Riset: Sekolah Khusus 1 Jenis Kelamin Kurang Baik
wolipop
Sabtu, 24 Sep 2011 13:36 WIB
Jakarta
-
Sekolah khusus untuk pria atau wanita ternyata tidak baik untuk perkembangan anak. Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat membuktikan hal tersebut.
Penelitian itu dilakukan oleh peneliti di Pennsylvania State University. Menurut penelitian tersebut memisahkan dua jenis kelamin bisa jadi bukan cara terbaik untuk anak belajar dan mengembangkan diri.
Dalam penelitian itu terungkap, anak yang sekolah di sekolah khusus satu jenis kelamin tidak jadi lebih terdidik dibandingkan anak-anak di sekolah umum. Tak hanya itu, anak pun jadi lebih mudah menerima stereotipe gender jika sekolah di sekolah khusus laki-laki atau perempuan.
"Konsekuensi jangka panjangnya misalnya, anak-anak perempuan jadi hanya terbiasa terlibat dengan sesama perempuan, kemudian ketika mereka harus menghadapi dunia nyata, itu tidak berlaku," ujar Lynn Liben, profesor psikologi dan pendidikan di Penn State yang juga pemimpinan penelitian tersebut, seperti dikutip dari ABC News.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science itu peneliti membandingkan dua kelas preschool. Dalam satu kelas, guru menggunakan bahasa yang hanya spesifik pada satu gender. Sementara di kelas yang satunya, guru lainnya tidak melakukan hal tersebut.
Setelah dua minggu, peneliti melaporkan, anak-anak yang diajarkan dengan bahasa khusus satu gender jadi kurang suka bermain dengan anak yang berbeda jenis kelamin dengannya. Anak-anak tersebut juga menunjukkan kecenderungan stereotipe gender, misalnya saja anak laki-laki bermain truk, perempuan main boneka.
Hanya saja menurut mereka yang mendukung sekolah khusus satu jenis kelamin, hasil penelitian di atas kurang tepat. Mereka berpendapat, otak anak laki-laki dan perempuan berbeda sehingga dibutuhkan gaya pengajaran yang berbeda juga untuk memaksimalkan pendidikan.
Namun menurut para peneliti di Penn State, ilmuwan-ilmuwan yang mempelajari sistem syaraf tidak pernah menemukan bukti kuat yang menunjukkan perbedaan gaya belajar anak laki-laki dan perempuan. Peneliti juga menambahkan berdasarkan review dari Departemen Pendidikan di Amerika, memang ada perbedaan hasil antara anak-anak yang sekolah di sekolah khusus satu jenis kelamin dengan sekolah umumnya.
(eny/eny)
Penelitian itu dilakukan oleh peneliti di Pennsylvania State University. Menurut penelitian tersebut memisahkan dua jenis kelamin bisa jadi bukan cara terbaik untuk anak belajar dan mengembangkan diri.
Dalam penelitian itu terungkap, anak yang sekolah di sekolah khusus satu jenis kelamin tidak jadi lebih terdidik dibandingkan anak-anak di sekolah umum. Tak hanya itu, anak pun jadi lebih mudah menerima stereotipe gender jika sekolah di sekolah khusus laki-laki atau perempuan.
"Konsekuensi jangka panjangnya misalnya, anak-anak perempuan jadi hanya terbiasa terlibat dengan sesama perempuan, kemudian ketika mereka harus menghadapi dunia nyata, itu tidak berlaku," ujar Lynn Liben, profesor psikologi dan pendidikan di Penn State yang juga pemimpinan penelitian tersebut, seperti dikutip dari ABC News.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science itu peneliti membandingkan dua kelas preschool. Dalam satu kelas, guru menggunakan bahasa yang hanya spesifik pada satu gender. Sementara di kelas yang satunya, guru lainnya tidak melakukan hal tersebut.
Setelah dua minggu, peneliti melaporkan, anak-anak yang diajarkan dengan bahasa khusus satu gender jadi kurang suka bermain dengan anak yang berbeda jenis kelamin dengannya. Anak-anak tersebut juga menunjukkan kecenderungan stereotipe gender, misalnya saja anak laki-laki bermain truk, perempuan main boneka.
Hanya saja menurut mereka yang mendukung sekolah khusus satu jenis kelamin, hasil penelitian di atas kurang tepat. Mereka berpendapat, otak anak laki-laki dan perempuan berbeda sehingga dibutuhkan gaya pengajaran yang berbeda juga untuk memaksimalkan pendidikan.
Namun menurut para peneliti di Penn State, ilmuwan-ilmuwan yang mempelajari sistem syaraf tidak pernah menemukan bukti kuat yang menunjukkan perbedaan gaya belajar anak laki-laki dan perempuan. Peneliti juga menambahkan berdasarkan review dari Departemen Pendidikan di Amerika, memang ada perbedaan hasil antara anak-anak yang sekolah di sekolah khusus satu jenis kelamin dengan sekolah umumnya.
(eny/eny)











































