Kagumnya Melihat Budaya Antre di Jepang Tanpa Harus Disuruh
Budaya antre rasanya sudah mendarah daging bagi masyarakat Jepang. Bagaimana tidak, di setiap tempat yang dikunjungi Wolipop selalu saja ada antrean yang rapih tanpa harus dijaga oleh petugas. Kontras sekali dengan apa yang terjadi di Jakarta.
Beberapa waktu yang lalu, Wolipop sempat berlibur di Jepang, mengunjungi beberapa tempat dari Tokyo hingga Osaka. Ada satu hal yang membuat kami takjub dan membuat rasa nyaman yang sangat tinggi. Di tempat keramaian atau dimanapun, semua orang dengan sabar mengantre tanpa harus menyerobot. Di jalanan, di loket atau di ruang publik manapun, semua orang dengan inisiatif membentuk garis antrean dan berdiri manis di belakang orang yang sudah ada sebelumnya.
Kontras dengan Jakarta, budaya mengantre yang sudah diajarkan di sekolah dasar pun sepertinya tak berlaku. Memang masih ada orang yang memiliki etiket dan mengantre tapi nampaknya hanya bisa dihitung dengan jari. Tak hanya anak muda, ibu-ibu pun dengan berani menyelak antrean tanpa lihat kanan-kiri. Jika ditegur hanya buang muka dan pura-pura tak mendengar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kamipun bertanya kembali bagaimana caranya agar budaya mengantre seperti ini bisa diterapkan di negara sendiri. “Apakah ada yang salah dengan sistem dan hukum?” Iapun kembali menjawab. “Saya rasa tidak ada hubungannya dengan apapun, cukup dengan diri sendiri. Semua mulai dari diri sendiri dan semuanya akan memperlihatkan siapa kita.”
Ia juga menjelaskan menyerobot antrean bisa saja terjadi jika memang ada keperluan orang yang mendesak seperti ada yang akan melahirkan atau sakit parah. Semua bisa dilakukan dengan meminta izin baik-baik kepada orang-orang yang akan diserobot antreannya. Semua pasti akan mengerti dan dengan maklum mempersilahkan jika alasannya jelas.
Melihat fenomena orang Jepang yang jika berjalan seperti sedang terburu-buru dan tidak melihat kanan-kiri, kamipun kembali bertanya. “Bukankah semua orang terlihat buru-buru seperti sedang ada keperluan penting?” Iapun kembali menjawab bahwa semua orang pasti memiliki kepentingan masing-masing namun bukan berarti ia lebih penting dari yang lain dan harus mengorbankan hak orang lain dan membuat kesal.
Antrean yang kami amati begitu disiplin juga terjadi di antrean tangga eskalator dimana semua orang berdiri di sebelah kiri dan jika berpasangan, salah satunya tetap berdiri di belakang dan bukan menghalangi jalan. Mirip dengan Singapura namun di Jepang lebih tegas. Orang di belakang pasti akan menegur Anda dan kemudian meminta Anda bergeser.
(fer/fer)










































