Ini Cara Terbaik Menasihati Anak yang Sedang Hobi Corat-coret Tembok
wolipop
Rabu, 19 Mar 2014 17:42 WIB
Jakarta
-
Ada masanya si kecil suka mencorat-coret apapun mulai dari tubuhnya hingga tembok rumah. Apakah anak Anda sedang masuk dalam tahapan usia ini? Jika iya, bagaimana reaksi Anda saat melihat anak asyik menggambar di dinding?
Riset yang dilakukan Ratih Ibrahim membuktikan, 54% orangtua keberatan jika anak-anak membuat rumah kotor, terutama dengan mencorat-coret dinding rumah. Saat keberatan ini muncul, reaksi yang timbul dari para orangtua adalah melarang anak melakukan kegiatan tersebut.
Sebelum mengeluarkan larangan, Ratih menyarankan sebaiknya orangtua melihat sisi positif dari kegiatan tersebut terlebih dulu. Dikatakannya, mencorat-coret dinding sebenarnya adalah hal yang wajar, selama itu bertujuan untuk meningkatkan daya imajinasi dan kreasinya.
"Coba cari tahu terlebih dahulu, apakah mencoret dinding menjadi hal yang menyenangkan dan hobi dari anak tersebut. Jika ini memang menjadi hal yang di gemarinya, cobalah untuk lebih memahami dengan memberikan ruang kebebasan si anak dalam berkreasi tanpa dia merasa dilarang, tapi ingat harus tetap ada batasannya," ujar psikolog yang menjadi pimpinan PT Personal Growth itu saat ditemui di acara Forgiveness is Easy with Dulux EasyClean di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu (19/3/2014).
Membebaskan anak berekspreksi bukan berarti orangtua harus selalu bersikap manis dan baik pada anak. Sikap ini justru bisa membuat anak merasa dibebaskan tanpa ada batasan sama sekali. "Cobalah dengan satu kunci yakni pandai-pandai mengontrol buah hati tanpa dia merasa terlalu dikekang, kita sebagai orangtua jangan kalah pintarlah dengan anak-anak," kata Ratih.
Kalah pintar yang dimaksudkannya adalah ketika buah hati sudah mulai memberikan ekspreksi memelas sehingga orangtua jadi luluh hatinya. Untuk menghindari wajah memelas itu, Ratih menyarankan agar orangtua konsisten dengan ucapan dan aturan yang sudah dibuat.
Aturan di sini termasuk ketika anak suka mencorat-coret tembok. Ketimbang melarang mereka melakukan aktivitas tersebut, berikan anak pilihan yang bisa membuat mereka merasa Anda tidak menang sendiri. Misalnya dengan memberitahukan anak, mana area dinding rumah yang boleh dicorat-coret dan mana area yang terlarang. Saat memberitahukan soal pilihan ini jelaskan alasan logis yang mudah dipahami sehingga anak mengerti kenapa dia tidak diizinkan mencorat-coret tembok yang bagiannya sudah ditentukan sebelumnya. Jika anak tetap mencoret tembok yang sudah dilarang ini, artinya dia telah melanggar kesepakatan.
Kenapa orangtua tidak boleh hanya memberikan larangan saja, tanpa adanya pilihan? Menurut Ratih dengan melarang buah hati mencorat-coret tembok sama saja Anda ingin memiliki buah hati yang saat remaja atau dewasa nanti tidak memiliki jiwa yang bebas. Selain membuat jiwanya yang kurang ekspresif, pada saat usia remaja anak tersebut akan merasa bahwa semasa kecil hidupnya tidak bahagia karena larangan berekspresi dari orangtuanya sendiri.
Manfaat lain yang dapat dirasakan dengan membebaskannya berekspresi adalah membuat anak lebih paham warna-warna yang dapat membentuk kepribadiannya menjadi lebih ceria. "Biasanya warna-warna cerah membuat anak bebas berkreasi dan berimajinasi," ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.
