Tips Membangun Pernikahan yang Harmonis untuk Pasangan Posesif
wolipop
Senin, 12 Mei 2014 08:30 WIB
Jakarta
-
Dear Mba Ratih, saya akan menikah dengan pasangan dalam waktu dekat. Tapi saya memiliki pengalaman yang kurang baik di masa lalu, diselingkuhi pacar dan hubungan orangtua yang kurang baik (ayah saya pernah menduakan ibu saya). Hal ini membuat saya menjadi posesif terhadap pasangan dan selalu mengharapkan perhatian darinya. Saya akan sedih jika ada hal lain yg membuatnya 'melalaikan' saya. Saya sadar kalau mungkin perilaku saya membatasi kebebasannya atau membuat dia tidak nyaman. Dulu, kami beberapa kali bertengkar dan dia sering mengalah untuk saya.
Kadang saya berpikir, apa perilaku saya berlebihan dan mengekang dia? Ketika saya mencoba sharing dengan dia, dia menjawab tidak apa-apa karena saya sudah menjadi tanggungjawabnya untuk dia perhatikan, dia ingin saya nyaman dengannya. Sebagai jalan tengah saya selalu menawarkan untuk menemani dan melakukan kegiatan yang dia sukai bersama. Namun saya khawatir dia hanya ingin membahagiakan saya, tetapi sebenarnya dia menyimpan keinginan tertentu (misal utk memiliki 'me time' tanpa saya). Saya takut suatu saat itu menjadi bumerang untuk hubungan kami. Di sisi lain, saya punya perasaan 'insecure' ketika kami berpisah dan tidak ada komunikasi yang intens. Wajarkah hal tersebut Mba Ratih? Bagaimana seharusnya saya mengatasi perasaan itu? Saya tidak ingin bersikap posesif pada pasangan, namun di sisi lain saya selalu merasa tidak nyaman saat dia tidak bersama saya. Terima kasih dan mohon sarannya.
(NN, 24 Tahun)
Jawab:
Dear NN,
Pertama-tama saya ucapkan selamat atas rencana pernikahan kamu, semoga berjalan dengan lancar. Memulai suatu tahap kehidupan baru, seperti pernikahan memang membutuhkan persiapan yang matang. Mulai dari refleksi diri, menilai apa sikap dan perilaku yang harus ditingkatkan dan dikurangi dalam rangka menjalani proses kehidupan pernikahan dengan pasangan secara sehat dan menyenangkan.
Pada dasarnya menjalin hubungan pernikahan yang sehat dengan pasangan adalah ibarat seperti menciptakan ruang yang nyaman untuk ditempati yang kemudian dapat disebut sebagai rumah. Pastikan ruangan tersebut, rapih, bersih, sirkulasi udara baik sehingga orang yang berada di dalamnya merasa senang. Artinya ciptakanlah suasana yang menyenangkan, rasakan dan nikmati saat-saat bersama dengan suami terbebas dari kecurigaan, ketakutan, dan pikiran-pikiran negatif yang sebenarnya tidak terjadi. Suasana yang menyenangkan, melihat senyum dan sikap istri yang hangat akan membuat suami merasa nyaman berada dekat kamu dan selalu rindu untuk bertemu dengan istrinya. Saat inilah berarti ruangan tersebut menjadi rumah untuk suami dan untuk kalian berdua.
Ruang yang kemudian disebut rumah ini adalah pada siapa kalian akan kembali setelah seharian beraktivitas. Artinya baik kamu maupun suami tidak selalu 24 jam berada di rumah karena masing-masing perlu bekerja, perlu bersosialisasi, perlu mengembangkan diri atau melakukan hal-hal yang menyehatkan diri sesuai dengan minatnya, seperti: melakukan hal-hal yang menjadi hobi atau bakatnya. Pada saat inilah penting untuk ada rasa saling percaya, memberikan kebebasan yang bertanggung jawab karena baik kamu maupun pasangan butuh melakukan aktivitas-aktivitas tersebut untuk kesehatan, produktivitas dan pengembangan pribadi. Namun tenang karena setelah beraktivitas kalian berdua akan kembali ke rumah dan rumah terasa jauh lebih hangat dan nyaman. Intinya fokuslah pada menciptakan hubungan yang sehat, atasi rasa tidak nyaman dengan berpikir dan melakukan hal-hal positif yang dapat meningkatkan kualitas diri kamu. Bangun keterbukaan dalam berkomunikasi dengan pasangan, tetap bersikap objektif dan tingkatkan empati. Salam hangat NN.
(eny/aln)
Kadang saya berpikir, apa perilaku saya berlebihan dan mengekang dia? Ketika saya mencoba sharing dengan dia, dia menjawab tidak apa-apa karena saya sudah menjadi tanggungjawabnya untuk dia perhatikan, dia ingin saya nyaman dengannya. Sebagai jalan tengah saya selalu menawarkan untuk menemani dan melakukan kegiatan yang dia sukai bersama. Namun saya khawatir dia hanya ingin membahagiakan saya, tetapi sebenarnya dia menyimpan keinginan tertentu (misal utk memiliki 'me time' tanpa saya). Saya takut suatu saat itu menjadi bumerang untuk hubungan kami. Di sisi lain, saya punya perasaan 'insecure' ketika kami berpisah dan tidak ada komunikasi yang intens. Wajarkah hal tersebut Mba Ratih? Bagaimana seharusnya saya mengatasi perasaan itu? Saya tidak ingin bersikap posesif pada pasangan, namun di sisi lain saya selalu merasa tidak nyaman saat dia tidak bersama saya. Terima kasih dan mohon sarannya.
(NN, 24 Tahun)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dear NN,
Pertama-tama saya ucapkan selamat atas rencana pernikahan kamu, semoga berjalan dengan lancar. Memulai suatu tahap kehidupan baru, seperti pernikahan memang membutuhkan persiapan yang matang. Mulai dari refleksi diri, menilai apa sikap dan perilaku yang harus ditingkatkan dan dikurangi dalam rangka menjalani proses kehidupan pernikahan dengan pasangan secara sehat dan menyenangkan.
Pada dasarnya menjalin hubungan pernikahan yang sehat dengan pasangan adalah ibarat seperti menciptakan ruang yang nyaman untuk ditempati yang kemudian dapat disebut sebagai rumah. Pastikan ruangan tersebut, rapih, bersih, sirkulasi udara baik sehingga orang yang berada di dalamnya merasa senang. Artinya ciptakanlah suasana yang menyenangkan, rasakan dan nikmati saat-saat bersama dengan suami terbebas dari kecurigaan, ketakutan, dan pikiran-pikiran negatif yang sebenarnya tidak terjadi. Suasana yang menyenangkan, melihat senyum dan sikap istri yang hangat akan membuat suami merasa nyaman berada dekat kamu dan selalu rindu untuk bertemu dengan istrinya. Saat inilah berarti ruangan tersebut menjadi rumah untuk suami dan untuk kalian berdua.
Ruang yang kemudian disebut rumah ini adalah pada siapa kalian akan kembali setelah seharian beraktivitas. Artinya baik kamu maupun suami tidak selalu 24 jam berada di rumah karena masing-masing perlu bekerja, perlu bersosialisasi, perlu mengembangkan diri atau melakukan hal-hal yang menyehatkan diri sesuai dengan minatnya, seperti: melakukan hal-hal yang menjadi hobi atau bakatnya. Pada saat inilah penting untuk ada rasa saling percaya, memberikan kebebasan yang bertanggung jawab karena baik kamu maupun pasangan butuh melakukan aktivitas-aktivitas tersebut untuk kesehatan, produktivitas dan pengembangan pribadi. Namun tenang karena setelah beraktivitas kalian berdua akan kembali ke rumah dan rumah terasa jauh lebih hangat dan nyaman. Intinya fokuslah pada menciptakan hubungan yang sehat, atasi rasa tidak nyaman dengan berpikir dan melakukan hal-hal positif yang dapat meningkatkan kualitas diri kamu. Bangun keterbukaan dalam berkomunikasi dengan pasangan, tetap bersikap objektif dan tingkatkan empati. Salam hangat NN.
(eny/aln)
Pakaian Wanita
Hijab Sering Geser? Kamu Harus Punya Set Hijab dan Ciput Ini
Pakaian Wanita
Stop Bingung Pakai Celana Apa! Pilihan Celana Wanita Ini Nggak Pernah Salah Dipakai
Home & Living
Detail Kecil yang Sering Terlewat, Pilihan Dekorasi Ini Bikin Rumah Terlihat Lebih Nyaman
Perawatan dan Kecantikan
Toner Pad asal Korea Favorit Banyak Orang, Mediheal Pad Series untuk Kulit Sehat & Glowing!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Menghadapi Kekasih yang Suka Berubah-ubah Sikap, Kadang Mesra dan Cuek
Si Dia Ngaku Tidak Mau Pacaran Dulu, Cuma Alasan atau Sungguhan?
Tidak Cocok dengan Keluarga Kekasih, Akankah Berpengaruh Setelah Menikah?
Cara Menghadapi Pacar yang Terlalu Baik Pada Wanita Lain
Cara Mengatasi Rasa Kesal Pada Ibu Mertua yang Sikapnya Mudah Berubah
Most Popular
1
Potret Awet Muda Rachel McAdams di Usia 47, Raih Bintang Hollywood Walk of Fame
2
Jackie Chan Hadir di Milan Fashion Week, Disebut Seperti 'Bapak-bapak Nyasar'
3
Viral Wanita Pakai Cairan Sperma Beku Suaminya untuk Skincare
4
Gaya Mahalini saat Liburan di Maroko, Tetap Stylish Sambil Gendong Anak
5
Foto: Gaya Macron Pakai Kacamata Hitam di Forum Dunia, Dipuji Bak Top Gun
MOST COMMENTED











































