Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

23% Ortu yang Anaknya Masih Ngompol Merasa Bersalah

wolipop
Senin, 27 Feb 2012 17:35 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta - Survei tentang kebiasaan anak mengompol kembali dilakukan di Inggris. Dari survei tersebut terungkap, 23% orangtua yang anaknya berusia 6-8 tahun dan masih mengompol merasa bersalah.

Orangtua yang anaknya masih mengompol itu juga mengaku masalah mengompol tersebut membuat mereka frustasi. Mereka juga enggan berbagi masalah tersebut pada orangtua lainnya karena merasa hal itu tabu.

Survei yang dilakukan DryNites mengungkapkan, 63% anak berusia 13 dan 16 tahun yang masih mengompol merasa sangat malu. 1/4 anak tersebut juga merasa sangat sedih, bingung dan gelisah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam surveinya, produk popok celana itu bertanya pada lebih dari 1.000 orangtua di Inggris. Survei dilakukan untuk mematahkan anggapan bahwa mengompol adalah hal yang memalukan sehingga tabu untuk dibicarakan.

Memang dari hasil riset DryNites terungkap, 1/2 dari orangtua yang menjadi responden mengaku mereka tidak pernah bicara pada orangtua lainnya tentang kebiasaan mengompol anak. Malah di beberapa kota, angka orangtua yang malu itu mencapai 70%.

Untuk mengatasi masalah mengompol itu, 2 dari 5 orangtua mencoba meminta anak mengurangi minum jelang tidur. Hanya sedikit dari mereka yang mencoba bicara dengan anak agar kebiasaan itu tak terulang lagi.

Menurut psikolog anak, Emma Kenny, seharusnya orangtua mencari solusi terbaik atas masalah mengompol tersebut. Jalan keluar pertama yang bisa dicoba adalah dengan menganggap kebiasaan mengompol itu bukan suatu hal yang tabu atau memalukan, tapi normal.

"Orangtua harus meyakinkan anak kalau mengompol ini normal, bagian dari pertumbuhan dan bukan salah mereka," jelasnya.

Ditegaskan Kenny, anak-anak yang mengompol butuh dukungan dari orangtua mereka. Dukungan tersebut didapat apabila orangtua mau secara terbuka membicarakan masalah tersebut. Orangtua juga tidak perlu malu curhat dengan orangtua lainnya, agar beban dan kekhawatiran mereka lebih mereda.

(eny/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads