Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Liputan Khusus

Orangtua Cerai, Ini yang Harus Dikompromikan Saat Mengasuh Anak

wolipop
Jumat, 08 Jun 2012 12:02 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Tak seperti keluarga utuh pada umumnya, anak yang dibesarkan oleh orangtua tunggal ada kemungkinan mengalami kesulitan mengidentifikasi figur salah satu orangtua yang tidak tinggal bersamanya. Tapi bukan berarti tidak ada solusi.

"Memang akan beda antara anak yang dibesarkan dalam keluarga utuh dengan yang tunggal. Berapapun ekstra perhatian yang diberikan orangtua single, tidak akan komplit karena anak harus mengidentifikasi figur ibu dan ayah," jelas psikolog efnie Indriani, M.Psi, saat dihubungi wolipop, Kamis (7/5/2012).

Agar anak tetap mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang lengkap, maka kedua orangtua harus bisa berkompromi dalam mengatur waktu pengasuhan. Dalam kasus orangtua yang bercerai misalnya, ibu harus membagi waktu pengasuhan anak dengan ayah. Misalnya dalam satu minggu, si anak empat hari bersama ibu dan dua hari dengan ayahnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebelumnya buat kesepakatan kalau antara orangtua tidak akan menjelekkan satu sama lain sehingga hanya value positif yang diterima anak. Orangtua jangan egois, tidak hanya mengutamakan kepentingan sendiri (misalnya hanya ingin anak sayang kepada ayah atau ibunya)," tutur psikolog yang menjadi dosen di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha ini.

Seorang single mom, Mia Amalia pun menerapkan prinsip yang sama dalam pengasuhan anak. Ia mengaku, baik Mia maupun sang mantan suami telah berjanji kepada anak-anaknya bahwa semuanya tidak akan berubah walaupun orangtuanya berpisah.

"Kita berdua dari awal sudah janji, kami pisah tapi nggak ada yang berubah. Aku nggak ingin ini (perceraian) jadi beban dan bikin anak-anak terganggu," ujar Mia, saat ditemui wolipop di The Reading Room, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2012).

Sementara itu bagi Ainun Chomsun yang juga merupakan orangtua tunggal, walaupun sebagian besar waktu anak dihabiskan bersamanya, dia tak pernah menghalangi jika si anak ingin bertemu ayahnya. Kesibukan yang membuat anak dan sang mantan suami sangat jarang bertemu.

"Dia (anak) sering ikut saya pergi. Dulu kalau ada tugas ke luar kota, anak saya bawa. Begitu juga di akhir pekan. Tapi sekarang hanya ketemu malam atau pagi karena anak sudah sekolah. Bapaknya juga sibuk banget. Tapi kalau dia bilang mau ketemu bapaknya, nanti telepon, dijemput di sekolah dan pergi bareng," cerita Ainun.

Apa saja yang bisa dilakukan sang anak saat menghabiskan waktu bersama ayahnya? Efnie menekankan pada kegiatan yang sifatnya berbagi kebersamaan. Si anak bisa bercerita pengalaman sehari-harinya seperti di sekolah, saat main bersama teman atau ketika bersama ibunya. Begitu pun dengan ayah, sebaiknya juga menceritakan kegiatannya selama berpisah dari anak.

"Ayah harus tanya kegiatan anak, ngobrol intens dan main-main santai. Sekali lagi, tekankan pada mantan suami untuk tidak saling menjelekkan," tegas psikolog yang bekerja di Melinda Hospital, Bandung ini.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads