Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Adakah Dampak Positif Jika Orangtua Terobsesi Ingin Anaknya Terkenal?

Intan Kemala Sari - wolipop
Senin, 30 Nov 2015 09:50 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta -

Ada banyak cara yang dilakukan orangtua dalam mengasah minat dan bakat sang anak. Ada yang mendukung keahlian sang anak, tetapi ada pula yang mendorong sang anak untuk melakukan hal-hal yang diinginkan orangtua agar sang anak bisa berprestasi sekaligus menjadi terkenal.

Contohnya, dengan mengikuti anak pada perlombaan unjuk bakat, casting iklan, lomba modeling atau kontes kecantikan, hingga menjadi figuran pada suatu serial televisi. Rasa obsesi yang dimiliki orangtua ini dianggap berlebihan karena secara tidak sadar ia telah mengeksploitasi sang anak. Lantas adakah dampak positif saat orangtua menginginkan anaknya menjadi terkenal?

Elizabeth Santosa selaku psikolog mengatakan, jika kata-kata 'obsesi' tersebut dihilangkan, makan usaha orangtua untuk membuat anaknya terkenal dinilainya sah-sah saja. Obsesi terjadi ketika orangtua 'memaksa' anaknya untuk melakukan hal-hal yang belum tentu disukainya semata-mata hanya karena orangtua senang dengan kegiatan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau ingin anak terkenal ya sah-sah saja. Siapa yang nggak mau anaknya terkenal? Yang jadi masalah kalau kita sebagai orangtua menelantarkan tugas perkembangan anak di setiap aspek," tutur psikolog yang akrab disapa Lizzie ini saat dihubungi Wolipop beberapa waktu lalu.

Aspek yang dimaksudnya adalah tiga aspek penting dalam tumbuh kembang anak, yakni aspek emosional, fisiologis, dan kognitif. Jika sang anak menjadi depresi karena dipaksa orangtuanya yang obsesi mempopulerkan sang anak, maka orangtua telah menelantarkan aspek emosional pada anak.

Begitupun jika anak tidak mendapatkan pelajaran disekolah karena terlalu sibuk mengikuti kegiatan seperti modeling atau bermain film, orangtua dianggap telah mengabaikan aspek kognitif dalam pertumbuhan sang anak. Sedangkan aspek fisiologis adalah, setiap anak memerlukan kegiatan yang bisa mengasah kerja kinestetik tubuhnya dengan berolahraga atau melakukan aktivitas fisik lainnya.

Psikolog Irma Gustiana M.Psi menjelaskan, jika orangtua memasuki gejala obsesif dalam melatih kemampuan sang anak, tentunya anak akan merasakan lebih banyak hal-hal negatif sehingga kesejahteraan psikologisnya terhambat. Orangtua yang obsesif umumnya akan memaksakan dan menuntut anak hingga akan berdampak buruk pada kondisi kejiwaannya ketika anak beranjak dewasa.

Sebaliknya, orangtua yang demokratis, mendorong anak tanpa memaksakan atau menuntut berlebihan akan membuat akan bisa belajar banyak dari kegiatan positif yang diikutinya. Anak juga bisa meningkatkan rasa percaya dirinya karena ia merasa mampu dan yakin dengan apa yang dilakukannya.

"Orangtua seperti ini akan menekankan anak mengenai pentingnya proses, bukan hasil. Jika anak menjadi terkenal, ia dikenal karena prestasi dan usahanya selama ini, bukan semata-mata karena orangtua yang terus-terusan memaksanya," papar Irma saat diwawancarai Wolipop melalui e-mail belum lama ini.

(int/int)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads