Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Niat Glow Up, Rambut Wanita Ini Malah Jadi Uban Setelah Transplantasi

Vina Oktiani - wolipop
Senin, 20 Apr 2026 08:33 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Nini B
Foto: via New York Post
Jakarta -

Transplantasi rambut menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki garis rambut dan meningkatkan kepercayaan diri. Tapi ternyata tidak semua hasil transplantasi rambut sesuai ekspektasi, seperti yang dialami wanita asal Los Angeles satu ini.

Melansir NY Posst, Nini B, seorang perawat sekaligus kreator konten, memutuskan menjalani prosedur transplantasi rambut untuk menurunkan garis rambutnya. Ia mengaku mulai lebih memperhatikan penampilannya sejak sering tampil di depan kamera. Meski sebelumnya tidak terlalu terganggu dengan bentuk dahinya, keinginan untuk tampil lebih proporsional membuatnya mencoba berbagai perawatan rambut.

Setelah berbagai metode penumbuh rambut tidak memberikan hasil, Nini akhirnya memilih transplantasi rambut sebagai solusi. Prosedur tersebut dilakukan oleh dokter spesialis yang memindahkan sekitar 2.500 folikel rambut dari bagian belakang kepala ke area garis rambut baru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awalnya, hasil operasi berjalan lancar dan sesuai harapan. Nini pun merasa cukup puas dengan bentuk hairline barunya yang terlihat lebih natural. Namun, hal tak terduga mulai muncul beberapa minggu setelah prosedur.

Nini BNini B Foto: via New York Post

Sekitar dua hingga tiga minggu pasca operasi, Nini menyadari sesuatu yang aneh. Rambut yang tumbuh di area transplantasi, bahkan beberapa rambut di sekitarnya, berubah menjadi abu-abu atau uban. Padahal sebelumnya, ia hampir tidak memiliki rambut beruban sama sekali.

ADVERTISEMENT

Efek samping tersebut tergolong sangat langka. Bahkan, dokter yang menangani Nini mengaku belum pernah menemukan kasus serupa sepanjang kariernya. Hal itu membuat kondisi Nini berpotensi menjadi bahan studi lebih lanjut di dunia medis.

Secara ilmiah, perubahan warna rambut seperti yang dialami Nini belum memiliki penjelasan pasti. Namun, beberapa faktor diduga bisa memengaruhi, seperti stres pada kulit kepala akibat prosedur, faktor genetik, hingga kondisi tubuh secara keseluruhan. Salah satu kemungkinan yang disebut adalah 'shock loss,' yaitu kondisi ketika folikel rambut mengalami fase istirahat karena tekanan atau trauma pada jaringan sekitar.

Dalam kasus Nini, stres tidak hanya terjadi di area penerima transplantasi, tetapi juga di area donor. Kondisi tersebut diduga memengaruhi produksi pigmen rambut, sehingga rambut baru tumbuh dengan warna berbeda.
Sayangnya, belum bisa dipastikan apakah warna rambut tersebut akan kembali seperti semula. Proses pemulihan transplantasi rambut sendiri memang membutuhkan waktu beberapa bulan hingga hasil akhirnya benar-benar terlihat.

Di balik perubahan fisik yang terjadi, Nini juga menghadapi tantangan secara emosional. Ia mengaku mengalami berbagai perasaan selama masa pemulihan, termasuk rasa tidak percaya diri dengan penampilannya saat ini. Bahkan, ia menyebut perlu mempersiapkan mental untuk merasa 'tidak menarik' selama beberapa bulan pertama setelah prosedur.

Meski begitu, Nini tetap mencoba beradaptasi. Salah satunya dengan menata rambut poni untuk membantu menutupi area yang berubah, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri selama masa penyembuhan.

(vio/vio)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Hide Ads