Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Viral Tren Filler Dari Lemak Mayat, Ini Kata Dokter

Vina Oktiani - wolipop
Senin, 20 Apr 2026 13:00 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi filler telinga.
Foto: Getty Images/dimid_86
Jakarta -

Dunia kecantikan kembali diramaikan dengan tren baru yang kontroversial dan bikin melongo, yaitu filler berbahan lemak dari donor yang telah meninggal. Prosedur tersebut mulai banyak dibicarakan karena diklaim mampu memberikan volume dan bentuk tubuh secara instan tanpa perlu operasi besar.

Melansir New York Post, produk seperti Alloclae disebut-sebut sebagai inovasi terbaru dalam dunia estetika dan regenerative medicine. Filler ini dibuat dari jaringan lemak donor (cadaver), yang telah disterilkan dan dihilangkan DNA-nya, sehingga aman digunakan pada tubuh manusia. Tujuannya adalah untuk mengisi, membentuk, dan memperhalus area tubuh seperti payudara, pinggul, atau bokong.

Berbeda dengan metode tradisional, prosedur ini tidak memerlukan pengambilan lemak dari tubuh pasien sendiri. Biasanya, teknik yang umum digunakan adalah fat grafting, yaitu memindahkan lemak dari bagian tubuh tertentu seperti perut atau paha, lalu menyuntikkannya ke area yang diinginkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski terdengar praktis, tidak semua dokter setuju dengan tren ini. Seorang ahli bedah plastik di New York, Dr. Tommaso Addona, menyatakan bahwa ia masih belum nyaman menggunakan filler dari lemak donor, khususnya untuk area payudara.

Menurutnya, payudara adalah organ yang kompleks dan sensitif, sehingga membutuhkan penelitian lebih mendalam sebelum metode baru seperti ini digunakan secara luas. Ia juga menyoroti masih minimnya data jangka panjang terkait keamanan penggunaan filler tersebut.

ADVERTISEMENT

Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan munculnya komplikasi yang dapat mengganggu pemeriksaan kesehatan, seperti mammogram untuk deteksi kanker payudara. Hal itu dikarenakan lemak yang disuntikkan berpotensi tidak bertahan atau mati (fat necrosis), yang kemudian bisa membentuk seperti kista atau kalsifikasi.

Masalahnya, kondisi tersebut bisa terlihat seperti benjolan mencurigakan saat pemeriksaan, sehingga berisiko menimbulkan 'false alarm' atau kesalahan diagnosis. Hal itu tentu dapat meniimbulkan kepanikan dan memicu pemeriksaan lanjutan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Meski beberapa studi awal menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan, penelitian tersebut masih terbatas dan sebagian besar dilakukan pada hewan. Data pada manusia pun masih sedikit, dengan jumlah pasien yang terbatas dan waktu pemantauan yang relatif singkat.

Di sisi lain, keunggulan filler ini adalah prosesnya yang cepat dan minim downtime. Prosedur dapat dilakukan tanpa anestesi umum, dan pasien biasanya bisa kembali beraktivitas ringan dalam waktu 24 jam.

Meski begitu, banyak ahli masih menyarankan metode konvensional yang sudah terbukti aman melalui penelitian bertahun-tahun. Penggunaan lemak dari tubuh sendiri dinilai memiliki risiko lebih kecil dibandingkan bahan dari donor.

Tren ini juga semakin populer di media sosial, dengan banyak dokter dan klinik mempromosikannya sebagai alternatif baru untuk memperbesar atau membentuk tubuh. Namun, di balik popularitasnya, penting bagi calon pasien untuk tetap kritis dan tidak hanya tergiur hasil instan.

(vio/vio)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads