Kenali Mitos-mitos Seputar Bayi Baru Lahir
wolipop
Sabtu, 10 Agu 2013 09:57 WIB
Jakarta
-
Benarkah bayi bisa dilahirkan setelah kandungan berusia sembilan bulan? Apakah kalau bayi menangis artinya perutnya kembung? Itulah sederet mitos yang dipercaya orangtua mengenai bayi mereka. Beberapa mitos tersebut ada yang benar, tapi tak semuanya bisa dipercaya.
Dr. Harvey Karp, seorang Profesor Spesialis Anak dari Kedokteran UCLA School dan pengarang buku dan video 'The Happiest Baby On The Block' berbagi beberapa mitos mengenai bayi yang baru lahir. Berikut ini penjelasannya:
Mitos 1: Bayi siap untuk lahir setelah 9 bulan
Bagi para orangtua kelahiran buah hati sangat dinanti setelah selama sembilan bulan berada di dalam kandungan. Namun nyatanya bayi belum merasa siap. Setelah dilahirkan, mereka tidak langsung serta-merta menerima lingkungan barunya. Bayi perlu merasakan lingkungan yang mirip seperti di dalam kandungan. Setelah berumur 3 bulan, bayi baru bisa beradaptasi sehingga dapat tersenyum dan berinteraksi.
Mitos 2: Sejak awal orangtua tahu apa yang harus dilakukan
Orangtua memang memiliki intuisi untuk menenangkan bayinya ketika menangis. Namun belum tentu mereka tahu cara yang benar. Menenangkan bayi membutuhkan ketrampilan tertentu. Ada teknik-teknik menenangkan bayi yang sedang menangis, terutama ketika mereka berusia kurang dari tiga bulan. Apa saja teknik-tekniknya bisa dibaca di sini.
Mitos 3: Bayi menangis karena perutnya kembung
Mungkin saja bayi menangis karena merasa tidak nyaman dengan perutnya yang kembung tetapi itu bukan merupakan penyebab satu-satunya. Bila bayi dapat tenang hanya dengan diajak naik mobil tentu saja penyebabnya bukan perut kembung. Karena rasa sakit tidak akan hilang begitu saja.
Mitos 4: Bayi menangis tidak perlu cepat-cepat digendong
Anda pasti pernah mendapatkan nasihat dari orang yang lebih tua agar tidak cepat-cepat menggendong bayi yang menangis karena dikhawatirkan akan bau tangan atau dimanjakan. Kenyataannya saran tersebut tidak sepenuhnya benar. Darcia Narvaez, seorang profesor psikologi asal Notre Dame mengatakan metode 'membiarkan bayi menangis' justru berbahaya karena bisa membunuh sel otak bayi.
Narvaez menjelaskan, saat bayi stres, tubuh mereka melepaskan kortisol, hormon yang bisa membunuh sel otak. Sementara, saat baru lahir, otak bayi baru berkembang 25% dan bertumbuh sangat cepat di tahun pertama mereka. Sehingga jika si bayi menangis, sebagai salah satu reaksi saat mereka stres, tindakan tersebut bisa membunuh cukup banyak sel otaknya.
Mitos 5: Bayi baru lahir perlu rutin dipijat
Pijat memang bermanfaat untuk bayi. Penelitian yang dilakukan Touch Research Institute, Miami mengungkapkan bahwa memijat bayi sejak lahir terbukti mampu menaikkan berat badan bayi 47%. Bayi juga menjadi lebih sehat dan responsif.
Mitos 6: Bayi akan tidur nyenyak setelah usia tiga bulan
Sampai usia tiga bulan, bayi belum bisa benar-benar tidur nyenyak selama delapan jam. "Bisa tidur nyenyak di malam hari adalah bagian dari proses perkembangan bayi," ujar Leduc. Dijelaskannya, selama 1-3 bulan, dalam waktu 24 jam bayi akan tidur 16-20 jam. Namun waktu tidur yang cukup lama itu akan dibagi-baginya. Misalnya saja, bayi akan tidur selama tiga jam lalu bangun untuk tiga jam berikutnya.
Baru pada usia 4-6 bulan, bayi mulai bisa mengetahui perbedaan siang dan malam. Pada saat itu mereka pun bisa tidur lebih lama di malam hari, sekitar lebih dari enam jam atau lebih. Baru pada usia sembilan bulan, 70-80% bayi bisa tidur dengan nyenyak di malam hari.
