Yang Buat Ibu Masa Kini Tertekan Saat Mengasuh Anak: Mertua dan Media Sosial

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 23 Jun 2016 16:04 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Menjadi seorang ibu adalah tugas terberat namun paling membahagiakan bagi banyak wanita. Punya tanggung jawab terbesar dalam mengasuh anak, mereka pun sering mendapatkan tekanan dari berbagai pihak. Apalagi untuk para mama dengan anak di usia krusial yakni empat hingga lima tahun. Tak jarang, tekanan tersebut membuat mereka terpengaruh kemudian jadi salah asuh.

Melalui Focus Group Discussion yang diadakan Joy Parenting, tekanan yang dirasakan para ibu bentuknya memang bisa macam-macam. Mulai dari insecure dengan pencapaian akademis anak, takut buah hati terlibat salah pergaulan, hingga khawatir akan potensi mereka di masa depan.

Menurut psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, tekanan yang dialami ibu terkait anak bisa muncul dari faktor internal dan eksternal. Tekanan yang bersifat internal bisa dihasilkan dari berbagai hal, misalnya pengalamannya sendiri sebagai anak, tingkat pendidikan, hingga cita-cita tak tersampaikan. Sementara dari luar, komunitas sesama orangtua murid, mertua, suami, sampai media sosial juga dapat membuat ibu merasa terbebani.

Dua selebriti yang hadir yakni Shelomita dan Artika Sari Devi pun berbagi mengenai tekanan yang mereka hadapi sehari-hari sebagai ibu. Shelomita yang merupakan ibu dengan lima anak mengaku lebih khawatir mengenai kebahagiaan buah hati. Begitu pula dengan Artika yang lebih takut jika dua putrinya tidak mendapat bekal yang baik untuk masa depan mereka. Keduanya pun punya cara masing-masing dalam menghadapinya

"Dengan lima anak dengan lima karakter yang berbeda, sehari-hari banyak banget ketakutan. Tapi (ketakutan lebih kepada) bagaimana mereka bisa menerima diri apa adanya dan berprestasi dengan apa yang mereka sukai. Saya mengajarkan konsep diri yang positif sehingga mereka bisa menghadapi tantangan," ungkap Shelomita di Penang Bistro, Pakubuwono, Jakarta Pusat, Rabu, (22/6/2016).

Sementara Artika menganggap jika tujuan terpenting adalah anak bisa bahagia dengan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Ia pun menanggapi tekanan yang diberikan sesama ibu atau keluarga dengan tidak terlalu memusingkannya. "Kalau eksternal dari keluarga atau cerita teman-teman, saya akan mendengarkan. Saya tidak akan menggunakannya itu untuk membandingkan tapi sebagai bahan koreksi," kata Artika.

Vera pun mengatakan jika tekanan tak dapat dihindarkan. Apalagi meskipun tidak ada tuntutan dari orang-orang di sekelilingnya, si ibu bisa tetap terbebani dengan tekanan yang dihadirkannya sendiri. Mengetahui hal itu, diharapkan jika para ibu bersikap bijaksana dan pakai 'kacamata kuda'. Karena jika mereka sampai terhanyut oleh tekanan, anak-anak bisa menjadi korbannya terlebih ibu adalah pilar utama mereka.

"Kalau si ibu tidak bisa mengelolanya dengan baik, itu bisa mempengaruhi hubungannya dengan anak. Anak bisa terlalu di-push. Pressure yang tidak ditangani dengan baik, bisa bikin ibu salah fokus dan salah asuh. Karena salah asuh, timbul masalah, jadinya tambah pressure lagi. Kalau ibunya bisa mengontrol, tetap melihat kondisi dan kemampuan anak, semua bisa berjalan dengan baik," jelas Vera.

Punya tanggung jawab terbesar dalam mengasuh anak, ibu pun sering mendapatkan tekanan dari berbagai pihak. Apa saja? (ami/ami)