Liputan Khusus
Pola Asuh Anak oleh Ibu Bekerja & di Rumah, Apa Perbedaannya?
Arina Yulistara - wolipop
Selasa, 29 Jan 2013 08:03 WIB
Jakarta
-
Secara kuantitas, wanita bekerja umumnya punya waktu lebih sedikit untuk bersama-sama dengan anak ketimbang ibu yang sehari-harinya di rumah. Namun itu tidak serta merta menentukan bahwa pola pengasuhan ibu rumah tangga pasti lebih baik dari ibu bekerja, atau sebaliknya.
Ibu bekerja memang memiliki tantangan yang mungkin lebih berat daripada ibu yang tidak bekerja dalam mengurus anak. Keterbatasan waktu, kondisi fisik serta mental seringkali menjadi kendala dalam pengasuhan si kecil. Tapi bila diterapkan dengan benar, pola pengasuhan antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga sebenarnya tidak terlalu terpaut berbeda.
Dijelaskan psikolog anak Rose Mini Adi Prianto, M.Psi, "Sebenarnya tidak ada perbedaan, tinggal bagaimana cara orangtua men-treat anaknya dengan cara yang cocok atau bagus. Jadi misalkan anak perlu stimulasi, diberikan stimulasi yang sesuai."
Salah satu dampak positif dari anak yang kerap ditinggal ibunya untuk bekerja adalah dia bisa belajar untuk lebih mandiri. Dengan catatan, apabila tidak selalu dibantu oleh asisten rumah tangga, nanny atau baby sitter di rumah.
"Kalau orangtuanya bekerja, dia harus tahu siapa yang dia mintai tolong dan siapa yang akan menjaga anaknya," ujar wanita berusia 52 tahun ini kepada wolipop, saat dikunjungi di kantornya Essa Consulting Group, Ampera Raya, Jakarta Selatan.
Sementara bagi ibu rumah tangga, pola pengasuhan bisa jadi tidak baik apabila sehari-harinya lebih sering marah-marah atau mengeluh saat mengurus anak. Kembali lagi, semua itu tergantung dari kualitas kedekatan orangtua dan anak, Bukan semata-mata dari tinggi atau rendahnya frekuensi pertemuan.
Romi pun berbagi tips bagaimana sebaiknya mengasuh anak bagi ibu bekerja maupun ibu rumah tangga. "Saya lihat kebanyakan ibu bekerja maunya instan walaupun ada beberapa yang tidak. Semua maunya anak jadi seperti dia. Disekolahin, les, begitu juga dengan ibu yang di rumah. Ini sebenarnya tidak terlalu tepat. Kalau masih balita sebetulnya tidak (harus) terlalu banyak les. Harus selalu diingat perkembangan anak adalah tanggung jawab orangtua. Bukan orang lain," urai Romi.
Oleh karena itu, ibu sebaiknya jangan menyalahkan orang lain apabila anaknya bermasalah. Orangtua harus ingat bahwa dirinya bekerja tidak hanya untuk anak tapi juga dirinya sendiri. Bekerja atau tidak, setiap anak butuh diajarkan disiplin dan kemandirian oleh orangtuanya.
"Kalau anak ditinggal tapi terlalu nempel dengan asistennya sama saja bohong, jadi nggak mandiri juga. Kalau ibu di rumah terus juga jangan sampai kedekatan ibu dan anak terlalu nempel sehingga anak tidak bisa mandiri," ujar wanita yang khas dengan rambut bob dan kacamatanya ini.
Bagi ibu bekerja, Romi menyarankan untuk tidak langsung bertemu dengan anak begitu sampai di rumah setelah bekerja. Stres dan lelah bisa memicu orangtua jadi lebih mudah tersulut emosi sehingga bukannya senang, justru terjadi ketegangan. "Energi sudah dipakai di luar sampai di rumah ibu atau bapak juga harus charge batere dulu supaya mendekati anak tak langsung naik (emosinya) sampai ubun-ubun," terang Romi.
Sedangkan untuk ibu di rumah, perlu berlatih untuk mengendalikan emosi dalam mengasuh anak. Hal ini penting agar stimulasi yang diberikan tepat dan berguna bagi perkembangan si buah hati. "Ibu yang di rumah kalau dia nggak happy dan marah-marah terus juga tidak memberikan stimulasi yang bagus untuk anak," tutupnya.
(hst/eny)
Ibu bekerja memang memiliki tantangan yang mungkin lebih berat daripada ibu yang tidak bekerja dalam mengurus anak. Keterbatasan waktu, kondisi fisik serta mental seringkali menjadi kendala dalam pengasuhan si kecil. Tapi bila diterapkan dengan benar, pola pengasuhan antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga sebenarnya tidak terlalu terpaut berbeda.