(eny/eny)
Riset yang dilakukan Ratih Ibrahim membuktikan, 54% orangtua keberatan jika anak-anak membuat rumah kotor, terutama dengan mencorat-coret dinding rumah. Saat keberatan ini muncul, reaksi yang timbul dari para orangtua adalah melarang anak melakukan kegiatan tersebut.
Sebelum mengeluarkan larangan, Ratih menyarankan sebaiknya orangtua melihat sisi positif dari kegiatan tersebut terlebih dulu. Dikatakannya, mencorat-coret dinding sebenarnya adalah hal yang wajar, selama itu bertujuan untuk meningkatkan daya imajinasi dan kreasinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Membebaskan anak berekspreksi bukan berarti orangtua harus selalu bersikap manis dan baik pada anak. Sikap ini justru bisa membuat anak merasa dibebaskan tanpa ada batasan sama sekali. "Cobalah dengan satu kunci yakni pandai-pandai mengontrol buah hati tanpa dia merasa terlalu dikekang, kita sebagai orangtua jangan kalah pintarlah dengan anak-anak," kata Ratih.
Kalah pintar yang dimaksudkannya adalah ketika buah hati sudah mulai memberikan ekspreksi memelas sehingga orangtua jadi luluh hatinya. Untuk menghindari wajah memelas itu, Ratih menyarankan agar orangtua konsisten dengan ucapan dan aturan yang sudah dibuat.
Aturan di sini termasuk ketika anak suka mencorat-coret tembok. Ketimbang melarang mereka melakukan aktivitas tersebut, berikan anak pilihan yang bisa membuat mereka merasa Anda tidak menang sendiri. Misalnya dengan memberitahukan anak, mana area dinding rumah yang boleh dicorat-coret dan mana area yang terlarang. Saat memberitahukan soal pilihan ini jelaskan alasan logis yang mudah dipahami sehingga anak mengerti kenapa dia tidak diizinkan mencorat-coret tembok yang bagiannya sudah ditentukan sebelumnya. Jika anak tetap mencoret tembok yang sudah dilarang ini, artinya dia telah melanggar kesepakatan.
Kenapa orangtua tidak boleh hanya memberikan larangan saja, tanpa adanya pilihan? Menurut Ratih dengan melarang buah hati mencorat-coret tembok sama saja Anda ingin memiliki buah hati yang saat remaja atau dewasa nanti tidak memiliki jiwa yang bebas. Selain membuat jiwanya yang kurang ekspresif, pada saat usia remaja anak tersebut akan merasa bahwa semasa kecil hidupnya tidak bahagia karena larangan berekspresi dari orangtuanya sendiri.
Manfaat lain yang dapat dirasakan dengan membebaskannya berekspresi adalah membuat anak lebih paham warna-warna yang dapat membentuk kepribadiannya menjadi lebih ceria. "Biasanya warna-warna cerah membuat anak bebas berkreasi dan berimajinasi," ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.
(eny/eny)
Pakaian Pria
Jam Digital Tangguh Harga Terjangkau? EIGER Helicon Watch Punya Fitur Lengkap & Tahan Air 100m
Kesehatan
Biar Nggak Lupa Minum Vitamin! Rekomendasi Pill Organizer & Multivitamin Harian
Home & Living
3 Alat Ini Sangat Terpakai untuk Perbaikan Sehari-hari di Rumah
Pakaian Wanita
Satu Hijab Bisa Dipakai Banyak Aktivitas! Sat-Set Tanpa Ribet Styling
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Potret Aleena Putri Olla Ramlan Kini Sudah Remaja, Cantik Saingi Sang Mama
2
Foto Sherina Adik Syifa Hadju yang Dampingi di Acara Lamaran, Jarang Tersorot
3
Cha Eun Woo Terseret Kasus Pajak Rp 232 Miliar, Ini Ancaman Hukumannya
4
Foto: Duka Anne Hathaway, Beri Penghormatan Terakhir Bagi Valentino
5
Lego Rilis Sandal 'Bakiak' Kolaborasi dengan Crocs Dianggap Aneh, Mau Pakai?
MOST COMMENTED











































