4 Alasan Buruk untuk Punya Anak
wolipop
Jumat, 22 Apr 2011 13:37 WIB
Jakarta
-
Kehadiran seorang anak akan jadi anugerah tersendiri untuk Anda dan pasangan. Memiliki anak, artinya Anda dan pasangan punya tanggungjawab yang harus dijalankan. Meskipun si anak sudah dewasa, tanggungjawab itu masih akan melekat pada orangtua.
Apa sebenarnya yang membuat seseorang ingin menanggung tanggungjawab tersebut? Tentu ada banyak jawaban yang keluar. Sayangnya tidak semua jawaban itu tepat. Jangan sampai Anda dan pasangan, ingin memiliki anak hanya karena empat alasan berikut ini seperti dilansir Helium dan MSN:
1. Menyelamatkan atau Memperbaiki Pernikahan
Jika saat ini hubungan pernikahan Anda dan pasangan sedang tidak baik atau malah hampir bubar, memiliki anak bukanlah ide yang tepat. Apalagi kehadiran anak, terutama saat masih bayi, memerlukan perhatian Anda, bukan hanya sesaat. Bayi yang baru lahir misalnya, bisa membuat Anda tidak tidur semalaman. Hal ini bisa saja membuat Anda dan pasangan bertambah stres.
Komunikasi yang seharusnya dilakukan untuk memperbaiki hubungan, jadi tidak terjadi karena fokus mengurus bayi. Jadi, cobalah realistis. Benarkah kehadiran si kecil bisa menyelamatkan pernikahan Anda? Sebaiknya, perbaiki dulu hubungan yang retak itu, lalu Anda bisa menambah warna dalam keluarga dengan kehadiran anak.
2. Tekanan atau Paksaan dari Orangtua
Sejak sebelum Anda menikah, orangtua sudah sering mengatakan ingin segera memiliki cucu. Saat Anda sudah menikah, ucapan itu semakin sering dikatakannya.
Sebenarnya keinginan orangtua Anda atau mertua itu memang baik. Namun bukan berarti hal tersebut jadi alasan tepat untuk Anda memiliki anak.
Pikirkan dulu apakah Anda dan pasangan sudah siap, baik secara fisik, emosi dan finansial untuk memiliki anak. Apakah Anda dan pasangan juga sudah siap untuk berkomitmen menjadi orangtua? Jika belum, sebaiknya pikirkan lagi, apakah Anda memang benar mau punya anak hanya karena tekanan dari orangtua atau mertua.
3. Semua Teman Anda Punya Anak
Kalau sampai Anda ingin punya anak karena alasan ketiga ini, Anda benar-benar harus memikirkannya lagi. Keputusan memiliki anak bukanlah seperti keputusan yang bisa Anda pikirkan dalam sekejap.
Memiliki anak sudah pasti akan mengubah hidup Anda seluruhnya dan selamanya. Ada banyak yang harus dipertimbangkan sebelum keputusan besar itu diambil. Misalnya saja, apakah Anda akan berhenti bekerja atau di rumah saja saat si kecil lahir? Sudah siapkah Anda melepas masa-masa 'bebas' seperti saat belum si kecil hadir? Apakah Anda dan pasangan sudah punya pandangan yang sama tentang cara membesarkan anak?
Jangan berpikir, hanya karena teman Anda dan suaminya siap, Anda dan pasangan juga siap. Satukan dulu pandangan Anda dan si dia, sebelum benar-benar memutuskan untuk memiliki anak.
4. Mengkhawatirkan Masa Subur
Masa subur adalah hal yang harus dipertimbangkan untuk memutuskan memiliki anak, bukan alasan untuk punya anak. Pada dasarnya, jangan terlalu mengkhawatirkan hal tersebut, jalani saja. Faktanya, beberapa pasangan meskipun masih dalam masa subur, ada yang tidak langsung bisa memiliki anak. Namun ada juga yang bisa langsung hamil saat baru menikah.
Tetaplah berpikir positif tentang diri Anda. Mulai proses memiliki anak saat Anda dan pasangan sudah benar-benar siap. Bangun keluarga kecil Anda dengan alasan yang tepat sehingga Anda tidak akan menyesalinya dan mendapatkan kebahagiaan.
