Cara Mengajarkan Anak Agar Mau Mengucap Kata Maaf
Eny Kartikawati - wolipop
Jumat, 17 Jul 2015 12:20 WIB
Jakarta
-
Membuat anak paham arti kata maaf yang sebenarnya pastinya bukan hanya bisa dilakukan saat Idul Fitri. Kenyataannya dalam praktek kehidupan sehari-hari, kata maaf tersebut tak mudah diucapkan anak. Ada orangtua yang sampai memaksa menyuruh anaknya minta maaf saat berbuat kesalahan. Pemaksaan ini sebenarnya tidak akan membuat anak benar-benar paham dari efek perbuatannya sehingga dia perlu mengucap maaf.
Jadi bagaimana seharusnya orangtua mengajarkan anak meminta maaf atas kesalahannya? Berikut saran dari Amy McCready, penulis 'If I Have to Tell You One More Time…The Revolutionary Program That Gets Your Kids to Listen Without Nagging, Reminding or Yelling', seperti dikutip positive parenting:
1. Jangan 'Kuliahi' Anak
Saat anak berperilaku tidak baik atau melakukan kesalahan, sebaiknya hindari memberikan nasihat panjang lebar yang cenderung tidak akan didengarkannya. Ganti nasihat tersebut dengan pertanyaan yang bisa membantu anak memahami efek dari tindakan yang dilakukannya. Misalnya saja: bagaimana perasaan kamu kalau Andi menyobek buku sekolahmu? Pertanyaan tersebut bisa membantu anak belajar bahwa mereka harus bertanggungjawab atas perasaan sedih yang dirasakan temannya atau orang yang dia kecewakan.
Anak juga bisa memahami bahwa marah atau sedih atau bahkan frustasi sebenarnya boleh saja, asalkan tidak merugikan orang lain, seperti menyobek buku temannya itu. Dia dapat mengerti bahwa perasaan dan tindakannya ini bisa berdampak pada orang lain.
2. Hindari Hukuman
Daripada memberikan hukuman, cobalah untuk membantu anak menemukan solusi atas dampak dari tindakannya. Anda bisa bertanya pada anak: apa ya yang bisa kita lakukan supaya dia (temannya yang bukunya disobek) tidak sedih? Kemudian Anda bisa menyarankan untuk mengucapkan kata maaf sebagai langkah awal. Namun karena anak-anak lebih senang belajar melalui tindakan, langkah selanjutnya yang dapat dilakukan adalah dengan membantu memperbaiki buku yang telah disobek itu. Misalnya dengan merekatkan dengan lem atau selotip.
3. Bermain Peran
Saat anak sudah menjalani 'tugasnya', memperbaiki kesalahannya, Anda bisa mengajak anak bermain peran. Tanyakah padanya: jika kamu bisa mengulang yang sudah terjadi tadi, hal berbeda apa yang akan kamu lakukan pada Andi? Berikan anak waktu untuk berpikir, kemudian bantu dia untuk menangani emosinya. Dengan cara ini anak bisa lebih memahami untuk melakukan tindakan yang positif.
Meskipun pada awalnya berat untuk membuat anak paham dampak dari perbuatan tidak baiknya, pada akhirnya anak akan bisa mengucapkan kata maaf dengan lebih tulus. Anak akan lebih memahami efek dari tindakannya, bertanggungjawab dan mau berempati.
(eny/fer)
Jadi bagaimana seharusnya orangtua mengajarkan anak meminta maaf atas kesalahannya? Berikut saran dari Amy McCready, penulis 'If I Have to Tell You One More Time…The Revolutionary Program That Gets Your Kids to Listen Without Nagging, Reminding or Yelling', seperti dikutip positive parenting:
1. Jangan 'Kuliahi' Anak
Saat anak berperilaku tidak baik atau melakukan kesalahan, sebaiknya hindari memberikan nasihat panjang lebar yang cenderung tidak akan didengarkannya. Ganti nasihat tersebut dengan pertanyaan yang bisa membantu anak memahami efek dari tindakan yang dilakukannya. Misalnya saja: bagaimana perasaan kamu kalau Andi menyobek buku sekolahmu? Pertanyaan tersebut bisa membantu anak belajar bahwa mereka harus bertanggungjawab atas perasaan sedih yang dirasakan temannya atau orang yang dia kecewakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
2. Hindari Hukuman
Daripada memberikan hukuman, cobalah untuk membantu anak menemukan solusi atas dampak dari tindakannya. Anda bisa bertanya pada anak: apa ya yang bisa kita lakukan supaya dia (temannya yang bukunya disobek) tidak sedih? Kemudian Anda bisa menyarankan untuk mengucapkan kata maaf sebagai langkah awal. Namun karena anak-anak lebih senang belajar melalui tindakan, langkah selanjutnya yang dapat dilakukan adalah dengan membantu memperbaiki buku yang telah disobek itu. Misalnya dengan merekatkan dengan lem atau selotip.
3. Bermain Peran
Saat anak sudah menjalani 'tugasnya', memperbaiki kesalahannya, Anda bisa mengajak anak bermain peran. Tanyakah padanya: jika kamu bisa mengulang yang sudah terjadi tadi, hal berbeda apa yang akan kamu lakukan pada Andi? Berikan anak waktu untuk berpikir, kemudian bantu dia untuk menangani emosinya. Dengan cara ini anak bisa lebih memahami untuk melakukan tindakan yang positif.
Meskipun pada awalnya berat untuk membuat anak paham dampak dari perbuatan tidak baiknya, pada akhirnya anak akan bisa mengucapkan kata maaf dengan lebih tulus. Anak akan lebih memahami efek dari tindakannya, bertanggungjawab dan mau berempati.
(eny/fer)
Hobi dan Mainan
VITAMIN KUCING Growth Hack by Petglow x Butter Belly, Solusi Praktis Bikin Anabul Makin Lahap & Berisi!
Pakaian Pria
Prabu Rudi Black White Sneakers, Sepatu Baru Pria Favorit untuk Menyambut Chinese New Year 2026 yang Wajib Kamu Beli!
Perawatan dan Kecantikan
Makeup Heavy saat Lebaran Bikin Kulit Breakout? Ini Penyebab yang Sering Diremehkan
Perawatan dan Kecantikan
Bibir Tetap Pink & Lembap Saat Puasa! Ini Produk Penyelamatnya
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Potret Baby Kaia Anak Steffi-Nino Fernandez, Kini Wajahnya Sudah Diungkap
2
Angel Karamoy Rayakan Valentine Bareng Gusti Ega, Kado Mewahnya Bikin Salfok
3
8 Pemotretan Mesra Olla Ramlan & Tristan Molina Untuk Sambut Hari Valentine
4
Sinopsis KOKUHO, Film Jepang Terlaris yang Tayang Lebih Awal di Indonesia
5
7 Foto Sarwendah Pemotretan Imlek 2026, Tampil Anggun Serba Merah
MOST COMMENTED











































