Bos Estee Lauder Meninggal Setelah Suntik Filler, Dokter Ungkap Risikonya
Seorang eksekutif senior Estée Lauder, Kendal Ascher, meninggal dunia pada Februari lalu setelah mengalami komplikasi langka yang diduga dipicu oleh prosedur filler kosmetik. Pekan ini, otoritas pemeriksa medis New York menyatakan pria berusia 56 tahun itu meninggal akibat gagal napas akut setelah mengalami emboli paru, yakni penyumbatan pembuluh darah di paru-paru yang mengganggu aliran darah dan pasokan oksigen ke tubuh.
Dalam kasus Ascher, penyumbatan tersebut diduga terjadi karena filler masuk ke dalam aliran darah. Kabar ini memunculkan pertanyaan, bagaimana prosedur kecantikan yang umum dilakukan bisa berujung fatal?
Menurut dokter spesialis dermatologi kosmetik Dr. Kenneth Mark, kemungkinan besar filler secara tidak sengaja masuk ke pembuluh darah saat proses penyuntikan. Meski demikian, ia menegaskan komplikasi seperti ini sangat jarang terjadi pada filler wajah dan lebih sering dikaitkan dengan prosedur pembesaran bokong menggunakan transfer lemak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus serupa pernah terjadi pada seorang wanita berusia 26 tahun yang meninggal 18 jam setelah menjalani filler bokong akibat komplikasi yang sama. Karena risikonya, prosedur pembesaran bokong dengan transfer lemak dikenal sebagai salah satu operasi kosmetik dengan tingkat kematian tertinggi.
Efek Samping dan Risiko Filler
Filler merupakan prosedur injeksi gel seperti asam hialuronat atau lemak tubuh untuk mengisi kerutan dan menambah volume pada area wajah, termasuk pipi dan bibir. Menurut Dr. Lyle Leipziger, Kepala Bedah Plastik di North Shore University Hospital dan LIJ Medical Center, filler wajah umumnya aman jika dilakukan oleh dokter yang memahami anatomi wajah secara mendalam.
Ilustrasi Foto: iStock |
Setiap tahun, lebih dari lima juta orang menjalani prosedur ini. Efek samping ringan seperti bengkak, memar, kemerahan, dan nyeri di area suntikan tergolong normal.
"Bahkan jika seseorang hanya tertusuk jarum tanpa injeksi filler, pembengkakan reaktif tetap bisa terjadi. Setelah filler disuntikkan, pembengkakan selama 24 hingga 72 jam masih dianggap normal," kata Mark, seperti dikutip dari New York Post.
Meski relatif aman, filler tetap memiliki risiko. Komplikasi paling langka sekaligus paling serius adalah vascular occlusion atau penyumbatan pembuluh darah. Kondisi ini terjadi ketika filler masuk ke pembuluh darah dan menghambat aliran darah normal.
Gejalanya dapat berupa nyeri hebat dan perubahan warna kulit. Jika segera terdeteksi, kondisi ini masih bisa diatasi dengan suntikan enzim hyaluronidase untuk melarutkan filler. Namun bila terlambat ditangani, dampaknya dapat berkembang menjadi kerusakan jaringan, kebutaan, hingga emboli paru yang mengancam nyawa.
Kendal Ascher Foto: Instagram |
Cara Mengurangi Risiko
Para ahli menekankan pentingnya memilih dokter yang berpengalaman dan memiliki sertifikasi resmi. Menurut Mark, masih banyak prosedur kosmetik dilakukan oleh orang yang tidak memiliki pelatihan memadai.
"Masih terlalu banyak orang yang melakukan prosedur injeksi kosmetik tanpa pelatihan dan pengalaman yang cukup. Akibatnya, filler sering mendapat citra buruk karena penggunaan produk yang salah atau penyuntikan yang dilakukan di area yang tidak tepat," ujarnya.
Selain memilih tenaga medis yang kompeten, pasien juga disarankan mengetahui jenis filler yang digunakan, memastikan produk berasal dari sumber resmi dan telah mendapat persetujuan regulator, serta melakukan prosedur secara bertahap, bukan dalam jumlah besar sekaligus.
(kik/kik)













