(eny/eny)
Apa sebenarnya yang membuat seseorang ingin menanggung tanggungjawab tersebut? Tentu ada banyak jawaban yang keluar. Sayangnya tidak semua jawaban itu tepat. Jangan sampai Anda dan pasangan, ingin memiliki anak hanya karena empat alasan berikut ini seperti dilansir Helium dan MSN:
1. Menyelamatkan atau Memperbaiki Pernikahan
Jika saat ini hubungan pernikahan Anda dan pasangan sedang tidak baik atau malah hampir bubar, memiliki anak bukanlah ide yang tepat. Apalagi kehadiran anak, terutama saat masih bayi, memerlukan perhatian Anda, bukan hanya sesaat. Bayi yang baru lahir misalnya, bisa membuat Anda tidak tidur semalaman. Hal ini bisa saja membuat Anda dan pasangan bertambah stres.
Komunikasi yang seharusnya dilakukan untuk memperbaiki hubungan, jadi tidak terjadi karena fokus mengurus bayi. Jadi, cobalah realistis. Benarkah kehadiran si kecil bisa menyelamatkan pernikahan Anda? Sebaiknya, perbaiki dulu hubungan yang retak itu, lalu Anda bisa menambah warna dalam keluarga dengan kehadiran anak.
2. Tekanan atau Paksaan dari Orangtua
Sejak sebelum Anda menikah, orangtua sudah sering mengatakan ingin segera memiliki cucu. Saat Anda sudah menikah, ucapan itu semakin sering dikatakannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pikirkan dulu apakah Anda dan pasangan sudah siap, baik secara fisik, emosi dan finansial untuk memiliki anak. Apakah Anda dan pasangan juga sudah siap untuk berkomitmen menjadi orangtua? Jika belum, sebaiknya pikirkan lagi, apakah Anda memang benar mau punya anak hanya karena tekanan dari orangtua atau mertua.
3. Semua Teman Anda Punya Anak
Kalau sampai Anda ingin punya anak karena alasan ketiga ini, Anda benar-benar harus memikirkannya lagi. Keputusan memiliki anak bukanlah seperti keputusan yang bisa Anda pikirkan dalam sekejap.
Memiliki anak sudah pasti akan mengubah hidup Anda seluruhnya dan selamanya. Ada banyak yang harus dipertimbangkan sebelum keputusan besar itu diambil. Misalnya saja, apakah Anda akan berhenti bekerja atau di rumah saja saat si kecil lahir? Sudah siapkah Anda melepas masa-masa 'bebas' seperti saat belum si kecil hadir? Apakah Anda dan pasangan sudah punya pandangan yang sama tentang cara membesarkan anak?
Jangan berpikir, hanya karena teman Anda dan suaminya siap, Anda dan pasangan juga siap. Satukan dulu pandangan Anda dan si dia, sebelum benar-benar memutuskan untuk memiliki anak.
4. Mengkhawatirkan Masa Subur
Masa subur adalah hal yang harus dipertimbangkan untuk memutuskan memiliki anak, bukan alasan untuk punya anak. Pada dasarnya, jangan terlalu mengkhawatirkan hal tersebut, jalani saja. Faktanya, beberapa pasangan meskipun masih dalam masa subur, ada yang tidak langsung bisa memiliki anak. Namun ada juga yang bisa langsung hamil saat baru menikah.
Tetaplah berpikir positif tentang diri Anda. Mulai proses memiliki anak saat Anda dan pasangan sudah benar-benar siap. Bangun keluarga kecil Anda dengan alasan yang tepat sehingga Anda tidak akan menyesalinya dan mendapatkan kebahagiaan.
(eny/eny)
Home & Living
Nasi Putih Lebih Sehat Saat Sahur & Berbuka? Rice Cooker Low Sugar Ini Lebih Sehat
Home & Living
Masak Sahur & Berbuka Lebih Sehat Tanpa Minyak? Air Fryer Kaca Transparan Ini Bikin Praktis
Home & Living
Karpet untuk Di Rumah Anti Slip yang Bikin Ruang Tamu Terlihat Lebih Mewah
Elektronik & Gadget
Speaker yang Bikin Musik Terasa Hidup di Rumah! Kenalan dengan JBL Authentics 200
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Sarah Ferguson Menghilang di Tengah Skandal Jeffrey Epstein, Ternyata Direhab
2
5 Wajah Perempuan yang akan Dominasi Era Baru Monarki Eropa
3
Bikin Tirus, 5 Tutorial Hijab Pashmina Viscose Print ala Gen Z untuk Bukber
4
Ramalan Zodiak Cinta 23 Februari: Libra Lebih Perhatian, Cancer Jangan Egois
5
Melania Trump Bicara Kehebatan Fashion AS, Tapi Pakai Baju Brand Eropa
MOST COMMENTED











