Dijelaskan psikolog anak Rose Mini Adi Prianto, M.Psi, "Sebenarnya tidak ada perbedaan, tinggal bagaimana cara orangtua men-treat anaknya dengan cara yang cocok atau bagus. Jadi misalkan anak perlu stimulasi, diberikan stimulasi yang sesuai."
Salah satu dampak positif dari anak yang kerap ditinggal ibunya untuk bekerja adalah dia bisa belajar untuk lebih mandiri. Dengan catatan, apabila tidak selalu dibantu oleh asisten rumah tangga, nanny atau baby sitter di rumah.
"Kalau orangtuanya bekerja, dia harus tahu siapa yang dia mintai tolong dan siapa yang akan menjaga anaknya," ujar wanita berusia 52 tahun ini kepada wolipop, saat dikunjungi di kantornya Essa Consulting Group, Ampera Raya, Jakarta Selatan.
Sementara bagi ibu rumah tangga, pola pengasuhan bisa jadi tidak baik apabila sehari-harinya lebih sering marah-marah atau mengeluh saat mengurus anak. Kembali lagi, semua itu tergantung dari kualitas kedekatan orangtua dan anak, Bukan semata-mata dari tinggi atau rendahnya frekuensi pertemuan.
Romi pun berbagi tips bagaimana sebaiknya mengasuh anak bagi ibu bekerja maupun ibu rumah tangga. "Saya lihat kebanyakan ibu bekerja maunya instan walaupun ada beberapa yang tidak. Semua maunya anak jadi seperti dia. Disekolahin, les, begitu juga dengan ibu yang di rumah. Ini sebenarnya tidak terlalu tepat. Kalau masih balita sebetulnya tidak (harus) terlalu banyak les. Harus selalu diingat perkembangan anak adalah tanggung jawab orangtua. Bukan orang lain," urai Romi.
Oleh karena itu, ibu sebaiknya jangan menyalahkan orang lain apabila anaknya bermasalah. Orangtua harus ingat bahwa dirinya bekerja tidak hanya untuk anak tapi juga dirinya sendiri. Bekerja atau tidak, setiap anak butuh diajarkan disiplin dan kemandirian oleh orangtuanya.
"Kalau anak ditinggal tapi terlalu nempel dengan asistennya sama saja bohong, jadi nggak mandiri juga. Kalau ibu di rumah terus juga jangan sampai kedekatan ibu dan anak terlalu nempel sehingga anak tidak bisa mandiri," ujar wanita yang khas dengan rambut bob dan kacamatanya ini.
Bagi ibu bekerja, Romi menyarankan untuk tidak langsung bertemu dengan anak begitu sampai di rumah setelah bekerja. Stres dan lelah bisa memicu orangtua jadi lebih mudah tersulut emosi sehingga bukannya senang, justru terjadi ketegangan. "Energi sudah dipakai di luar sampai di rumah ibu atau bapak juga harus charge batere dulu supaya mendekati anak tak langsung naik (emosinya) sampai ubun-ubun," terang Romi.
Sedangkan untuk ibu di rumah, perlu berlatih untuk mengendalikan emosi dalam mengasuh anak. Hal ini penting agar stimulasi yang diberikan tepat dan berguna bagi perkembangan si buah hati. "Ibu yang di rumah kalau dia nggak happy dan marah-marah terus juga tidak memberikan stimulasi yang bagus untuk anak," tutupnya.
(hst/eny)
Olahraga
Asics Solution Swift, Sepatu Tenis Ringan untuk Gerak Cepat
Makanan & Minuman
Cari Minyak Goreng Bening dan Tidak Cepat Hitam? Ini Keunggulan SunCo 2L
Pakaian Pria
Cari Sepatu Basket Nyaman & Grip Kuat? Coba Nike Jordan Luka 77 PF
Olahraga
Perut dan Paha Lebih Kencang Tanpa ke Gym? Coba 2 Alat Fitness Rumahan Ini yang Lagi Banyak Dipakai!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Gaya Dramatis Barbie Ferreira Setelah Turun Berat Badan, Diduga karena Ozempic
2
Georgina Rodriguez Tinggalkan Arab dengan Jet Pribadi di Tengah Konflik Timteng
3
Pengakuan Kate Middleton Berhenti Minum Alkohol Setelah Didiagnosis Kanker
4
Masuk Usia 40? Ini Skincare dan Makeup Wajib agar Kulit Tetap Kencang
5
Ramalan Zodiak Cinta 13 Maret: Gemini Lebih Perhatian, Taurus Jangan Percaya
MOST COMMENTED











































