Adakah Dampak Positif Jika Orangtua Terobsesi Ingin Anaknya Terkenal?
Ada banyak cara yang dilakukan orangtua dalam mengasah minat dan bakat sang anak. Ada yang mendukung keahlian sang anak, tetapi ada pula yang mendorong sang anak untuk melakukan hal-hal yang diinginkan orangtua agar sang anak bisa berprestasi sekaligus menjadi terkenal.
Contohnya, dengan mengikuti anak pada perlombaan unjuk bakat, casting iklan, lomba modeling atau kontes kecantikan, hingga menjadi figuran pada suatu serial televisi. Rasa obsesi yang dimiliki orangtua ini dianggap berlebihan karena secara tidak sadar ia telah mengeksploitasi sang anak. Lantas adakah dampak positif saat orangtua menginginkan anaknya menjadi terkenal?
Elizabeth Santosa selaku psikolog mengatakan, jika kata-kata 'obsesi' tersebut dihilangkan, makan usaha orangtua untuk membuat anaknya terkenal dinilainya sah-sah saja. Obsesi terjadi ketika orangtua 'memaksa' anaknya untuk melakukan hal-hal yang belum tentu disukainya semata-mata hanya karena orangtua senang dengan kegiatan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aspek yang dimaksudnya adalah tiga aspek penting dalam tumbuh kembang anak, yakni aspek emosional, fisiologis, dan kognitif. Jika sang anak menjadi depresi karena dipaksa orangtuanya yang obsesi mempopulerkan sang anak, maka orangtua telah menelantarkan aspek emosional pada anak.
Begitupun jika anak tidak mendapatkan pelajaran disekolah karena terlalu sibuk mengikuti kegiatan seperti modeling atau bermain film, orangtua dianggap telah mengabaikan aspek kognitif dalam pertumbuhan sang anak. Sedangkan aspek fisiologis adalah, setiap anak memerlukan kegiatan yang bisa mengasah kerja kinestetik tubuhnya dengan berolahraga atau melakukan aktivitas fisik lainnya.
Psikolog Irma Gustiana M.Psi menjelaskan, jika orangtua memasuki gejala obsesif dalam melatih kemampuan sang anak, tentunya anak akan merasakan lebih banyak hal-hal negatif sehingga kesejahteraan psikologisnya terhambat. Orangtua yang obsesif umumnya akan memaksakan dan menuntut anak hingga akan berdampak buruk pada kondisi kejiwaannya ketika anak beranjak dewasa.
Sebaliknya, orangtua yang demokratis, mendorong anak tanpa memaksakan atau menuntut berlebihan akan membuat akan bisa belajar banyak dari kegiatan positif yang diikutinya. Anak juga bisa meningkatkan rasa percaya dirinya karena ia merasa mampu dan yakin dengan apa yang dilakukannya.
"Orangtua seperti ini akan menekankan anak mengenai pentingnya proses, bukan hasil. Jika anak menjadi terkenal, ia dikenal karena prestasi dan usahanya selama ini, bukan semata-mata karena orangtua yang terus-terusan memaksanya," papar Irma saat diwawancarai Wolipop melalui e-mail belum lama ini.
(int/int)
Makanan & Minuman
Sering Jadi Stok di Rumah, Ini Keunggulan Indomilk UHT Plain 950 ml
Makanan & Minuman
Ide Minuman Segar untuk Buka Puasa, Praktis Dibuat di Rumah
Pakaian Wanita
Tren Gamis Bini Orang Viral! 3 Rekomendasi Cantik yang Banyak Dilirik untuk Lebaran 2026
Home & Living
Rekomendasi Pisau Dapur Multifungsi! Tajam dan Praktis untuk Masak Menu Sehari-hari
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Potret Cantik Ayu Kynbraten, Semifinalis Miss Norwegia Keturunan Indonesia
Istri Walkot New York Rama Duwaji Disindir karena Pakai Crop Top Saat Bukber
Wanita Ini Kaget, Ibunya yang Sudah Wafat Tercatat Menikah dengan Pamannya
Kisah Mualaf Samanta Elsener, Adik Darius Sinathrya Temukan Damai Lewat Islam











































