Bagaimana Membangun Kepercayaan Diri Pada Anak?
wolipop
Jumat, 25 Feb 2011 10:07 WIB
Jakarta
-
Tidak sedikit orang tua yang mengeluh anak mereka tidak percaya diri ketika berada di luar zona nyamannya yaitu rumah. Anak menjadi malu dan cenderung tidak berani melakukan sesuatu sendiri. Bagaimana caranya membangun kepercayaan diri anak?
Psikolog anak, D'Arcy Lyness mengungkapkan menjadi seorang anak memang butuh kepercayaan diri. Seperti dilansir Kids Health, ada banyak hal baru yang akan anak temui seperti pergi ke sekolah baru atau keluar dari rumah untuk pertama kalinya.
Para orang tua tentu ingin agar anak mereka bisa melakukan sesuatu sendiri sehingga anak berani menghadapi tantangan baru dan tentu saja percaya diri. Namun perlu diingat, setiap anak tidaklah sama.
Anak membangun kepercayaan diri mereka bukan hanya karena orangtuanya mengatakan mereka 'hebat' atau 'pintar'. Anak merasa percaya diri karena prestasi yang mereka lakukan sendiri baik itu kecil ataupun besar. Saat orangtua memberikan pujian untuk prestasi tersebut, itu adalah nilai tambah.
Saat anak bisa melakukan sesuatu seperti menggosok gigi sendiri, berjalan sendiri, naik sepeda sendiri, mereka merasa kalau mereka sebenarnya mampu. Perasaan mampu itu merupakan salah satu yang menyulut kepercayaan dirinya.
Membangun kepercayaan diri anak sebenarnya bisa dimulai sejak dini. Saat anak masih bayi misalnya, mereka belajar tengkurap sendiri, ketika anak batita mereka belajar berjalan dan berlari. Mereka pun mulai berpikir kalau 'Aku bisa melakukannya sendiri'. Setiap kemampuan baru yang bisa dilakukan anak di usia pentingnya, di saat itulah anak membangun kepercayaan dirinya.
Menurut psikolog yang meraih gelar Doktor dari Universitas Temple, Philadelpia itu, para orang tua bisa membantu anak mereka membangun kepercayaan diri dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk anak mengembangkan kemampuannya. Biarkan anak belajar dari kesalahan, namun Anda tetap ada di sisinya memberikan semangat agar mereka tidak mudah menyerah. Saat anak bisa melakukan kepintaran baru, berikan respon dengan antusias dan tidak ada salahnya memberinya 'hadiah' dengan pujian atau pelukan.
Dengan diberikan kesempatan seluas-luasanya, instruksi yang baik dan para orangtua harus banyak bersabar, anak bisa menguasai kemampuan-kemampuan dasar seperti merapikan tempat tidur dan mengikat tali sepatu. Dengan merasa dirinya 'bisa', anak pun menjadi lebih percaya diri ketika berhadapan dengan suatu tantangan baru.
Berada di Sisi Anak
Dr Lyness mengatakan, sebagai orang tua, Anda harus tetap mengawasi anak saat mereka tengah mencoba mengembangkan kemampuannya, untuk kepentingan keamanan atau keselamatannya. Namun bukan berarti Anda jadi terlalu protektif. Berikan anak kesempatan mencoba sesuatu yang baru, membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan itu.
Misalnya, jika anak ingin belajar membuat roti dengan olesan selai kacang, Anda coba berikan contoh dulu, lalu siapkan bahan-bahannya dan biarkan anak mencoba sendiri. Akan berantakan? Sudah pasti. Namun jangan Anda jadi tiba-tiba membantunya saat dia membuat selai kacang berjatuhan di meja. Jika Anda membantunya, padahal dia belum selesai, anak akan berpikir dia tidak bisa membuat roti sendiri.
Tapi jika Anda bersabar dengan kericuhan yang terjadi selama proses pembuatan roti tersebut, Anda akan rasakan hasil nyatanya. Suatu hari anak Anda mungkin akan bilang dengan percaya diri, 'Aku lapar, aku akan buat roti selai kacang sendiri'. Ucapan tersebut bisa ditimpali dengan, 'Bagus, bisa buatkan untukku juga?'. Ucapan ini merupakan contoh kalau Anda percaya pada kemampuannya.
Terkadang anak bisa merasa frutasi saat dia gagal melakukan sesuatu. Bantu dia dengan tetap memberikannya dorongan untuk tidak mudah menyerah. Dengan mencoba lagi atas kegagalannya itu, anak belajar kalau halangan apapun bisa diatasi. (eny/eny)
Psikolog anak, D'Arcy Lyness mengungkapkan menjadi seorang anak memang butuh kepercayaan diri. Seperti dilansir Kids Health, ada banyak hal baru yang akan anak temui seperti pergi ke sekolah baru atau keluar dari rumah untuk pertama kalinya.
Para orang tua tentu ingin agar anak mereka bisa melakukan sesuatu sendiri sehingga anak berani menghadapi tantangan baru dan tentu saja percaya diri. Namun perlu diingat, setiap anak tidaklah sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat anak bisa melakukan sesuatu seperti menggosok gigi sendiri, berjalan sendiri, naik sepeda sendiri, mereka merasa kalau mereka sebenarnya mampu. Perasaan mampu itu merupakan salah satu yang menyulut kepercayaan dirinya.
Membangun kepercayaan diri anak sebenarnya bisa dimulai sejak dini. Saat anak masih bayi misalnya, mereka belajar tengkurap sendiri, ketika anak batita mereka belajar berjalan dan berlari. Mereka pun mulai berpikir kalau 'Aku bisa melakukannya sendiri'. Setiap kemampuan baru yang bisa dilakukan anak di usia pentingnya, di saat itulah anak membangun kepercayaan dirinya.
Menurut psikolog yang meraih gelar Doktor dari Universitas Temple, Philadelpia itu, para orang tua bisa membantu anak mereka membangun kepercayaan diri dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk anak mengembangkan kemampuannya. Biarkan anak belajar dari kesalahan, namun Anda tetap ada di sisinya memberikan semangat agar mereka tidak mudah menyerah. Saat anak bisa melakukan kepintaran baru, berikan respon dengan antusias dan tidak ada salahnya memberinya 'hadiah' dengan pujian atau pelukan.
Dengan diberikan kesempatan seluas-luasanya, instruksi yang baik dan para orangtua harus banyak bersabar, anak bisa menguasai kemampuan-kemampuan dasar seperti merapikan tempat tidur dan mengikat tali sepatu. Dengan merasa dirinya 'bisa', anak pun menjadi lebih percaya diri ketika berhadapan dengan suatu tantangan baru.
Berada di Sisi Anak
Dr Lyness mengatakan, sebagai orang tua, Anda harus tetap mengawasi anak saat mereka tengah mencoba mengembangkan kemampuannya, untuk kepentingan keamanan atau keselamatannya. Namun bukan berarti Anda jadi terlalu protektif. Berikan anak kesempatan mencoba sesuatu yang baru, membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan itu.
Misalnya, jika anak ingin belajar membuat roti dengan olesan selai kacang, Anda coba berikan contoh dulu, lalu siapkan bahan-bahannya dan biarkan anak mencoba sendiri. Akan berantakan? Sudah pasti. Namun jangan Anda jadi tiba-tiba membantunya saat dia membuat selai kacang berjatuhan di meja. Jika Anda membantunya, padahal dia belum selesai, anak akan berpikir dia tidak bisa membuat roti sendiri.
Tapi jika Anda bersabar dengan kericuhan yang terjadi selama proses pembuatan roti tersebut, Anda akan rasakan hasil nyatanya. Suatu hari anak Anda mungkin akan bilang dengan percaya diri, 'Aku lapar, aku akan buat roti selai kacang sendiri'. Ucapan tersebut bisa ditimpali dengan, 'Bagus, bisa buatkan untukku juga?'. Ucapan ini merupakan contoh kalau Anda percaya pada kemampuannya.
Terkadang anak bisa merasa frutasi saat dia gagal melakukan sesuatu. Bantu dia dengan tetap memberikannya dorongan untuk tidak mudah menyerah. Dengan mencoba lagi atas kegagalannya itu, anak belajar kalau halangan apapun bisa diatasi. (eny/eny)
Pakaian Wanita
Kaos Kaki Ankle Tidak Mudah Melar, THE MUDS Tutty Fruity yang Awet Dipakai Rutin
Pakaian Pria
Inspirasi Outift Pria untuk Bukber di Bulan Ramadhan, Rapi, Stylish, dan Tetap Nyaman Dipakai!
Pakaian Pria
Merayakan Lebaran dengan Tas Baru, BANGE BG7566 Tas Selempang Pria Waist Bag Favorit yang Wajib Kamu Punya!
Hobi dan Mainan
Fantech Gamepad HALL EFFECT Wireless WGP13S, Kontrol Presisi Tanpa Drama untuk Gamer Serius!
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
Semua Bunda Dirayakan
Morinaga Ajak Bunda & Anak Bernyanyi Bersama di PIK 2, Yuk Ikutan!
YAYAYA Fest 2025: Bunda Senang, Si Kecil Pun Girang
Kinderflix dan Morinaga Berbagi Keseruan di YAYAYA Fest 2025
5 Rekomendasi Hadiah Istimewa, Tanda Kasih untuk Ibu Mertua
Seru-seruan Bareng Anak di LazMall Daily Bundafest, Banyak Lomba Menarik!
Most Popular
1
Mengenal 2 Putri Pangeran Andrew yang Jadi Sorotan Usai Ayahnya Ditangkap
2
TikTok Viral Verificator
Tak Disangka, Viral Wanita Ini Hamil Bareng Ibu dan Kini Urus 4 Adik Sendiri
3
Sering Ngopi saat Puasa? Ini Dampak Buruknya ke Kulit Menurut Dokter
4
Ramalan Zodiak 21 Februari: Cancer Kerja Keras, Virgo Percaya Si Dia
5
Langkah Emas Raih Kemenangan
Cara Detoks Gula Saat Ramadan, Ini Makanan dan Minuman yang Disarankan
MOST COMMENTED











































