Deretan Brand Terkenal yang Tutup Toko di Rusia, Hermes, Chanel Hingga Ikea

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 10 Mar 2022 08:43 WIB
LONDON, ENGLAND - JANUARY 24:  A person walks by the Chanel store on Bond Street on January 24, 2011 in London, England. Despite the expected retail slump, sales of luxury goods are booming, with many companies posting large profits.  (Photo by Dan Kitwood/Getty Images) Foto: Dan Kitwood
Jakarta -

Invasi yang dilancarkan Rusia ke Ukraina menimbulkan dampak dalam banyak hal. Selain keselamatan orang-orang di kedua belah negara, perang yang terjadi dua minggu belakangan ini juga mempengaruhi industri fashion. Di Rusia, dilaporkan bahwa beberapa brand terkenal memilih untuk tutup toko atau menunda bisnis karena situasi yang sedang tidak kondusif.

Sejumlah perusahaan internasional memutuskan untuk menutup tokonya di Rusia, termasuk brand-brand fashion high end, seperti Hermes, Cartier, dan Chanel. Meski kondisi di Rusia sejauh ini bisa dibilang aman dibanding Ukraina, dikatakan jika operasi bisnis menjadi sulit karena perang yang terjadi di antara kedua negara.

"Mengingat semakin khawatirnya kami dengan situasi sekarang, ketidakjelasan yang semakin tinggi, dan kerumitan dalam beroperasi, Chanel memutuskan untuk sementara menghentikan bisnisnya di Rusia," ungkap brand dalam sebuah postingan di LinkedIn.

Dilansir Reuters, brand-brand lain di bawah grup LVMH, seperti Christian Dior, Givenchy, Kenzo, TAG Heuer and Bulgari telah menutup 124 butiknya sejak Minggu lalu. Begitu juga dengan grup Kering yang membawahi Gucci, Saint Laurent, Bottega Veneta, dan Boucheron. Meski begitu mereka akan tetap membayarkan gaji para karyawan.

Hal ini tentu disayangkan mengingat cukup banyak orang Rusia yang mengonsumsi barang-barang mewah. Tapi analis mengatakan jika proposisi penjualannya memang relatif lebih sedikit dibanding Amerika Serikat atau China.

Selain brand-brand mahal, laporan terbaru menyebutkan bahwa lebih dari 100 perusahaan internasional menutup atau berencana berhenti beroperasi di Rusia. Merek-merek tersebut antara lain, Adidas, Tesco, Ikea, Asda, Zara, Estee Lauder, Spotify, Ikea, Disney, H&M hingga Mothercare. Begitu juga dengan gerai makanan, seperti KFC, Pizza Hut, Heineken, Coca-cola, dan McDonald yang sudah mulasulit ditemukan di sana.

Salah satu alasannya adalah karena para brand bersimpati dengan Ukraina. "Kami terkejut dan sedih melihat tragedi yang terjadi di Ukraina. Kami mendukung orang-orang Ukraina dan hati kami bersimpati dengan orang-orang yang terkena imbas. Perang Rusia melawan Ukraina adalah serangan yang tidak diprovokasi dan benar-benar tidak dibenarkan," kata CEO Heineken, Dolf van den Brink.

(ami/ami)