda. Tampak tangan kanannya tengah mencelupkan canting ke dalam wajan kecil berisi lilin.

Selanjutnya, ia meniup canting tersebut lalu menggoreskannya ke dalam kain yang ia pegang dengan tangan kiri. Sesekali Iwan melihat dengan seksama hasil goresannya tersebut.

Pria yang biasa disapa Lek Iwon ini menjelaskan, bahwa pemesanan itu bermula saat Wakil Duta Besar Belanda untuk Indonesia mengunjungi kampung siber di RT.36 RW.09, Kelurahan Patehan, Kecamatan Keraton, Kota Yogyakarta. Ketika tengah mengajari ibu-ibu kursus membatik, Wakil Duta Besar mampir ke workshopnya.

"Awalnya Raja (Belanda) pesan baju itu saya tidak begitu mengira ya. Karena prosesnya waktu pertama kali datang itu kan dimulai dari kunjungan Wakil Duta Besar Belanda untuk Indonesia ke kampung siber sini," kata Lek Iwon saat ditemui di workshopnya, Minggu (23/2/2020).

"Terus dia (Wakil Duta Besar Belanda) mampir ingin lihat batik saya, setelah itu yasudah dia pulang. Saya tidak berpikir waktu itu ada kunjungan lanjutan," imbuhnya.

Batik'e Lok IwonBatik'e Lok Iwon Foto: Pradito Rida Pertana



Pria kelahiran Yogyakarta 11 Desember 1972 ini melanjutkan, ternyata selang beberapa hari ia mendapat kunjungan dari Ketua Bidang Politik dan Keamanan Kedutaan Besar Belanda, Prof. Roel Van Der Feen. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, pada kunjungan tersebut Roel tampak mengambil beberapa foto batik yang ada di workshop milik Iwon.

"Dia (Roel) mampir ke sini lagi, lihat produk-produk batik saya dan dia foto-foto lalu ditunjukkan ke Raja (Belanda), ternyata Rajanya mau. Waktu itu dia mau beli langsung tapi ukurannya kurang besar," ucapnya.

Batik'e Lok IwonBatik'e Lok Iwon Foto: Pradito Rida Pertana



Oleh karena itu, Roel memesan dua potong kemeja batik kepada Lek Iwon, pemesanan itu dilakukan pada bulan Januari. Di mana satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Raja Belanda.

"Terus dia bilang 'bikinkan 2 untuk king Belanda, saya Maret nanti (tanggal 11) mau ke sini' katanya gitu," ujar Iwon.

Mendapat pesanan dari seorang Raja, Lek Iwon langsung berinisiatif untuk menggarapnya. Padahal, masih terdapat waktu 2 bulan untuk menyelesaikan 2 potong kemeja batik dengan size XL dan XXL internasional.

"Terus pesanannya langsung saya bikin. Nah, selang beberapa hari Roel datang lagi, dan saya tunjukkan kalau sudah saya proses, sudah mau jadi. Dia kaget kok sudah mau jadi tapi tidak apa-apa," katanya.

Menyoal lama pengerjaan batik pesanan Raja Belanda, pria bertopi ini mengaku tidak memerlukan waktu beberapa hari. Hal itu karena ia harus fokus dalam menyelesaikan batik tersebut.

"Karena sudah terbiasa, 1 baju batik itu saya selesaikan dalam waktu 5 hari, tapi itu harus fokus ya karena prosesnya dicanting semua, dalam sehari pengerjaannya 5-6 jam. Jadi 2 batik itu 10 hari mas," katanya.

Menyoal adanya pesanan khusus dari sang Raja terkait motif, Lek Iwon mengaku tidak ada. Karena itu, ia mengusung motif kontemporer klasik dengan memadukan motif tradisional untuk batik Raja Belanda.

"Motif klasik kontemporer ya, jadi kontemporer saya itu tetap ada unsur atau nuansa batiknya kental dengan batik tradisionalnya, tapi dengan gaya saya (membatik). Untuk motifnya (tradisional) seperti Kawung, Parang, Sisik," ucapnya.

"Karena ciri khas batik saya itu kontemporernya itu gerakan ekspresif dari canting ya, yang meliuk-liuk deras di atas kain. Mungkin itu yang membuat rajanya tertarik," sambung Lek Iwon.

Sedangkan untuk teknis pembuatan batik, pria yang mengenal batik sejak kelas 5 SD ini pertama menggunakan kain polis berwarna putih. Selanjutnya kain tersebut ia lukis menggunakan canting dan terakhir menggunakan warna hitam sebagai warna dasar kemeja pesanan Raja Belanda.

"Untuk pewarna batik saya menggunakan indigo sol dari Jerman, kenapa? Karena uniknya kalau kena sinar matahari itu pelan-pelan akan keluar warnanya," ucapnya.

Batik'e Lok IwonBatik'e Lok Iwon Foto: Pradito Rida Pertana



Lebih lanjut, setelah merampungkan satu potong, ia kembali mendapat kunjungan dari Duta Besar Belanda. Kunjungan tersebut dalam rangka survei lokasi yang akan didatangi oleh Raja dan Ratu Belanda pada tanggal 11 Maret mendatang.

"Ternyata sekalian survei waktu itu, karena Raja Belanda dan Ratu Maxima mau kunjungan ke sini (Yogyakarta bulan Maret)," ujarnya.

"Jadi besok itu rencananya saya disuruh menyerahkan sendiri batiknya kepada Raja Belanda," imbuh Lek Iwon.



Terkait harga perpotong batik tersebut, Lek Iwon mengaku sempat kebingungan dalam menentukan harga. Namun, ia mengaku mematok harga wajar untuk batik pesanan Raja Belanda.

"Saya tidak ingin dinilai negatif, jadi saya kasih harga wajar, sebetulnya saya tidak dibayar juga tidak masalah. Karena saya sudah senang banget batik saya dipesan Raja, tapi Prof. Roel tanya berapa dihargai?," katanya.

"Nah pertanyaan itu tidak saya jawab selama 2 minggu karena bingung mau saya hargai berapa. Tapi Prof. Roel tanya terus dan harus dihargai, akhirnya saya jawab, satu lembarnya (kain batik) Rp 800 ribu karena ini eksklusif dan jahitnya full furing Rp 150 ribu," imbuhnya.



Simak Video " Cantiknya Kain Pelangi Jumputan dari Palembang"
[Gambas:Video 20detik]
(agm/agm)