Wajah Rusak karena Filler Abal-abal, Influencer Ini Malah Operasi Payudara
Influencer asal Brasil, Juliana Oliveira atau yang dikenal sebagai Juju do Pix, kembali menjadi sorotan setelah menjalani operasi kosmetik terbaru. Wanita transgender 32 tahun itu sebelumnya viral karena kondisi wajahnya yang rusak akibat suntikan filler ilegal. Namun bukannya memperbaiki wajahnya dulu, Oliveira malah menjalani operasi payudara.
Kasus yang menimpanya bermula pada 2017. Saat itu, Oliveira ingin tampil lebih cantik dan feminin dengan melakukan filler di area pipi. Bukannya jadi cantik, Oliveira malah mendapat 21 suntikan yang berisi campuran minyak mineral dan obat pencahar yang tidak ia ketahui.
Prosedur tersebut dilakukan oleh klinik ilegal tanpa persetujuan yang jelas, dan menyebabkan wajahnya mengalami pembengkakan ekstrem, terutama di bagian pipi dan kelopak mata. Kondisi itu bahkan membuatnya kesulitan mendapatkan pekerjaan dan sempat merasa penampilannya tidak akan bisa kembali normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah delapan tahun mencari bantuan medis, Oliveira akhirnya menemukan dokter yang bersedia menangani kasusnya. Pada November lalu, ia menjalani operasi rekonstruksi pertama yang berlangsung lebih dari empat jam. Prosedur ini bertujuan mengangkat zat berbahaya serta jaringan kulit yang terdampak.
Dokternya, Dr. Thiago Marra, menjelaskan bahwa proses perbaikan tidak bisa dilakukan sekaligus.
"Saya akan bisa mengosongkan bagian ini sedikit demi sedikit, tapi tidak bisa sekaligus karena bisa menyebabkan nekrosis," ujar Dr. Thiago Marra yang menanganinya, seperti dikutip dari DailyMai.
Meski wajahnya belum pulih sepenuhnya, Oliveira justru memilih menjalani prosedur lain, yakni pemasangan implan payudara. Keputusan ini terkesan tergesa, seolah ia belum puas menunggu hasil perbaikan wajahnya dan sudah beralih ke operasi baru, meski tetap mendapat persetujuan dari dokter.
"Semuanya berkembang dengan sempurna, sesuai harapan. Luka sayatan terlihat baik, penyembuhan berjalan lancar, dan rasa percaya diri meningkat-itu yang paling penting," tulis Dr. Marra di media sosialnya.
Kasus yang dialami Oliveira bukanlah satu-satunya. Laporan dari otoritas kesehatan Amerika Serikat menyebutkan bahwa pada April 2024, terdapat 22 orang dari 11 negara bagian yang mengalami reaksi berbahaya setelah menerima suntikan Botox dari penyedia tidak berlisensi. Prosedur tersebut bahkan dilakukan di luar fasilitas medis, seperti di spa atau rumah pribadi.
(kik/kik)











