(eny/eny)
Dr. Harvey Karp, seorang Profesor Spesialis Anak dari Kedokteran UCLA School dan pengarang buku dan video 'The Happiest Baby On The Block' berbagi beberapa mitos mengenai bayi yang baru lahir. Berikut ini penjelasannya:
Mitos 1: Bayi siap untuk lahir setelah 9 bulan
Bagi para orangtua kelahiran buah hati sangat dinanti setelah selama sembilan bulan berada di dalam kandungan. Namun nyatanya bayi belum merasa siap. Setelah dilahirkan, mereka tidak langsung serta-merta menerima lingkungan barunya. Bayi perlu merasakan lingkungan yang mirip seperti di dalam kandungan. Setelah berumur 3 bulan, bayi baru bisa beradaptasi sehingga dapat tersenyum dan berinteraksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orangtua memang memiliki intuisi untuk menenangkan bayinya ketika menangis. Namun belum tentu mereka tahu cara yang benar. Menenangkan bayi membutuhkan ketrampilan tertentu. Ada teknik-teknik menenangkan bayi yang sedang menangis, terutama ketika mereka berusia kurang dari tiga bulan. Apa saja teknik-tekniknya bisa dibaca di sini.
Mitos 3: Bayi menangis karena perutnya kembung
Mungkin saja bayi menangis karena merasa tidak nyaman dengan perutnya yang kembung tetapi itu bukan merupakan penyebab satu-satunya. Bila bayi dapat tenang hanya dengan diajak naik mobil tentu saja penyebabnya bukan perut kembung. Karena rasa sakit tidak akan hilang begitu saja.
Mitos 4: Bayi menangis tidak perlu cepat-cepat digendong
Anda pasti pernah mendapatkan nasihat dari orang yang lebih tua agar tidak cepat-cepat menggendong bayi yang menangis karena dikhawatirkan akan bau tangan atau dimanjakan. Kenyataannya saran tersebut tidak sepenuhnya benar. Darcia Narvaez, seorang profesor psikologi asal Notre Dame mengatakan metode 'membiarkan bayi menangis' justru berbahaya karena bisa membunuh sel otak bayi.
Narvaez menjelaskan, saat bayi stres, tubuh mereka melepaskan kortisol, hormon yang bisa membunuh sel otak. Sementara, saat baru lahir, otak bayi baru berkembang 25% dan bertumbuh sangat cepat di tahun pertama mereka. Sehingga jika si bayi menangis, sebagai salah satu reaksi saat mereka stres, tindakan tersebut bisa membunuh cukup banyak sel otaknya.
Mitos 5: Bayi baru lahir perlu rutin dipijat
Pijat memang bermanfaat untuk bayi. Penelitian yang dilakukan Touch Research Institute, Miami mengungkapkan bahwa memijat bayi sejak lahir terbukti mampu menaikkan berat badan bayi 47%. Bayi juga menjadi lebih sehat dan responsif.
Mitos 6: Bayi akan tidur nyenyak setelah usia tiga bulan
Sampai usia tiga bulan, bayi belum bisa benar-benar tidur nyenyak selama delapan jam. "Bisa tidur nyenyak di malam hari adalah bagian dari proses perkembangan bayi," ujar Leduc. Dijelaskannya, selama 1-3 bulan, dalam waktu 24 jam bayi akan tidur 16-20 jam. Namun waktu tidur yang cukup lama itu akan dibagi-baginya. Misalnya saja, bayi akan tidur selama tiga jam lalu bangun untuk tiga jam berikutnya.
Baru pada usia 4-6 bulan, bayi mulai bisa mengetahui perbedaan siang dan malam. Pada saat itu mereka pun bisa tidur lebih lama di malam hari, sekitar lebih dari enam jam atau lebih. Baru pada usia sembilan bulan, 70-80% bayi bisa tidur dengan nyenyak di malam hari.
(eny/eny)
Home & Living
Rumah Lebih Nyaman Tanpa Nyamuk & Lalat, AOKI Insect Killer Ini Jadi Solusi Praktisnya
Pakaian Wanita
ROWEY Ballerina Shoes yang Nyaman untuk Harian, Pilihan Simpel dan Tetap Elegan
Pakaian Wanita
Pilihan Abaya untuk Kajian di Bulan Ramadan! Adem, Flowy, dan Nyaman untuk Aktivitas Ibadah
Pakaian Wanita
Adem Seharian Saat Lebaran! 3 Rekomendasi Gamis yang Bikin Penampilan jadi Elegan Maksimal
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Potret Jennie BLACKPINK Cantik Effortless Pakai Singlet Putih di New York
2
Skandal 'America's Next Top Model' Memanas, Ada Tudingan Pelecehan Seskual
3
Menikah Diam-diam, Ini Gaya Ayushita Jadi Pengantin Bohemian
4
Diet Terlihat Sehat, Tapi Tubuhmu Diam-Diam Kekurangan Nutrisi Penting Ini
5
'Huawei Princess' Main Drama Kolosal China, Wajahnya Dikritik Terlalu Modern
MOST COMMENTED











































