Memaksa untuk Menghabiskan Makanan Bisa Picu Anak Jadi Obesitas
wolipop
Sabtu, 01 Feb 2014 12:10 WIB
Jakarta
-
Saat makan, orangtua biasanya menyuruh anak untuk tidak menyisakan makanan di piring. Kebiasaan itu ternyata tidak selalu baik. Berdasarkan penelitian, ibu yang memaksa anaknya menghabiskan makanan saat makan malam bisa membuat anak jadi obesitas saat dewasa nanti.
Tidak hanya itu, orangtua yang memaksa anak untuk mengikuti kebiasaan makan tertentu, menghukum anak atau tidak mendengarkan masalah mereka bisa membuat anak stres dan akhirnya lari ke makanan untuk mengatasinya. Suatu rasa ketidaknyamanan bisa memicu masalah emosional dan obesitas pada anak nantinya.
Peneliti juga menemukan, anak-anak yang makan di depan orangtua yang suka memerintah ketimbang mengajaknya berdiskusi di meja makan cenderung lebih memilih makanan enak yang tidak sehat. Profesor Kelly Bost dari University of Illinois, Amerika Serikat menjelaskan, jika seorang ibu lebih sering mengabaikan kemarahan, kecemasan atau kesedihan anak daripada berempati dan mencarikan solusi, maka perlakuan itu akan terus melekat pada pikirannya. Bukan tidak mungkin sang anak akan menerapkan hal yang sama ketika mereka jadi orangtua nanti.
"Anak yang tidak diajari bagaimana mengatur emosinya kemungkinan akan mengembangkan pola makan yang membuatnya berisiko jadi obesitas," ujar Profesor Kelly, seperti dikutip dari Daily Mail.
Studi yang dilakukan Kelly bersama timnya tersebut melihat hubungan antara sikap orangtua terhadap anaknya, dan konsumsi makanan tidak sehat. Studi melibatkan 497 orangtua yang memiliki anak berusia dua dan tiga tahun. Para orangtua diminta mengisi kuesioner untuk mengetahui sedekat apa hubungan emosional mereka dengan anak.
Mereka juga menjawab pertanyaan bagaimana mengatasi emosi negatif sang anak, apakah mereka juga memaksakan pola makan tertentu pada anaknya, mengobrol saat makan dan seberapa sering mereka menonton TV setiap harinya.
"Studi menemukan, orangtua yang insecure cenderung akan merespon masalah pada anaknya dengan membuat dirinya sendiri stres atau mengabaikan emosi anaknya. Sebagai contoh, jika seorang anak pergi ke pesta ulang tahun temannya dan kesal karena mendengar komentar tidak enak dari teman, orangtua yang tidak punya empati mungkin akan menyuruh anaknya untuk jangan bersedih atau melupakannya. Atau bahkan orangtua bisa berkata: Jangan nangis terus dan manja, atau kamu tidak akan boleh lagi ke pesta ulang tahun," ujar Kelly.
Dalam penelitian terungkap juga bahwa ibu yang mengabaikan kesedihan anaknya, atau lebih buruk lagi, menghukumnya, akan membuat anak lebih sering lari ke makanan cepat saji, camilan mengandung garam tinggi dan minum minuman tinggi gula untuk mendapatkan rasa nyaman. Selain itu, terungkap juga bahwa menyuruh anak untuk menghabiskan makanan atau berkata, 'ayo makan tiga suap lagi dan kamu boleh makan kue nanti', adalah pola asuh yang salah.
(/)
Tidak hanya itu, orangtua yang memaksa anak untuk mengikuti kebiasaan makan tertentu, menghukum anak atau tidak mendengarkan masalah mereka bisa membuat anak stres dan akhirnya lari ke makanan untuk mengatasinya. Suatu rasa ketidaknyamanan bisa memicu masalah emosional dan obesitas pada anak nantinya.
Peneliti juga menemukan, anak-anak yang makan di depan orangtua yang suka memerintah ketimbang mengajaknya berdiskusi di meja makan cenderung lebih memilih makanan enak yang tidak sehat. Profesor Kelly Bost dari University of Illinois, Amerika Serikat menjelaskan, jika seorang ibu lebih sering mengabaikan kemarahan, kecemasan atau kesedihan anak daripada berempati dan mencarikan solusi, maka perlakuan itu akan terus melekat pada pikirannya. Bukan tidak mungkin sang anak akan menerapkan hal yang sama ketika mereka jadi orangtua nanti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi yang dilakukan Kelly bersama timnya tersebut melihat hubungan antara sikap orangtua terhadap anaknya, dan konsumsi makanan tidak sehat. Studi melibatkan 497 orangtua yang memiliki anak berusia dua dan tiga tahun. Para orangtua diminta mengisi kuesioner untuk mengetahui sedekat apa hubungan emosional mereka dengan anak.
Mereka juga menjawab pertanyaan bagaimana mengatasi emosi negatif sang anak, apakah mereka juga memaksakan pola makan tertentu pada anaknya, mengobrol saat makan dan seberapa sering mereka menonton TV setiap harinya.
"Studi menemukan, orangtua yang insecure cenderung akan merespon masalah pada anaknya dengan membuat dirinya sendiri stres atau mengabaikan emosi anaknya. Sebagai contoh, jika seorang anak pergi ke pesta ulang tahun temannya dan kesal karena mendengar komentar tidak enak dari teman, orangtua yang tidak punya empati mungkin akan menyuruh anaknya untuk jangan bersedih atau melupakannya. Atau bahkan orangtua bisa berkata: Jangan nangis terus dan manja, atau kamu tidak akan boleh lagi ke pesta ulang tahun," ujar Kelly.
Dalam penelitian terungkap juga bahwa ibu yang mengabaikan kesedihan anaknya, atau lebih buruk lagi, menghukumnya, akan membuat anak lebih sering lari ke makanan cepat saji, camilan mengandung garam tinggi dan minum minuman tinggi gula untuk mendapatkan rasa nyaman. Selain itu, terungkap juga bahwa menyuruh anak untuk menghabiskan makanan atau berkata, 'ayo makan tiga suap lagi dan kamu boleh makan kue nanti', adalah pola asuh yang salah.
(/)
Elektronik & Gadget
Cari Laptop Gaming dan Kerja? ASUS Gaming V16 RTX 4050 Bisa Jadi Pilihan
Pakaian Pria
Nike Pegasus 5 Khaki, Sepatu Trail Stylish dan Tangguh
Pakaian Pria
Kacamata Lari dari Goodr, 100% Melindungi dari Sinar UVA & UVB Berbahaya
Perawatan dan Kecantikan
Betadine Clear Antiseptic Gel, Solusi Cepat untuk Atasi Luka Ringan
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Cara Zodiak Habiskan THR, Siapa Paling Boros? (Part 2)
2
Curhat Paapa Essiedu Dapat Ancaman Kematian karena Perankan Severus Snape
3
Sinopsis San Andreas, Film Dwayne Johnson di Bioskop Trans TV Hari Ini
4
Ramalan Zodiak 24 Maret: Leo Jangan Menyerah, Virgo Mulai Ada Hasil
5
Ramalan Zodiak Cinta 24 Maret: Capricorn Kurang Perhatian, Libra Jaga Ucapan
MOST COMMENTED











































