Ayah dan Ibu...Ini Cara Mudah Ajak Anak Mencintai Sains
Rahmi Anjani - wolipop
Kamis, 12 Nov 2015 15:07 WIB
Jakarta
-
Sains atau ilmu pasti menjadi pelajaran yang kurang diminati anak-anak Indonesia. Alasannya apa lagi jika bukan materi yang sulit dipahami sehingga ilmu ini kerap dihindari. Padahal profesi dalam bidang STEM (Science, Technology, Engineering, Math) cukup menjanjikan di masa depan meski di negara kita saat ini industrinya belum terlalu berkembang.
Hal tersebut dibenarkan oleh Firly Savitri selaku pendiri Ilmuwan Muda Indonesia (IMI). Wanita 34 tahun yang kerap memberikan program edukasi sains pada anak-anak tersebut berpendapat jika ilmu pasti dipaparkan dengan cara yang sulit dimengerti di sekolah.
"Sains sudah cukup sulit diperkenalkan di sekolah. Sudah banyak angka, tidak dipermudah dengan metode pembelajarannya. Ujiannya juga susah banget. Sebelum anaknya paham sudah dikasih ujian jadi anak-anak nggak suka," kata Firly saat berbincang dengan Wolipop di kawasan Senayan, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Lalu apa yang bisa orangtua lakukan agar buah hati tidak anti dengan sains? Firly menyarankan agar para ayah dan ibu mengenalkan ilmu pasti dengan cara yang ringan di rumah. Salah satu cara paling mudahnya adalah dengan diberi kaca pembesar. Coba berikan kaca pembesar kepada anak dan biarkan dia main di luar ruangan. Dengan begitu, anak pasti akan mengobservasi banyak hal. Menurutnya observasi merupakan salah satu perilaku sains yang berguna di masa depan meski si anak tidak jadi ilmuwan.
Selain dengan kaca pembesar, ilmuwan wanita tersebut menyarankan untuk memperkenalkan anak dengan astronomi dan paleontologist. "Anak-anak suka yang besar, megah, dan tidak ditemukan di keseharian. Jadi pendekatannya bisa dengan astronomi atau dinasaurus yang sudah nggak ada lagi jadi bagi mereka kaya fantasi," saran Firly.
Ibu dua anak yang mendalami ilmu psikologi IPA tersebut pun melakukan pengenalan sains terhadap anaknya. Menariknya, buah hati Firly masih berusia tiga bulan. Yang ia lakukan adalah menceritakan kejadian alam yang pertama kali dialami bayinya.
"Sayanya yang agak sedikit aneh jadi walaupun dia masih tiga bulan, waktu hujan pertama seumur hidup dia, aku cerita saja proses terjadinya hujan. Karena saya belajar psikologi jadi saya percaya di umur segitu anak sudah bisa mengerti. Nggak ada salahnya, kan?" tutur Firly.
(ami/eny)
Hal tersebut dibenarkan oleh Firly Savitri selaku pendiri Ilmuwan Muda Indonesia (IMI). Wanita 34 tahun yang kerap memberikan program edukasi sains pada anak-anak tersebut berpendapat jika ilmu pasti dipaparkan dengan cara yang sulit dimengerti di sekolah.
"Sains sudah cukup sulit diperkenalkan di sekolah. Sudah banyak angka, tidak dipermudah dengan metode pembelajarannya. Ujiannya juga susah banget. Sebelum anaknya paham sudah dikasih ujian jadi anak-anak nggak suka," kata Firly saat berbincang dengan Wolipop di kawasan Senayan, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain dengan kaca pembesar, ilmuwan wanita tersebut menyarankan untuk memperkenalkan anak dengan astronomi dan paleontologist. "Anak-anak suka yang besar, megah, dan tidak ditemukan di keseharian. Jadi pendekatannya bisa dengan astronomi atau dinasaurus yang sudah nggak ada lagi jadi bagi mereka kaya fantasi," saran Firly.
Ibu dua anak yang mendalami ilmu psikologi IPA tersebut pun melakukan pengenalan sains terhadap anaknya. Menariknya, buah hati Firly masih berusia tiga bulan. Yang ia lakukan adalah menceritakan kejadian alam yang pertama kali dialami bayinya.
"Sayanya yang agak sedikit aneh jadi walaupun dia masih tiga bulan, waktu hujan pertama seumur hidup dia, aku cerita saja proses terjadinya hujan. Karena saya belajar psikologi jadi saya percaya di umur segitu anak sudah bisa mengerti. Nggak ada salahnya, kan?" tutur Firly.
(ami/eny)











































