Ketika Poligami Terlalu Terfokus Pada Perasaan Istri, Suara Anak Terlupakan
Wanita mana yang mau diduakan oleh suaminya? Ana Abdul Hamid asal Gorontalo jelas bukan salah satunya. Melalui sebuah video di YouTube, Ana berkeluh kesah soal betapa hancur hatinya karena dipoligami sang suami. Tapi poligami sebetulnya bukan soal suami dan istri. Bagi mereka yang berstatuskan orangtua, poligami juga bisa berdampak pada psikologis anak.
Dalam video berjudul 'Saya Tidak Sanggup Berbagi' itu, Ana mencurahkan isi hatinya yang sakit, hancur, dan perih. Wanita 26 tahun itu juga merasa kecewa, marah, dikhianati, dibohongi, dan ingin mati. Namun ia berusaha menerima demi suami, anak, dan rumah tangganya.
Menurut psikolog keluarga Ajeng Raviando, perasaan tersebut sangat tidak bisa dimungkiri bagi istri yang belum siap berbagi. Sudah bisa dipastikan rasa sedih, tersisih, kecewa, dan tidak dihargai, serta perasaan negatif lainnya bakal berkecamuk di benak mereka. Masalahya tidak berhenti di situ karena perasaan tersebut akan membuat perubahan perilaku yang berdampak pada anak dan keluarga secara keseluruhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lanjut Ajeng poligami biasanya terfokus pada apakah istri bisa menerima tanpa mempertimbangkan suara anak. Padahal poligami bisa berdampak buruk bagi psikologis anak. Tanpa penjelasan soal poligami yang mudah dipahami anak, sulit rasanya bagi anak untuk memahami kondisi keluarganya. Citra ayah di mata anak akan tercoreng. Anak pun akan kehilangan figur ayah sebagai panutan.
"Maka, penting bagi suami berniat berpoligami untuk mendengar dan mempertimbangkan perasaan anak, tidak istri saja. Tapi mustahil kalau perasaan istri saja tidak mendapat perhatian dari suami." kata Ajeng.
(ami/ami)











































